...


Sabtu, 25 Desember 2010

Let's talk about MIKA

Mika? What's it? Actually, it's rude question. Oke, let's change it. Who's Mika?
He's the man that sing (Relax) Take it easy, Grace Kelly, Kick Ass soundtrack. No idea? Maybe, the people on Indonesia will remember the energy drink advertisement that showed the security was dancing in traffic jam. I'm pretty sure, the song is dancing around your head (everybody's gonna love today, gonna love today, gonna love today).

You've got one of his song! Yeah, I just wanna say that I'm being over super duper crazy with his taste of music, his style, his giggle. But, underline this, the one that I really care about is his work, not his pretty face. Although, i have no doubt that he is handsome. Anyway, I'm not a teenage girl fans that screaming a lot because of the cover of book. 

Why do I like his music? Everything needs a reason, for scientist. Suddenly, I feel so sad about scientist. Boring life, they can explain anything with their damn logic reason. Let me say, his voice is falsetto. And he's proud of it. By the time, I heard men singer harmonically. Phew, am I listening orchestra? And this man, Mika, he does the different way. I can't, and you too, follow his music rhyme and his voice. But, he absolutely extremely can sing. The chaos is harmonic with special way. He's Dionysious, not Apollonian. And Nietszche, the father of madness philosophy, love Dionysious.

Then, the lyrics are totally different with the music. The songs sound so happy, make you dance. But, try to stop your shaking feet for a while, watch out the lyrics. Ah, I promise, you'll shed the tears. He combines the cynicism with 'positive-think' way. Sounds so confuse with my interpretation? It's ok, that's life. Maybe, you'll get upset with the lyric because you don't understand the relation between intro and chorus. Hey, you don't write billion chapter books. The lyric is so simple, don't you wish you'll get the Shakespeare words, but hard to understand. But, you'll get the feeling. It's about feeling, dude. We do not need the logic.

He is really love about art, I think. He made and draw his cover albums with his sister. The albums showed the cartoon theme. Full of colors, so fun. I think, he never feel shy about 'children-life', some grown-up people pretend like the age. But, that kind of people is truly pathetic. Ignore what they like because of the world. And their life is becoming black or white. Some people may say the act is not 'wise thing'. They may say, life is not that easy. Hey, you think life is easy with the children? Don't use your 'grown-up' eyes to see children life. If life is that easy, like their said, why do the children cry a lot than adult?

End of the essay, this man is really out of the box. Not for sensation, but he is honest about his self. Any problem with that? 

Like I said, I'm not interesting to talk about his life. I do care about his work. In case if you need sources to gossip, you can open these links:

Selasa, 31 Agustus 2010

Terujung Fana

Untuk kamu yg berada di sana, terpisah dalam keadaan ruang dan waktu.

Aku hanya sanggup menguntai kata dan berharap menjadi makna yg mewujud di hadapanmu. Aku hanya sanggup menorehkan kisah yg terasa begitu nyata untukku. Kisah yg mungkin tdk pernah muncul di hidupmu. Dan aku hanya sanggup mengintipmu dalam dunia tak bermakna.

Aaah, kisah itu masih melekat di relung hati dan tersimpan baik di koridor pikiran. Ketika semua berawal dari tegur tak bermakna dlm dunia yg sama tak bermaknanya. Semua yg kita lakukan, menguap dan ttp tak bermakna. Tapi, aku di belahan tempat lain, menikmatinya. Menunggu semua ke-tak-bermaknaan yg kita mainkan. Mengasyikkan, menghanyutkan, dan..... Entahlah, bagiku semua perasaan yg muncul dr permainan yg melenguh ini tercantum dalam satu, ketiadaan

Bagiku, kau ini sangat indah. Terlalu sempurna untuk percikan kenyataan. Fana ini menyusuri rambutnya, begitu tak kuasa jemari ini menyentuhnya. Kejang jemari menahan gerakan. Tapi tetap aku telusuri menuju leher jenjangmu. Ah, lagi2 begitu sempurna. Ingin rasanya kedua lengan memeluk leher tersusupi rambut halusmu. Tapi, aku tau aku takkan mampu.

