...

Rabu, 30 Desember 2009

Saya menyatu dengan pantai

aPutih, lembut, berbisik, kemudian berderu
Biru, menyapa, menyelimuti, kemudian mengarahkan
Saya, diam, menghayati, dan tak kuasa

Berbaring di kelembutannya
Menyatu dalam keramahannya
Dan mulut terdiam, hanya rasa berbicara

Saya, diam, ingin mati
Dia, putih, dan menemani
Lalu, dia, biru, dan memahami

Menari, bersembunyi, muncul tiada henti
Mengajak untuk serta
Tapi diri tetap mengagumi

Ini, saya kembali diam
Bersama putih, biru
Dan tak kuasa

Minggu, 06 Desember 2009

Siren, the cruel of beauty

Saya sedang tergila-gila dengan salah satu tokoh mitologi Yunani, Siren. Tokoh yang satu ini mungkin tidak setenar Zeus, Hercules, Hera, ataupun lainnya. Bahkan nama Siren, sejauh ini, tidak pernah diangkat dalam pembahasan filosofis layaknya Sisyphus yang diangkat oleh eksistensialisme absurd Albert Camus.

Siren, bagi saya sangat mewakilkan para perempuan. Pribadi perempuan, menurut saya, haruslah seperti Siren. Kesadisan yang diliputi oleh keanggunan. Keindahan yang bersanding dengan kemisteriusan, yang membuat orang lain terlena, dan tertipu. Ada baiknya kalau saya menceritakan mitologi Siren terlebih dahulu.

Siren merupakan makhluk mitologi Yunani yang hidup di lautan luas. Bangsa Siren memiliki kelebihan, yaitu suara yang luar biasa merdu yang membuat para pelaut terbuai dengan kemerduannya. Mereka mencari asal suara merdu itu dan kemudian kapal mereka akan tenggelam karena terbentur dengan karang, tempat dimana para siren menyanyi.

Salah satu pertemuan dengan Siren diceritakan dalam Odyssei. Suatu ketika, saat Odysseus harus melewati pantai berkarang yang dihuni oleh para Siren, ia menyuruh seluruh awak kapalnya untuk menyumbat telinga mereka dengan lilin agar tidak mendengar suara para Sirenyang menghanyutkan hati. Ia sendiri ingin agar dirinya diikat pada tiang dengan tidak menyumbat telinga karena penasaran seperti apa nyanyian para Siren tersebut. Ketika ia mendengar suara merdu para Siren, ia memberontak dan menyuruh awak kapalnya agar melepaskan taliyang mengikat dirinya di tiang kapal. Para awak kapalnya menolak. Ketika kapal mereka sudah jauh dari Siren, Odysseus berhenti memberontak dan menjadi tenang, setelah itu dibebaskan. (Odyssei XII, 39).

Kisah pertemuan dengan para Siren juga diceritakan dalam petualangan Jason, Argonautica. Chiron memperingatkan Jason bahwa Orpheus kelak akan sangat berguna dalam perjalanannya. Ketika Jason dan kapalnya melewati pantai berkarangyang menjadi habitat para Siren, Orpheus mendengar suara mereka yang merdu. Lalu ia memainkan harpa dengan nyanyian yang lebih merdu daripada nyanyian para Siren. Karena merasa kalah, para Siren menceburkan diri ke laut. Akan tetapi, sumber lain mengatakan bahwa Orpheus diselamatkan oleh Aphrodite.

Beberapa sumber mengatakan bahwa jumlah Siren hanya dua atau tiga. Sampai sekarang jumlahnya tidak dikatakan secara jelas. Akan tetapi, kesimpulan yang dapat kita tarik adalah Siren bukanlah suatu bangsa, layaknya putri duyung. Mereka merupakan anak dari Achelous, the God of River.

Sampai sekarang, tidak ada yang tahu lirik yang dinyanyikan oleh Siren itu apa dan bagaimana sehingga membuai para pelaut. Satu hal yang kita tau adalah apabila kita mendengarkan liriknya, maka kematianlah yang menyambut sang pendengar.

Misterius dan sadis, memang gambaran bagi Siren. Itu juga yang merupakan kekaguman saya terhadap mereka. Walaupun mereka terkenal dengan kesadisan, mereka juga menjadi simbol bagi keindahan seni. Mereka menjadi simbol bagi keindahan perempuan. Mereka menjai simbol kehidupan.

Hidup selalu memaksa kita untuk menghadapi dengan senyuman.Kita mengetahui bahwa hidup tidak akan pernah indah. Keindahan hanya kita yang menampilkan, bahkan ketika menetahui dibalik keindahan itu adalah suatu kepahitan. Ya, hidup sudah selayaknya Siren. The cruel of beauty.

