Rabu, 03 Desember 2014

Finding A Voice

When I was on boat, back from Wat Arun Pier, there was contemporary public art space. The Tourism Authority of Thailand (TAT) is inviting local and international tourists to experience Bangkok’s newest and innovative public art space ‘The Ferry Gallery’ that displays inspiring contemporary arts while cruising along the majestic Chao Phraya River.

At that time, there was "Finding A Voice". I just watched it few minutes because my guide (oh, hello Mr.Anwan. Next time please be more informative) had tight schedule. But it's enough to made me ask about "is the voice that you speak same with the voice you don't speak?". Pardon me for confusing you. Blame it on my philosophy education.

Luckily, I captured the explanation. I wish I got the full video

Sorry for the blurry pic. Here the text if you want to read it :

Finding a Voice exhibition explores the idea of the transformation and disruption of an identity. It questions a physical and psychological gap and conflict between the mind and body in order to grow into another self. The exhibition presents video works by Australian artist Nina Ross titled “Finding a Voice (2012)” and “The Foreignness of Languages (2011)” as well as video work “Gaza Zoo/Bath Time (2012)” by Palestinian video artist, Sharif Waked.

Finding a Voice (2012) draws on Ross’ experiences of learning a second language. There was a momentary pause, a gap between the mind and body which made Ross question herself before speaking. This disconnection was physical and psychological. Her practice examines the body as the living container of actions, thoughts and desires which actualize themselves into words in our throat through the articulation of sound (which causes the voice folds to produce vibrations). This video explores such experiences on the body as a metaphor for the repercussions on one’s sense of self; playing on the process of trying to own a foreign language.

The Foreignness of Language (2011) draws on Nina’s experience of learning Norwegian to explore how second language acquisition influences and disrupts identity. The process of learning a second tongue involves adapting and adjusting to knowing and not knowing oneself in an unfamiliar language. The foreignness of language investigates the duality of having two languages sitting inside oneself and as a result having one’s identity in a constant state of flux. The video examines the tension of being caught between two languages represented by the experiences on the body as a metaphor for the repercussions on a sense of self.

Gaza Zoo/Bath Time (2012) is a video work of a donkey transformed into a zebra in Gaza. The cross-dressing of the species variety took place at the hands of an entrepreneur  whose zoo was badly damaged in the Israeli incursion earlier that year in order to draw the crowds back. In the video “Bath Time” a donkey takes a good shower after a long day saturated with the spectator’s gaze and laughter at the Gaza Zoo. Gaza Zoo explores the industry of amusement. It ponders the politics and aesthetics of role-play and performance, the penal colony and the wild; the make-up artist and his muse; and the original and its copy.

Kamis, 27 November 2014

Feeling Safe

Kata mereka, perasaan nyaman muncul ketika kita bersama dengan orang yang sangat mengenal dan memahami kita. Kata mereka, orang yang memahami kita merupakan orang yang menghargai kita. Kata mereka, orang yang menghargai kita tidak akan membuat kita terluka dan terasing. Itu kata mereka. Bukan kata saya.

Ada hal yang sangat saya benci dalam memulai suatu hubungan. Hubungan yang saya maksud bukan hanya sekedar pacaran atau persahabatan. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan yang mengikutsertakan ikatan emosional. Ketika memulai suatu hubungan, tak jarang terjadi pencampur-adukkan suatu hubungan dengan yang lainnya.

Contohnya, saya berhubungan dengan laki-laki yang secara sengaja maupun tidak sengaja akan ikut serta dalam hubungan-hubungan lain. Laki-laki ini bisa saja meminta saya untuk menemaninya ke suatu acara. It means, acara tersebut adalah hubungan (relasi) dia yang berada di luar saya. Why on earth I should accompany him?

Contoh lainnya, saya (dulu) memiliki teman sekolah yang kemana-mana atau apapun harus melakukannya secara bersama-sama. Karena terlalu bersama, maka teman mantan pacarnya harus diketahui juga.

Karena pencampur-adukkan hubungan inilah, saya merasa tidak nyaman dengan orang yang saya kenal. Coba bayangkan, saya berteman dengan A yang mengetahui latar belakang saya berhubungan dengan si C, D, bahkan Z. Ketika bertemu dengan A, saya tidak bisa lagi bercerita dengan nyaman tentang hal-hal yang membuat kita menjalin hubungan. Saya merasa tidak nyaman ketika orang-orang yang berhubungan dengan saya melihat saya dengan latar-belakang yang sudah mereka ketahui.

Pernah ada satu kejadian yang membuat saya menjadi tidak nyaman dengan orang yang saya kenal. Jadi suatu hari saya bertemu dengan A, teman yang sudah lama tidak berjumpa. Pertemuan, yang menurut saya menjadi menyenangkan karena bisa bernostalgia ataupun membuat nostalgia, tiba-tiba menjadi awkward ketika dia menanyakan pacar saya. Saya jelas bingung, darimana A yang bertahun-tahun tidak bertemu dengan saya mengetahui pacar saya pada saat itu. Cerita punya cerita, pacar saya dan teman mantan pacar A merupakan roomate semasa kuliah di luar negeri. Bukan, ini bukan tentang sempitnya dunia. Ini tentang kenapa mereka berusaha mengatakan kepada saya, "gw kenal dengan relasi lo yang lain".

Masalahnya adalah memangnya kenapa kalau mereka saling mengenal tanpa menyampaikan hal tersebut pada saya, seakan-akan saya harus mengetahuinya? Bukankah A dapat menghakimi saya hanya melihat gaya pacaran saya? Saya pernah dihakimi memiliki sugar daddy hanya karena berhubungan dengan pria yang umurnya jauh di atas saya. Yang ada sampai sekarang, saya kadang dianggap "nakal" oleh mereka yang menghakimi. Padahal mereka tidak mengetahui bahwa pria ini single (memutuskan tidak ingin menikah) dan menghormati saya sebagai perempuan. Menyedihkan juga sih ketika mengetahui orang-orang yang kenal malah menyakiti karena terlalu ingin mengenal.

Pada akhirnya saya merasa nyaman berhubungan dengan mereka yang tidak melihat latar-belakang saya dan berusaha untuk tidak mencampur-adukkan hubungan-hubungan yang ada. Saya lebih nyaman dan bebas di sekeliling orang-orang asing yang tidak memperdulikan siapa saya. Saya lebih memaklumi jika orang-orang asing ini menyakiti saya karena saya tau mereka tidak mengenal saya. Karena aneh rasanya ketika orang-orang yang merasa kenal malah menyakiti

Senin, 21 April 2014

Love Letter

Do you ever get a love letter in this super high tech era? I mean, someone write you a letter with his bare hands. With pen. Write, not type.

And do you ever get the letter with the sender popped up in front of you? Someone puts the letter in your pocket secretly?

Well, It happened to me 3 years ago. This guy wrote it with, let me say, cheesy words. At that time, I was so ashamed after read it. But, when I reread it today, I feel so melancholic. The words are still the same. But feeling has been changing. I feel so special in this fuckin high tech era.

To this guy, thank you for making me so special. But still, I have a same feeling like 3 years ago. As a friend. I appreciate all the things you have done to me (hey, I keep the fd, letter, and silly words that you wrote in my college book. Just like I keep my friends's "trace" there).

Thank you....

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.