Ini fana, bahkan tidak mungkin nyata. Biarkanlah. Biarkan mata ini menikmati dirimu, dari sudut mata menyentuh kalbu berujung pada kebisuan

Kamis, 15 Juli 2010

Berlari

Kini aku berada di jalan, terdiam sendiri tertelan keadaan. Apakah ini jalan yang sama seperti kemarin? Entahlah, aku tiada menggeliat dalam diam. Bosan keadaan lalu berujung pada diri berlari. Menanggalkan diam dengan geliat bisu atau mencapai keramaian pada garis pengharapan, entahlah diri tetap tertelan.

Lalu lari, terus berlari, hingga bunga tiada sari. Kelelahan mengganti keadaan, tapi tetap saja tertelan. Aku boleh melepas penat sejenak, kan? Setelahnya, aku janji melanjutkan lari sendiri.

Aaaah, tapi tetap saja bosan yang meninggalkan kesan. Aku ingin dikejar lalu sejajar. Lalu menawarkan pelega sedalam telaga. Bergandengan, menguatkan jari untuk tetap mengayun. Lalu kita berlari, terus berlari. Menanggalkan entah apa atau demi mencapai garis? Aku sudah tidak perduli. Sepanjang jari bertaut menjalin, bersama....

Minggu, 13 Juni 2010

Saya Tiada dalam Hampa





Berada dalam pencarian tanpa tau apa yang dituju membuat diri kehilangan kendali atas jiwa, kosong menguasai dan menggantikan. Kebas dan helaan, kemudian, silih berganti. Menahan dan melepas sudah tak berarti. Ada yang hilang, memang, tapi kapan jiwa memiliki? Bukankah orang bijak pernah berkata, kau tidak akan pernah merasakan kehilangan jika kau tidak pernah memilikinya? Tapi, tidak demikian dengan manusia yang satu ini, Saya.

Ijinkan saya membuat prolog, walaupun nantinya akan membingungkan. Kenapa pemaknaan selalu berujung pada kata yang menghilangkan diri sebagai pemakna dengan maknaannya? Kenapa makna harus dituliskan dengan kata, bukan ditenggelamkan melalui diam yang menjadikan ekstase? Bukankah dengan demikian kita dapat berorgasme berulang kali karena kenikmatan tiada tara yang tak terungkap dalam lisan maupun tulisan?

Tapi, semua harus dimulai dari awal bukan? Walaupun belum ada akhir yang pasti, awal akan menjadi kisah dari sesuatu, bahkan dari diam yang melahirkan ekstase berujung orgasme. Bukankah dalam kisah selalu ada pemeran ? kali ini pemeran utama dalam kisah ini adalah saya. Lalu, biarkan kisah ini menjadi kisah saya yang tidak sempurna melalui kata. Selanjutnya, biarkan saya menyebut diri sebagai zombie.

Zombie ? hahaha, aneh sekali. Tapi tidak demikian dengan zombie ini, ia merasa tidak ada yang aneh dengan dirinya. Ia dengan angkuhnya menyebut dirinya manusia seutuhnya. Tidak salah memang, bukankah zombie itu manusia? Sayangnya, manusia yang tidak berkesadaran, kosong, berjalan tak tentu arah. Jika kau katakan demikian padanya, pasti akan ditolaknya mentah-mentah. Bahkan ia akan balik menyerangmu dengan kata-kata yang sedemikian dahsyatnya dan acap kali benar. Kata-kata yang seakan-akan ditanamkan dan diprogram pada diri dan otaknya. Sudahlah, lebih baik kau tidak berdebat dengannya. Bukankah dari awal sudah dikatakan bahwa ia tidak berkesadaran? Rasanya sia-sia jika kau berdebat dengannya. Ia yang bahkan tidak sadar bahwa kata-kata itu ditanamkan, ia yang bahkan tidak sadar siapa yang menanamkan.