Saya mengagumi Siren, yang berusaha menyadarkan orang lain akan kemunafikan dari keindahan dan hidup

Waterhouse, John William


Sumber lainnya:
http://www.thanasis.com/sirens.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Siren

Sabtu, 28 November 2009

Dengarkan saja

Mari kita mulai cerita ini, cukup kalian dengarkan saja
Karena saya mengerti, kalian tidak akan pernah merasakan sama seperti saya.
Seperti juga saya terhadap kalian.
Sudahlah, mari kita mulai saja cerita saya ini.

Sungguh, saya tidak tahu harus memulai darimana.
Karena semua cerita saya ini hanya isyarat. Dan isyarat ini hanya untuk saya dan bagi saya.
Sungguh, saya takut kalau ia menangkap isyarat ini. Saya takut ia menangkap asa ini, lalu berlalu dengan asa yang terpendam.

Cukup, cukup saya saja yang merasakan isyarat ini.
Cukup, cukup saya saja yang merasakan asa ini.
Saya tidak ingin ia tahu, saya tidak ingin ia merasa.
Biar, biar saya saja yang sakit atas isyarat dan asa ini.
Biar saja saya sakit, ketika isyarat ini terhimpit oleh asa yang sakit.
Karena saya terlalu takut akan kekecewaan,
Karena saya terlalu takut akan penolakan.

Saya tidak berani menyampaikan asa. Saya tidak beran menyampaikan rasa.
Cukup bagi saya untuk melihat sang asa.
Tanpa diketahui, tanpa dirasakan.
Saya sakit ketika melihat ia dengan asa lainnya, saya pedih.
Saya ingin berteriak

Hei, sang asa, tahu kah kau ada saya yang mengharapkan asamu, ada saya
yang sakit akan asa?

Tapi, saya tak berani berkata bahkan berteriak

Andai saja isyarat ini cukup membuat asa sadar.
Tunggu, saya tak ingin sang asa sadar akan isyarat.
Saya hanya ingin sang asa tersimpan indah dalam ingatan.
Biarlah saya bercinta dengan ingatan akan sang asa.
Biarlah saya menimpan dan merekat sang asa,
dalam rasa, pikiran, dan asa sedih ini.
Cukup bagi saya........

Selasa, 17 November 2009

What a (love) Life!

Di tengah himpitan tugas dan UTS yang datang bertubi-tubi, saya menyempatkan menonton dvd (lagi). Film kali ini merupakan salah satu film yang direkomendasikan oleh dosen saya, jenis film Eropa. Film, yang menurutnya, lebih berkualitas daripada film-film Hollywood. Maka, saya pun latah menonton film Eropa yang berjudul L’Appartement. Setelah menyelesaikan film ini, saya Cuma bisa berkata “What a Life!”.

Ceritanya bersetting di Paris, dan tentu saja bertema cinta-cintaan. Tapi, tunggu dulu, tema cinta-cintaan kali ini tidak seperti tema cintaan alaHollywood, yang pada akhirnya jatuh pada kategori drama cengeng kacangan. Mungkin, dengan latar belakang Paris, tema cinta kali ini lebih menarik. Alasannya tentu saja dengan adanya prejudice kita,atau saya, yang menganggap Paris itu romantis. Didukung pula dengan pemeran yang membuat saya ‘meleleh’. Apakah film ini Cuma bermain di visual untuk dijual? Menurut saya tidak, tidak ada efek visual yang berlebihan di sini. Paris memang digambarkan dengan romantis, mungkin kalau di Asia kita bisa mengambil drama korea sebagai perbandingan suasana romantisnya.

Back to the theme, kenapa saya sampai mengucapkan What a life setelah menontonnya? Baiknya saya menceritakan ringkasan filmnya dulu. Film ini menceritakan tentang kisah cinta Lisa dan Max yang mendapatkan banyak rintangan yang disebabkan oleh teman Lisa, Alice. Ia cemburu dengan kedekatan Lisa dan Max, karena dia (mungkin) menyukai Max. Ada salah satu ucapannya yang sangat membuat saya tertohok, “Ketika kamu mencintai seseorang, kamu tidak tahu ada yang sakit melihatnya”. Well, saya yang pada awalnya menyalahkan Alice, karena membohongi dua orang yang saling mencintai hingga akhirnya pisah, mau tidak mau berpihak pada Alice. Mungkin karena saya juga pernah berada di posisi yang sakit itu. Akan tetapi, sikap saya hanya tertawa ketika sakit. Ya tentu saja untuk menutupi sakit yang saya rasakan.

Alice yang tidak mau sakit dan menyerah ini melakukan satu kebohongan yang diikuti dengan kebohongan lainnya demi mendapatkan Max.  Apa salahnya? Tentu saja, menurut saya, itu tidak akan pernah salah. Jika saya memilki keberanian seperti Alice saya pun akan berusaha melakukan hal-hal tersebut. ekstremnya, saya tidak akan memandang apakah lawan saya itu teman saya. Pada titik ini saya kembali merenungkan, apa makna cinta sebenarnya? Apakah memang harus diperjuangkan dengan semua cara atau menyerah dengan keadaan, tidak terlalu memaksa yang pada akhirnya pemaksaan itu saya anggap sebagai nafsu? Aah, sepertinya saya perlu merenungkan kembali cinta seperti apa yang saya harapkan dan inginkan.

Lalu, pada akhirnya, Alice mendapatkan cinta Max. Lisa yang juga berusaha mencari Max, karena mereka berpisah sekian tahun, pada akhirnya tidak menemukan Max. Ia malah tewas karena cinta lainnya (What a Life!). padahal, selalu ada adegan-adegan selisih jalan ala India yang membuat saya gemas, kenapa mereka tidak pernah ketemu lagi padahal sudah sedemikian dekatnya. Kembali ke Alice dan Max, apakah mereka bersatu? Akhir cerita, mereka tidak bersatu karena tunangan Max yang menghampiri, tepat sedetik sebelum mereka bersatu. Alice hanya bisa memandang dengan ekspresi yang tidak dapat saya deskripsikan melalui kata, hanya bisa dirasakan.

Akhirnya, saya sampai pada perenungan-perenungan yang membuat saya memantapkan bahwa kehidupan itu sangat menyakitkan. Apakah kita harus berjuang demi sesuatu yang kita harapkan? Atau apakah kita harus diam saja, tidak terlalu ngotot? Ketika semuanya tercapai, apakah itu yang kita harapkan sebenarnya? Ketika semuanya tidak seperti yang kita harapkan, apa yang dapat kita perbuat? Apakah kehidupan yang akan datang selalu sesuai dengan apa yang kita perjuangkan? Bukankan ada ppatah yang mengatakan apa yang kita tanam itulah yang kita tuai? Apakah memang demikian adanya? Aaah, sungguh hidup ini membingungkan. Satu film membuat kehidupan ini saya pertanyakan lagi. Benar-benar saya hanya dapat mengatakan WHAT A LIFE!

Jumat, 30 Oktober 2009

Ini hanya goresan (ku)

Ini saja yang dapat ku lakukan
melalui goresan yang sarat makna, bagiku
Ini saja yang dapat ku sampaikan
melalui bungkamnya bibir, hanya rasa

Goresan ini sudah ku mulai
tanpa isyarat berarti, bagimu
Tapi sudahlah, ini hanya goresan isyarat
cuma ini saja, tidak lebih

Lalu, tetap akan ku goreskan
Karena kau juga tergores dalam
terukir, terpahat, terbuai asa
Di hati ini

Sabtu, 17 Oktober 2009

Bintang (adalah) Masokis

Saya selalu mengatakan bahwa hidup ini merupakan penderitaan, dan saya menikmati itu. Makanya, saya selalu memandang sesuatu adalah penderitaan, dan teman-teman saya mengetahui hal itu. Entah mengapa, mereka memberikan label bahwa saya sangat pesimis. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang salah paham. Mereka menganggap bahwa saya sedemikian putus asanya terhadap penderitaan, hingga saya terobsesi dengan kematian. Oh iya, selain selalu mengatakan bahwa kehidupan ini merupakan penderitaan, saya juga mengatakan bahwa hanya dengan kematian lah kita dapat terbebas dari penderitaan ini.

Back to theme, dan kesalah pahaman teman-teman saya, mereka menganggap saya terobsesi dengan BUNUH DIRI. Salah paham ini semakin menjadi, setelah saya mengambil tema, untuk tugas, tentang bunuh diri dan etika. Nah, man, saya tidak sepesimis itu dalam penderitaan saya. Penderitaan ini sangat saya nikmati, kok. Kalau saya bunuh diri, well, saya tidak akan menderita lagi. Dan itu artinya juga, saya kehilangan nikmat saya. Saya tidak mau itu.

Kenapa saya senang dengan penderitaan? Atau saya cuma pura-pura senang saja padahal saya tersiksa? Hmm, susah juga untuk menjelaskannya. Saya akan mulai dari masalah yang dihadapin manusia. Pastilah, yang namanya manusia tidak lepas dari masalah. Selalu ada masalah. Karena kita ini, meminjam kata Heidegger, terlempar begitu saja dalam ruang dan waktu. Dan parahnya lagi, kita harus mengikuti semua itu, aturan2 yang bukan kita buat. Kita harus berinteraksi dengan semua orang, yang pikirannya tidak sama dengan kita. Selalu saja terbentur dengan ini-itu. Selalu saja ada power yang lebih dari kita, dan kita terhalang oleh power itu. Kita sangat terbatas dengan keadaan, dan kita menyadari itu. Ilmu pengetahuan dan kemajuan lainnya hanya untuk 'menyemangati' diri atas segala keterbatasan ini. Lalu, kita menjadi terbiasa dengan penderitaan dan keterbatasan ini. Terlalu terbiasanya, sampai kita lupa bahwa kita memiliki penderitaan itu. Kita terlupa bahwa kita manusia, dan terlupa akan sakit ini. Lalu, pada akhirnya kita terlupa bahwa hakikat hidup ini adalah penderitaan.