Hingga, suatu ketika yang tidak tau kapan tepatnya, zombie ini terdiam. Tiba-tiba rasanya lelah untuk berkata-kata dan bertindak seperti biasa. Lalu, diam, hening, sepi, sunyi menyelimuti. Kosong. Ada kerinduan untuk mengisi kekosongan itu. Tapi, zombie tak tau seperti apa yang dapat mengisinya. Menakutkan, tidak ada hal yang dapat dilakukan. Bingung, kalut, berujung pada tangisan tanpa sebab. Ada apa ini Tuhan?

Tuhan? Satu kata yang sudah lama membeku dan tersimpan pada ujung hati dan pikiran yang tak terjamah. Hati? Hah, sudah lama rasanya tidak menggunakannya. Lalu, zombie membongkar ujung-tak-terjamah itu. Tuhan yang telah diberikan padanya bertanda pada agama tertentu. Ia mulai mencari Tuhan pada agama itu, tapi bukannya menenangkan malah membutakan. Rasa-rasanya Tuhan menjadi sesuatu yang jauh sekali pada label itu, kalau sebegitu jauhnya kenapa zombie merasa sangat kehilangan? Bukankah semakin jauh sesuatu semakin tipis keberadaannya dalam diri?

Ah, pasti agama yang membuatnya jauh. Baiklah, mulai saat itu zombie memiliki sendiri konsep akan Tuhan. Tapi, itu terasa kurang lengkap karena zombie baru ingin mengenalnya. Sama seperti kalau kau baru mengenal kekasihmu, yang benar-benar mengenalnya adalah keluarganya bukan ? jadi, kalau kau ingin mengenal Tuhan, setidaknya carilah agama yang benar-benar mendekati citra Tuhan dari konsepmu itu.

Zombie ini terus mencari. Hingga, ia merasa salah satu agama sangat dekat dengan konsep spiritualitasnya. Cukup tertarik, tapi hanya sebatas itu dan kekosongan masih melanda. Ada sesuatu yang terasa sangat menentang dalam agama yang satu ini, terlalu banyak Tuhan yang akan mengisi kekosongan ini. Baginya, itu akan menjadi air yang meluber pada wadah kosong dan pada akhirnya menenggelamkan wadah itu. Cuma itu yang dipermasalahkan, lainnya? Sudah sangat sesuai dengan ketenangan dan perasaan sublime akibat ekstase. Memang, zombie belum orgasme, tapi ia sudah berada di wilayah ekstase. Menyadari hal itu, ia masih mempelajari agama itu dan alam mendukungnya. Seketika itu juga, seakan-akan ada buku yang terlempar.

Buku tebal itu selesai dalam 2 hari 1 malam. Ada yang menyusup ketika mata lelah dan ingin menghentikan bacaan, semacam godaan. Jika kau percaya ada malaikat di kanan dan setan di kirimu, seperti itulah yang kurasakan. Kadang godaan menang dan menidurkan zombie, kemudian malaikat meniupkan kesadaran ketika mata terbuka dari tidurnya. Tak perlu lagi ada istilah nyawa belum terkumpul dari tidur. Dan selesailah sudah buku tersebut.

Hati berdegup kencang mengalirkan panas pada tubuh. Kulit meremang dan mata tergenang. Ada tangisan lagi saat itu, ada sepi saat itu, ada diam. Tapi kali ini, keadaan menjadi tenang, bukan bergolak dalam diam. Ada kesadaran yang mengisi relung jiwa, ketika egoisme akan air yang menenggelamkan wadah terbantahkan.

Kalian bisa membaca sendiri buku itu, karena pemahaman selalu berbeda. Kali ini pemahaman itu berujung pada makna bilangan. Agama yang sangat dekat dengan konsep zombie ini mengatakan bahwa 1=0, 0=1. Dulu, zombie memahami bahwa ini merupakan konsep alam pada agama itu. Dan ia setuju. Zombie selalu mengalami sublime ketika berhadapan dengan alam yang luas, perasaan yang tidak dapat dijelaskan sampai sekarang. Ketika perasaan itu muncul, manusia (1) menjadi tak bernilai (0) di hadapan alam, tetapi dari alam lah (0) manusia menjadi ada (1).

Kemudian buku ini memainkan konsep itu terhadap Tuhan bagi agama tersebut. rumusan itu buatan manusia yang menjadikan 0 selalu tidak memiliki arti. Kemudian 1 menjadi bilangan yang keliatannya angkuh, karena Cuma dengan 1 jugalah ia dapat dibagi. Sementara bilangan lain selalu dapat dibagi oleh 1. kemudian pemahaman ini menunjukkan Tuhan sebagai yang 1, yang berkuasa atas yang lainnya. Tuhan yang Esa menjadi terpisah dan jauh karena kekuasannya. Manusia terkadang lupa ada bilangan 0 yang dilupakan. Bahkan jika 0 dimasukkan dalam deretan bilangan (0,1,2,3,4,5,6,7,8,9), jumlah dalam deretan itu tidak sesuai dengan deretan terakhir. Inilah, kenapa 0 dibuang jauh setelah pemahamannya berujung pada kekeliruan. Dan konsep menjadi 1≠0, 0≠1.

Titik (●) yang selalu bermakna pada akhir menggambarkan 0, yang kemudian kita simpulkan karena bentuk mereka sama yaitu lingkaran. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah apakah dalam lingkaran ada akhir? Apakah ia memiliki ujung seperti layaknya 1? Tentu saja tidak, 1 memiliki ujung yang bisa bermakna pada awal dan akhir. Lalu, dapatkah Tuhan berakhir? Dapatkah 1 menjadi simbol Tuhan? Bukankah Tuhan lebih baik disimbolkan 0?

Baiklah, mari kita ganti Tuhan sebagai yang 0. Tuhan tetap terasa jauh, karena Ia tidak dapat dimasuki oleh ciptaannya. Ia tertutup. Konsep tetap menjadi 1≠0, 0≠1.  Belum 1=0, 0=1. Hanya saja, tambahannya menjadi 1=manusia, 0=Tuhan. Nah, dalam agama yang membuat zombie tertarik, ketika dikatakan bahwa manusia yang memiliki kesadaran akan Pencipta akan menyatu. Karena sebenarnya Ia dan kita menyatu dalam kesadaran murni manusia. Indah ya, ketika Ia benar-benar dekat, tidak jauh dan angkuh dengan segala ke-Ia-annya.

Masih inginkah kau menyimbolkan Tuhan dengan 1 ataupun 0? Ada baiknya jika kita membuat angka yang khusus buat Tuhan. Menurut zombie, bilangan itu menggabungkan 1(manusia) dengan 0(Tuhan). Jadinya, seperti ini:


(Maaf, gambarnya jelek. Saya tidak ahli dalam menggambar)

Hei, lihat tidak bagaimana bilangan ini tidak berakhir tapi memiliki awal. Bilangan ini terus membesar, becoming. Pemahaman selanjutnya adalah spiritualitas manusia selalu ‘menjadi’, tidak pernah selesai. Ada proses dalam spiritualitas itu yang menghubungkan manusia dengan alam agar mencapai Pencipta. Heidegger juga memakai konsep ini dalam penjelasan Das Sein. Bukankah keyakinan ini begitu indah?

Berawal dari buku, proses spiritualitas zombie akan berlangsung. Terima kasih, Bilangan Fu. Sang zombie tetap mempelajari spiritualitas itu. Terima kasih, Hindu


Minggu, 06 Juni 2010

Tidak ada Agama yang Sempurna

Hey, life!!
How are you?
Hm, sudah lama saya tidak menulis dan bermonolog dalam penderitaan tiada henti. As I know, saya tidak kreatif kalau tidak menderita. What a pathetic me! Haha, sudahlah. Rasanya tidak perlu mengkasiani (gimana sih tulisannya) diri sendiri. Life is always about how, never be what.