Coba, ingat-ingat kembali, berapa perbandingan kesenangan dan kesedihan kita? Apakah kita benar-benar senang pada waktu rasa senang itu? Atau, jangan-jangan, kesadaran akan hakikat itu sudah sedemikian menumpulnya hingga kita tidak tau kesenangan itu apa dan kesedihan serta penderitaan itu apa? Segala macam yang diciptakan, hanya untuk menggembirakan kita saja, bukan? Itu artinya, kita perlu ada yang membahagiakan hidup yang menderita ini. Kita menciptakan segala sesuatu untuk mencapai kepastian, nah, berarti hidup itu sendiri tidak pasti

Lalu, kenapa saya-kali ini saya menempatkan persepsi saya- senang akan penderitaan ini? Kenapa saya menikmatinya? Hell yeah, saya sendiri tidak tau kenapa. Walaupun, perasaan ini selalu tersakiti dan menangis perih, saya sangat menikmatinya. Saya sangat menikmati tiap-tiap kesakitan ini, saya sangat menikmati setiap keperihan ini. Terkadang, malah saya tidak sanggup, karena sungguh saya tidak sekuat itu. Karena saya sangat menyadari bahwa saya manusia biasa, sama seperti manusia-manusia lainnya, yang biasa. Semua manusia itu sama, tidak ada ukuran yang pasti kenapa ada perbedaan. Back to the theme, saya menikmati penderitaan itu. Dengan demikian saya adalah manusia, dan saya tidak munafik atas hidup ini-dan ini menurut saya- dan tidak berusaha 'menegarkan' hati yang rapuh ini.

Lalu, bunuh diri? No way, man. Bukan saya saja yang menderita di sini. Bukan saya saja yang punya penderitaan sebegitu besarnya. Dan bukan saya saja yang hidup di dunia ini. Walaupun, saya tidak dapat mengukur kedalaman dan ketahanan seseorang terhadap penderitaan. Saya menikmati penderitaan. Dan saya tidak mau bunuh diri hanya karena hakikat manusia, menurut saya, adalah penderitaan. Hidup ini, mengutip kata teman saya, adalah perjuangan. Bunuh diri berarti sama dengan munafiknya manusia terhadap hidup ini. Sekali lagi, saya bukan orang yang memunafikan penderitaan dan hidup

Rabu, 14 Oktober 2009

Napas ini (juga) menyakitkan

Perasaan ini memendam
Tak ada celah yang dapat mengkaramkan asa
Pelampiasan cuma jadi sesalan
Maka, terpendam
Lagi, terus, dan lagi

Cahaya ingin mencahaya
Tapi itupun terasa menyiksa
Meredup dan menutup menjadi jalan
Sakit pun tak tertahan

Napas,menghela lah
Jangan sampai diri yang terhempas
Aku tak ingin menjadi kebas oleh rasa
Diburu oleh jahat
Dikuasai ole raksasa

Aku mulai menarik,
sangat sakit.
Lalu Ku hela
tidak berkurang.
Hidup ini menjadi biasa

Oleh sakit, derita
Dan sia-sia

Rabu, 07 Oktober 2009

Coba rasakan

Kau ingin mengetahui aku?
Atau ingin merasakan menjadi aku?
Sungguh, kau tidak akan pernah bisa
Sungguh, kau tidak akan mengerti

Tapi, bila kau tetap memaksa
Baiklah

Coba kau tertidur beratapkan langit dan berjuta bintang
Memang akan sangat indah dan nyaman, tapi tunggu dulu
Ketika kau tertidur dengan beralaskan rerumput yang basah
Oleh tangisan langit indah yang sedang kau pandangi dan nikmati

Sungguh, itulah aku.
Sekali lagi, kau hanya melihat dari luar
Hanya merasakan dari luar
Tapi kau tidak pernah merasakan ketegaran dalam kelemahan ini.

Kau sudah bisa mengerti?
Kalaupun iya, aku mohon jangan
Karena rasa menjadi aku sungguh perih

Sabtu, 26 September 2009

Ketika hanya terungkap dengan tulisan

Papa, memang semua manusia memiliki kesalahan. Begitu juga Papa. Manusia berbuat salah, mungkin salah satu sebabnya, karena mereka tidak tau apa yang mereka lakukan. Manusia memang bukan makhluk serba tau, Pa. Makanya, Papa berbuat kesalahan itu wajar. Ketika anak Papa ini menyadari alasan itu, perasaan ini semakin abstrak. Anakmu ini bukannya menjadi tenang, malah semakin kosong. Anakmu ini semakin bingung.