Oke life, let's start the monologue. Saya ingin mulai dari salah satu dialog film (ya, lagi-lagi berawal dari film) Angels and Demon. Ini merupakan film kedua yang diangkat dari novel Dan Brown setelah The Da Vinci Code. Kedua karya Brown ini masih berputar dalam ranah agama, history, and konspirasi. The Da Vinci Code memberi kesan 'penasaran' bagi saya. Benar gak ya Leonardo Da Vinci memberi tanda pada karya-karyanya yang erat berhubungan dengan agama Katolik? Sementara, Angels and Demon menghentak keraguan saya terhadap agama. Hentakan ini membuat saya malu sendiri. Saya malu terhadap logika pengagungan rasionalitas saya yang menyingkirkan agama.


Sebelumnya, saya sangat benci dengan agama. Akan tetapi, saya masih percaya pada Tuhan. I guarantee my faith. Kebencian saya dimulai saat agama mengatur sisi spiritualitas manusia. Bagi saya, spiritualitas manusia itu berbeda-beda, gak ada yang sama. Lha, ini agama malah mengatur dan mengerucutkan perbedaan itu. Saya Islam karena orangtua saya islam, kemudian agama mengatur bahwa seorang muslim harus seperti ini-itu untuk mencapai Allah. Nah, kalau tindakan saya di luar ini-itu, saya akan dikatakan tidak Islam. Jahat sekali agama yang seperti itu. Tindakan mereka sudah melampaui Tuhan sendiri, karena berani memutuskan sesuatu yang sama sekali bukan berdasarkan Tuhan. Bagi saya, agama semacam politik. And you know that I really hate politic. I never understand their dirty way to persuate people and to get power. Agama itu wujud lain dari politik, dan itu kotor. Hal ini dapat dilihat dari penafsiran wahyu Tuhan, yang sangat didominasi laki-laki dan menjadikan manusia tunduk pada pemerintah. Hell yeah, that's why I never believe in religious.


Masalah Tuhan bagi saya sangat private, tidak bisa disatukan dalam institusi. Oke, saya Islam. Tapi, cara saya bergulat dengan Tuhan tidak dapat dilihat dari rajinnya saya sholat 5 waktu atau tertutupnya tubuh saya. Spiritualitas saya terisi ketika saya berdiam diri, bercakap-cakap dengan Tuhan layaknya sahabat, ketika saya minum dan mabuk, ketika saya melakukan hal lain yang dikatakan maksiat oleh agama. Bagi saya Tuhan yang seperti itu sangat dekat dengan hambanya, bukan sesuatu yang arogan nan jauh di awang-awang. Ketika saya berdiam diri, saya akan menangis sendiri tanpa sebab. Kesendirian saya ditemani oleh-Nya dalam meresapi sesuatu yang saya sendiri tidak tau, tapi saya lega karena Tuhan memahami. Ketika saya bercakap layaknya sahabat, saya bebas menghujat Dia secara tidak langsung karena ketidakpuasan diri terhadap hidup. Ketika saya minum dan kemudian mabuk, saya bisa percaya pada-Nya bahwa Ia akan menjaga saya di dalam ketidak-sadaran diri. Ketika hal maksiat saya lakukan, saya semakin mengagumi-Nya karena tubuh dan jiwa yang diciptakan dan berfungsi dengan baik.


Lalu, apakah saya masih Islam? Kalau saya lemparkan tulisan ini pada pemuka agama, maka jawaban mereka pasti: Kamu dilaknat, kafir, murtad, dan bla..bla.. I don't care. Kalau saya percaya percakapan mereka, berarti saya membuat jarak dengan Tuhan saya melalui mereka. Makanya saya tidak percaya pada institusi agama. Terlebih lagi, agama itu hasil kebudayaan. Jika agama semuanya sama, baik agama Islam di Arab, Amerika, dan Indonesia seharusnya sama. Atau ekstrimnya, tidak ada perbedaan agama.Tidak ada yang namanya perang antar-agama bukan?