Ingin sekali, adik (hanya Papa yang memanggil adik) berbicara padamu. Bukan pembicaraan yang menyinggung kesalahan Papa. Karena adik tau, disinggung pun, tidak akan mengubah keadaan. Adik hanya rindu berbicara hangat, bermanja, tertawa sama Papa. Adik rindu hubungan ayah-anak yang memang dari dulu tidak ada. Hubungan itu tidak pernah ada, karena Papa selalu sibuk, sibuk, dan sibuk bekerja. Adik tidak menyalahkan Papa. Adik tau Papa demikian untuk kami, keluargamu. Papa hanya tidak ingin kami susah, Papa beranggapan bahwa dengan berkecukupan kami bisa senang. Adik tidak menyalahkanmu, Pa

Orang-orang bilang, Papa orangnya keras dan egois. Memang itu benar. Tapi, adik beranggapan bahwa karena hubungan keluarga kita yang tidak semestinya dikatakan keluarga terjalin. Kita tidak seperti keluarga, di rumah jarang berbicara. Bahkan bertegur sapa kalau bertatapan di dalam rumah pun jarang. Kita bagaikan orang asing, ya Pa. Keluarga kita sangat 'dingin' ya Pa? Pasti Papa tersiksa dengan keadaan yang seperti ini, sama seperti adik yang juga tersiksa. Papa juga mungkin menyalahkan diri Papa kenapa keluarga kita seperti ini. Dalam pikiran Papa, apa aku kurang memberikan materi pada keluarga ku? Makanya Papa terus bekerja dan bekerja. Adik tau darimana? Anakmu ini memiliki darahmu Pa, adik setidaknya tau apa yang Papa rasakan.

Lalu, masalah keluarga bertubi-tubi datang. Papa sebagai kepala rumah tangga pasti merasakan beban yang berat. Papa ingin berdiskusi untuk menyelesaikannya, tapi kepada siapa? Keluarga kita seperti itu, bahkan anakmu pun seakan tidak memandangmu. Papa seakan pohon uang bagi kami, anak-anakmu. Adik pun sadar telah bersikap begitu padamu Pa. Anakmu meminta, langsung diberikan. Kami menjadi terbiasa dengan meminta, tidak melihat susahnya kau bekerja. Maafkan adik Pa. Aaah, andai Papa tau, betapa adik ingin mengucapkan kata maaf itu. Di tengah masalah yang demikian menimpa, Papa berbuat kesalahan..

Keluarga tambah kacau kan Pa? Adik tidak menyalahkanmu Pa. Adik malah melihat di tengah kekacauan yang Papa perbuat, adik malah melihat ada hubungan keluarga terjalin. Walaupun kacau. Rasanya aneh sekali, keadaan itu malah ada setelah kesalahan. Akan tetapi, ya, kita semakin kacau. Adik bahkan tidak sanggup untuk menambahkan kalimat penjelasan dari kacau itu. Adik, bahkan kita semua, bisa merasakan tapi tidak bisa menjelaskan.

Aah, adik tidak sanggup lagi untuk menuliskan lagi. Adik hanya ingin mengatakan, sebelum semuanya tidak sempat terkatakan :
Kesalahan apapun yang Papa perbuat, Papa tetaplah Papa adik.Tapi, bukan berarti adik setuju dengan kesalahan itu. Adik sayang sama Papa.

Sungguh, adik sangat ingin mengatakan hal itu. Tapi keluarga kita beku Pa. Adakah yang mampu mencairkannya?

Goresan (hanya) terlihat di kecerahan, sayang

Kau kembali menyapa dan ingin membekaskan asa lagi padaku. Mungkin, kalau kau lakukan pada masa itu akan berhasil. Pasti akan selalu berhasil, aku jamin itu. Tapi, sayangku, tidak untuk masa ini. Cukup sudah, kau berbuat demikian. Perbuatanmu dahulu bahkan membuat ku beranggapan no more lil shine star because the shine doesn't bright anymore. Aku memang bodoh waktu itu, aku akui.

Tunggu dulu, sayang, aku tidak menyalahkanmu. Digoresan yang membentuk tulisan ini aku hanya ingin mengeluarkan apa yang ingin aku katakan padamu. Ingatlah sekali lagi, sayangku, aku tidak menyalahkanmu. Apabila kau membacanya, mungkin kau akan mengerti kekesalanku pada sifatmu yang tidak jelas itu.