Saya mungkin salah satu penghujat agama yang paling keras, sampai sang pastur dalam film tersebut mengatakan:

Tidak ada agama yang sempurna. Sama halnya dengan ketidaksempurnaan manusia

Ya Tuhan, saya menghujat agama karena mereka tidak mampu mewakilkan saya dalam spiritualitas. Memang, agama itu hasil budaya yang berarti buatan manusia. Jika manusia saja tidak ada yang sempurna, apalagi dengan hasil buatan manusia itu. Pasti jauh dari sempurna. Lalu, hujatan saya terhadap agama sebenarnya hujatan saya terhadap diri sendiri yang merasa kecewa dengan ketidaksempurnaan saya. Hujatan saya bertubi-tubi karena saya mengharapkan sesuatu yang lebih dari agama, dan harapan itu tidak terpenuhi. Sampai kapan pun agama tidak akan sempurna. Lalu, apa yang sebenarnya saya hujat? Buat apa saya menghujat agama, kalau saya tidak bersedia ikut dalam agama tersebut?

Jika, anda bertanya apa agama saya, saya akan menjawab sebenarnya bahwa agama saya Islam. Spiritualitas saya mungkin tidak islami, tetapi saya beragama Islam dengan cara saya sendiri. Akan indah sekali beragama jika berdasarkan kesadaran akan spiritualitas. Tidak akan ada lagi otoritas dalam agama yang berujung pada politik.

*Anyway, saya sedang tertarik dengan agama Hindu. Entah kenapa rasanya spiritualitas saya lebih dekat dengan Hindu. Saya sangat berterima kasih sekali jika teman-teman mengajarkan saya tentang Hindu. Namaste*

Senin, 17 Mei 2010

Philosophy is only knowing about, not feeling about...

Saya apatis dan pesimis dengan filsafat. Kesadaran ini berawal dari film Cast Away, film yang lagi-lagi ditawarkan oleh dosen filsafat. Beliau hanya sekali menyebutkan film ini, berbeda dengan film lainnya yang berkali-kali disebutkan. Anyway, sepertinya saya mengaminkan dialog salah satu film bagus Indonesia cin(t)a : our philosophy generation is generation of film. Bagi saya memahami filsafat dan kehidupan lebih mudah melalui film, bukan dari buku-buku berbahasa tinggi nan aneh yang pada akhirnya ingin mengatakan sesuatu yang simpel. 

Back to the theme, Cast Away film. Lima belas menit (atau lebih ya?) pertama memang membosankan bagi saya. Dibuka oleh orang-orang yang terlalu banyak dialog, terlalu banyak berpindah tempat, dan terlalu banyak iklan fedex di setiap adegan. Beuh, ini film atau promosi fedex ya? Terlalu khas Hollywood, ingat kan saya tidak terlalu suka permainan visual Hollywood? Lima belas kemudian, saya menahan napas, merasa tidak bergunanya filsafat dan filsuf yang paling diagungkan pada masa sekarang. Saya mulai berpikir dan kehilangan respek terhadap Nietzsche, sang filsuf yang dikatakan sangat hebat. Nietzsche selalu menyuarakan nihilisme sebagai salah satu cara mencapai Ubermensch (Superman). Kita harus menghilangkan nilai-nilai yang membentuk dan dibentuk masyarakat. Nilai-nilai tersebut hanya membuat manusia bodoh dan tidak berdaya. Kenapa demikian? Nietzsche hidup di masa kekecewaan terhadap agama dan teknologi yang malah meniadakan manusia. Agama hanya membuat manusia menjadi penakut dan sosok Tuhan menjadi sangat kejam. Tuhan benar-benar sudah seperti keegoisan dewa pada Masa Yunani Kuno, masih saja iri dan meletakkan serta membuat takdir seenaknya terhadap pahlawan pada masa itu. Tujuannya tak lain, agar para dewa tidak tertandingi kehebatan dan kesempurnaannya. Menyadari hal itu Nietzsche menyerukan bahwa "Tuhan telah Mati". Teknologi, ilmu pengetahuan juga merupakan bentuk Tuhan lainnya yang harus dimatikan.

Ketika semua telah mati, hidup pun menjadi ketiadaan nilai. Pernah gak kalian menyadari bahwa hidup kalian, moral kalian bukan karena kesadaran sendiri? Sebenarnya yang ada hanya moralitas palsu. Maka manusia tidak ada bedanya dengan zpmbie atau robot. Wah, hebat sekali sang filsuf satu ini. Tapi, tunggu sampai ia melihat film ini. Manusia yang awalnya berlomba dengan waktu, pada akhirnya waktu kehilangan makna. Pada awalnya manusia berdialog penuh basa-basi hingga akhirnya manusia berdialog dengan ciptaannya sendiri untuk menemani kesengsaraan. Lebih lanjutnya, kalian bisa menonton film nya. Apa yang ingin saya sampaikan adalah, hey bahkan di suatu tempat yang antah berantah dan tiada nilai, hidup lebih menyedihkan. Bukan malah menjadi lebih hebat.Lihat, bagaimana orang yang sudah terbiasa dengan kerumunan tiba-tiba dikelilingi oleh diri sendiri. Getting weird, right?  Nietzsche, bahkan anda sendiri tidak pernah melarikan diri ke suatu tempat yang unknown-where, dan nihilisme.Bahkan anda samapai mati selalu mencari teman, kan? Itulah filsafat, kami memang terlihat sangat bijaksana. Tapi, tunggu sampai kami benar-benar dalam masalah, yang menurut teori kami sendiri seharusnya dapat diselesaikan secara mudah dan bijak, kami tidak lain hanya seorang pembual.

Filsafat bermain pada ranah konsep yang berdasarkan keadaan masa lalu dan masa sekarang. Bukan konsep untuk masa depan. Bahkan konsep tidak akan berguna dalam kehidupan sesungguhnya. Jika kita berada pada film Cast Away, apakah konsep siapa manusia, apa itu hidup, apa guna ini-itu akan bermanfaat? Absolutely not. Pernahkah filsafat mengajarkan hidup yang tidak harus berkonsep-ria? Secara keseluruhan, mungkin kami bijaksana dalam berpikir, tapi dalam bertindak belum tentu. Saya belajar sampai mengerutkan kening dalam membaca buku-buku sakti yang briliant, tapi ketika dihantam dengan satu film berdurasi dua jam. Hilang sudah kekaguman saya filsafat. Karena pengetahuan kami berdasarkan pada masa sekarang dan dulu. Filsafat tidaklah sebijaksana itu, kawan.

Maaf, Nietszche kamu hanya berteori. Kamu tidak lain hanya sebagai BIG FAT LIAR. Hidup ini benar-benar absurd.

Jumat, 30 April 2010

Kepada Sang Tuan

Kepada Tuan yang selalu saya sembah dalam hati......

Tuan, malam ini saya sangat merindukan anda. Saya memanggil ingatan yang telah saya tepikan dan saya simpan di ujung keterbatasan. Entahlah Tuan, saya menjadi hina dan terpuruk dalam keterbatasan hamba. Saya kembali ingin melayani anda. Bukan berarti selama ini saya lari tugas saya sebagai hamba, Tuan. Hanya saja, saya merindukan masa ketika sang nyonya belum hadir menguasai rumah Tuan. Ketika itu, walaupun saya menyadari bahwa saya hamba, Tuan membuat hubungan kita tidak selayaknya majikan-sahaya. Tapi, kita masih sadar akan status itu. Hanya saja hubungan kita sedikit menyenangkan, dulu...