Ya, aku sudah mengeluarkan kata pertamaku. Ketidakjelasan.
Memang, aku bukan apa-apa di matamu. Aku bukan siapa-siapa, aku menyadari status itu. Tapi, tidak cukupkah kau untuk berhenti menganggapku istimewa di antara yang lain? TIdak bisakah kau berhenti bertindak dan berucap selayaknya kau berkelakuan dengan teman-temanmu? Aku sadar, jika aku berkelakuan sepertimu, maka aku yang akan jatuh. Bukan berarti aku yang kalah, karena bagiku kalah dan menang itu biasa. Tapi, kalau aku terjatuh pada dasar yang jauh, bisa-bisa aku yang mati duluan. Mati di tengah keterjatuhan itu. Aku tidak mau.

Aku akui, aku takut. Maka lebih baik aku menghindar saja. Lalu, kenapa kau seakan tidak rela? Bahkan tali itu semakin mengikatku. Sepertinya, kau senang di atas ketidakjelasan ini. Tunggu dulu, sayang, aku tidak menyalahkanmu. Karena mungkin ketidakrelaan itu karena keterbiasaan yang sulit untuk dilepas. Aku mengerti. Mungkin saja, keinginan ku tidak pada waktunya. Maka,aku kembali tersiksa, dan kali ini tambah menyiksa.

Goresan pun semakin menghantam pasir, membuat gambaran yang sulit untuk dihapus. Semakin jelas terlihat oleh para mata yang ada. Semakin diketahui. Aku tidak senang dengan tatapan itu. Mereka melihat goresan, bukan melihatku.Semakin cerah, semakin terlihat. Sang air pun tak sanggup untuk menggapai goresan untuk menghapus.
 Tunggu, sayang, aku tidak menyalahkanmu. Sepertinya goresan itu indah. Maka aku membiarkannya. Walaupun aku tidak dilihat. Tak mengapa.

Ketika sudah mulai terbiasa, entah mengapa waktu itu datang. Mungkin, sang waktu tak mau aku terbiasa, yang menjadikan sinarku tertutup oleh goresan sakit itu. Kita berpisah, dan goresan itu tertutupi dengan mata-mata yang memiliki badan serta kaki. Goresanmu tertutupi oleh jejak yang lainnya.Aku mulai menjalani kehidupan. Walaupun, tidak sepenuhnya aku lupa akan goresan itu.

tenang, sunyi, damai,bahagia, lepas..........
Aku bahagia, dan kau datang kembali dengan kelakuanmu. Mencoba menggores kembali. Lalu seakan-akan aku membiarkanmu. Ah, jangan senang dulu, sayangku, dulu aku lupa siapa diriku. Aku ini bintang. Kau ingat, kapan aku muncul? Ya, sayang, pada malam hari.

Kau mau menggoreskan lagi? Silahkan, sayang.
Karena goresan itu tidak akan terlihat di saat aku muncul, malam hari. Dan bersama rembulan serta air, goresan mu esoknya akan terhapus. Karena hukum alam, sayang. Aku ini bintang yang menyatu dengan alam sekitarku.

Aku tidak menyalahkanmu, sayang. Aku akan kembali menjadi pantai di atas yang
tenang, sunyi, damai,bahagia, lepas..........

Kamis, 24 September 2009

About Consciousness being myself

Belakangan ini saya sedang suka-sukanya nonton dvd. Mungkin untuk membuang rasa jenuh dan kesendirian yang terasa sepi. Walaupun saya sangat suka kesendirian, terkadang rasa sepi sangat menakutkan. Maka, mulailah saya menonton beberapa film.

Semalam, saya menonton Being John Molkovich. Kenapa saya tertarik menonton film ini? Mungkin karena film ini terlalu sering disebut oleh dosen saya, Bapak Harsawibawa, dalam perkuliahan Philosophy of Mind. Beliau selalu bilang, bagaimana mind itu sebenarnya. Sebenarnya, saya ingin menggunakan sekali kata "Apa" dalam kalimat sebelumnya. Akan tetapi, saya sangat menyadari bahwa definisi dari kata "Apa" hanya akan memberikan penjelasan secara jelas. Sementara mind sampai sekarang tidak dapat saya jelaskan.

Berbicara masalah kesadaran, ada suatu kalimat dalam film itu yang sangat membuat saya tertarikuntuk berpikir. How lucky you are being a monkey. Because consciousness is terrible curse. Benarkah kesadaran itu sebuah kutukan? Seberapa beruntungnya 'sesuatu' yang tidak memiliki kesadaran? Atau, benarkah yang dinamakan makhluk tidak memiliki kesadaran?