Tuan, saya ingat ketika tiap malam kita berbincang apa saja. Ya, karena saat itu hanya kita berdua yang tinggal di rumah itu. Tuan bercerita apa saja, saya mendengarkan. Saya tidak akan berkomentar sebelum Tuan yang meminta, karena saya sadar saya hanya sahaya, tidak boleh lancang. Tapi, saya senang Tuan. Itu berarti Tuan percaya pada saya, pada sahaya yang derajatnya hina, Tuan. Sampai sekarang saya ingat semua cerita Tuan, bahkan tiap tarikan napas yang menjadi jeda dalam bercerita, saya ingat. Tuan terus bercerita, apa saja, tidak menghiraukan saya yang telah lelah bekerja. Tapi biarlah, toh ini juga bagian dari pekerjaan saya. Dan ini merupakan pekerjaan yang paling saya sukai, Tuan. Sampai saat Tuan bercerita tentang seseorang yang nantinya menjadi nyonya..


Saya tetap mendengarkan, Tuan. Walaupun hamba ini menjadi hina dan tersudut oleh diri sendiri, ini lebih menyakitkan, Tuan. Bahkan, dengan cerita Tuan yang kali ini saya menjadi cerewet. Saya langsung memotong cerita Tuan dengan saran. Saya mendorong Tuan untuk meminang sang nyonya. Walaupun saya tau nanti saya tersingkir, biarlah. Tugas saya sebagai hamba hanya melayani Tuannya agar selalu senang, dan dengan saran ini saya yakin Tuan akan senang. Lalu, Tuan tersenyum dengan saran saya yang lancang. Dan nyonya memasuki rumah serta hidup Tuan. Ini waktunya saya pergi dalam ketelanjangan seorang hamba yang merobek kainnya sendiri.


Waktu memang berlalu Tuan, dan anda masih dengan sang nyonya. Sementara saya, berhenti menjadi hamba dan menemukan beberapa pemuas nafsu seorang hamba. Tapi, tetap saja, nafsu terus menggebu karena imajinasi bertahtakan Tuan seorang. Memang, memang saya terbiasa bahkan sedikit menepikan Tuan karena hasutan hamba-hamba lain yang tidak senang dengan perbedaan. Ini bukan perjuangan kelas ala proletar bagi saya Tuan. Perjuangan itu hanya untuk yang tertindas, bukan kepada Tuan yang saya hormati dan saya layani. Tapi tetap saja perjuangan terus berujung pada kemenangan. Dan saya bukan seorang hamba lagi. Bagi saya, Tuan tetap menjadi Tuan. Perjuangan mereka tidak berarti apa-apa bagi saya. Mereka hanya berteriak pada Tuan mereka, bukan pada Tuan saya yang baik.


Hidup saya kosong Tuan, kemudian saya berpura-pura mengisinya. Sampai saya terbiasa, benar-benar terbiasa. Dan kembali kita berjumpa Tuan. Dan keadaan menjadi berubah, Tuan enggan bercerita lagi. Dan saya menjauh, karena saya bukan hamba lagi. Tapi saya ingin menjadi hamba lagi untuk berdekatan tanpa akhir yang janggal Tuan. Saya tidak suka dengan kejanggalan ini, bahkan sepertinya Tuan juga ingin bercerita. Tapi, mulut terpaksa membisu. Para pejuang kelas memandang sinis Tuan ketika kita ingin berbicara, dan nyonya mengambil waktu Tuan. Kadang saya berpikir, keadaan ini menjijikkan dan kejam, Tuan.


Pada akhirnya, kita memang berbincang Tuan. Tapi perbincangan ini tidak sehangat dulu. Ketika Tuan bercerita dan saya mendengar, sampai kemudian Tuan tertidur lelah dengan luapan. Pemandangan indah bagi saya, seketika lelah saya hilang. Sayangnya, itu dulu, Tuan. Dan malam ini, saya benar-benar merindukan sosok Tuan dalam kehambaan saya.