Sebelum ber-monolog terhadap pertanyaan yang saya buat sendiri, saya akan melanjutkan mengapa sang tokoh mengucapkan kalimat seperti itu. Kemudian,lanjutan kalimatnya adalah (kurang lebih saya mengartikannya seperti ini), karena manusia selalu merasakan, memikirkan, mencemaskan, dsb, yang terkadang membuat manusia (dalam kasus ini adalah dia) 'sakit'. Manusia tidak tahan akan perasaan sakit itu. Hmm, mungkin saya paham apa yang dia maksudkan. Walaupun saya tidak mengucapkan I feel what you feel, karena menurut saya kalimat ini munafik sekali. Bagaimana mungkin orang yang berbeda merasakan perasaan yang sama? Yang ada mungkin kalimat, setidaknya saya merasakan apa yang kamu rasa sesuai dengan perasaan saya. Oke, saya belum memberikan respon saya terhadap alasan mengapa tokoh utama mengatakan demikian.

Lalu, mari lompat ke scene selanjutnya dalam film tersebut. Jalan cerita tersebut membuat seseorang yang menjadi 'obyek' orang lain untuk masuk ke badannya. Dengan kata lain, sang obyek tidak memiliki kesadaran akan dirinya sendiri, karena kesadaran atau seluruhnya-selanjutnya saya akan mengatakan mind, diisi oleh orang lain. Jadi, sang obyek tidak akan merasakan 'sakit' yang dikeluh kesahkan pada paragraf sebelumnya. Ahay, keliatannya enak ya. Saya tidak merasakan diri saya sendiri. Karena terkadang, dunia terlalu kejam dan paradoks untuk dijalani. Tapi, saya tidak akan memilih hal ini walaupun ditawarkan.

Saya lebih memilih untuk memiliki rasa 'sakit' itu daripada hidup seperti zombie atau benda mati. Bukan, bukan karena saya adalah seorang masokis. Saya memiliki alasan kenapa saya memilih hal itu. Manusia memang harus berada dalam suatu situasi yang terkadang menyakitkan. Kita tidak bisa memilih untuk hidup seperti yang kita mau. But, hey kalaupun pilihan itu ada dan ditawarkan pada saya, saya tidak akan mau. Saya tidak mau hidup dalam dunia yang membuat saya 'tumpul' karena kenyamanannya yang sesuai dengan kehendak saya. Bagi saya, masalah adalah pengalaman yang paling berharga. Akan tetapi, karena saya sadar bahwa saya tidak mungkin hidup dalam dunia yang begitu nyaman, maka saya secara sadar menghadapi masalah.

Jujur saja, terkadang ketika masalah sudah berhadapan dengan saya dengan muka yang menakutkan, terkadang saya lelah juga. Terkadang saya ingin menyerah saja dan memilih sebagai zombie. Ahahaha, sepertinya saya tidak konsisten dengan ucapan saya. Karena saya tau bahwa manusia itu paradoks, jadi hal itu tidaklah aneh. Akan tetapi, hal itu hanya berupa keinginan saja, dan tidak mungkin terealisasi. Dan saya mengucapkan syukur akan hal itu. Saya selalu yakin bahwa saya akan menjadi biasa karena keterbiasaan tersebut. Dan saya yakin bahwa hal itu tidak akan terlalu menyakitkan saya. Saya tidak terlalu takut lagi menghadapi masalah atau hidup.

Lalu, apakah saya menjadi orang yang dingin terhadap hidup? Kata siapa? Tentu saja saya suka meluapkan perasaan saya. Meluapkan perasaan itu juga merupakan bagian dari kesadaran. Bahkan berpandangan dingin pun bagian dari meluapkan perasaan. Manusia itu makhluk yang berperasaan, bahkan yang memiliki logika sangat kuat pun. Jadi, jangan mengatakan saya tidak berperasaan. I show what I feel with my own way, like you do. Oia, bahkan beberapa teman saya mengatakan bahwa saya sangat kuat, perempuan yang kuat. Kata siapa? Saya terkadang lemah juga, tetapi saya tidk mau berlarut-larut. Saya selalu merenungkan hal yang membuat saya lemah, dan akhirnya membuat saya bangkit lagi.

If you ask me, "Do you wanna being someone else and lose the pain?"
Saya akan menjawab, I wanna being myself and feel all. I care about pain and happy. Buat apa menjadi orang lain yang bahkan kamu tidak tau siapa kamu sebenarnya.

Notes:
-Terimakasih kepada Bapak Albertus Harsawibawa yang selalu mengulang-ulang judul film itu. Sehingga saya bermonolog dan sadar
-Cetakan tebal merupakan kalimat yang keluar sejalan dengan monolog ini.

Selasa, 22 September 2009

Bintang (sedang) merindukan cumbuan

Malam ini sungguh sang bintang merindukan cumbuan pantai.
Merindukan deburan, pasir, biru, karang, dan makhluk lainnya.
Bintang merindukan bercerita dengan pantai, yang menelan semua suara ceritanya.
Sungguh, untuk berteriak pun bintang tak akan malu lagi.
Karena sang teriakan ditelan dan menjauh dibawa sang ombak.

Ya, bintang rindu kepada pantai
Karena hanya ia yang mampu membujuk sang sinar untuk melegakan asa
Pantai lah yang mengerti semua keterdiaman bintang
Bintang hanya butuh dirasakan dan didengarkan
Tidak butuh untuk tindakan balasan

ah, pantai...
Kapan aku dapat merasakan hangatnya butiran pasir yang menenangkan jiwa?
Kapan aku ternyamankan dengan nyanyian deburan airmu?
Kapan aku dapat tiba-tiba menangis memandang putihnya awan menggambar sang biru?
Kapan aku tersatukan dengan penghuni lautmu?

Bahkan, kapan aku meluapkan asa diri yang kau telan setelahnya?

Sungguh sang bintang sangat merindukan kenyamanan
Kemengertian
Kehangatan
Keterdiaman
Dan kesunyian pantai.

Sungguh kali ini san bintang ingin meluapkan semuanya
Dalam asa
Air mata
Teriakan
Atau keterdiaman


Yang bintang butuhkan hanya cumbuan pantai

Sabtu, 19 September 2009

Bintang Bersinar demi Meredup

aKembali menatap sang sinar pujaan yang meredup
Seakan kehilangan cahaya diri untuk selamanya

Lalu, bintang ini mendekat
Dan memberi secuil cahaya

Berharap sang sinar pujaan tidak menjadi kelam
Dan menyadari secuil cahaya dari bintang ini

Tetapi,
Kali ini sinar sang bintang yang meredup

Sebelum disadari
Sebelum didekati

Jumat, 18 September 2009

Bintang ini (sedang ingin) Menangis

Sinar ini memang ingin meredup
Tapi tak kuasa
Bagaikan terpaksa, harus kuasa
Tak bisa menghela

Bintang ini terasa lelah
Menanggung semua asa
Tanpa tau harus meletakkan asa
Dan kembali menjadi bintang kecil

Cahaya ini harus bersinar
Demi yang memaksa
Dan menaruh asa
Sang bintang sendiri

Bintang ingin tertawa
Menggelegar, terbahak
Tapi, tawa rintih dan air
Tercampur menjadi nyata

Bintang (sedang ingin) menangis
Tanpa tau yang ditangisi
Bintang (hanya sedang) lelah
Terhadap cahaya bintang sendiri

Rabu, 16 September 2009

Sinar Kedua Masih Redup

Aku memang menyadari bahwa aku cuma makhluk yang terlempar dalam batasan ruang dan waktu. Aku terbatas. Ketika waktu semakin menghimpitku di dalam ruang ini, aku semakin menyadari bahwa aku makhluk yang lemah. Amat sangat lemah. Kesadaran akan kelemahan ini membuatku jadi rentan dan perasa. Aku kini menjadi makhluk yang sensitif.

Kelemahan ini dimulai ketika ada suatu realita yang menghentakkan sinar yang selalu aku terima. Ya, pada awalnya aku selalu menerima sinar. Sehingga terkadang aku merasa bahwa sinar itu milikku sendiri, dan bukan milik orang lain. Aku merasa hebat dengan sinar (yang ku anggap) sendiri. Ketika realita menghentak secara tiba-tiba, aku kehilangan banyak sinar. Tetapi, tetap saja aku merasa bahwa aku bersinar, agar makhluk lain tidak menyadarinya. Aku berusaha untuk menguatkan sinarku agar tidak padam, aku berusaha agar sinar ini tetap selayaknya sinar yang aku miliki.

Sekuat apapun aku berusaha, aku tetap merasakan kelam dalam sinar ini. Beberapa makhluk menyadarinya, dan mereka memuji usaha ku. Mereka memuja ku sebagai bintang yang kuat. Aku tidak sekuat itu, teman. Terkadang aku ingin sepenuhnya meredup, kadang aku ingin sepenuhnya mengalah dengan kelam ini. Tetapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa kuat dan tidak bisa meredup. Aku berada di tengah-tengah, dan itu sangat menyiksa. Apa hebatnya kalau kalian berada di tengah-tengah? Berada di dua sisi yang sama sekali tidak bisa kalian tentukan, kemana sisi yang akan kalian hinggapi?

Lalu, aku memilih untuk biasa saja. Tepatnya untuk merasa biasa saja. Karena kepada siapa aku akan mengungkapkan kegelisahan ini? Kepada siapa aku akan bercerita dan berkeluh kesah? Tidak ada gunanya untuk bertindak demikian, karena yang akan mendengar juga tidak akan pernah memahami rasa yang aku hadapi. Perasaan kita, sebagai makhluk, tidak akan pernah sama. Jadi, tolong hentikan untuk berkata bahwa kalian memahami apa yang aku rasa. Itu hanya menambah sakitnya sinar ini yang tidak dipahami.

dan bintang ini memutuskan untuk bersinar kembali, walaupun sang sinar tidak seterang biasa nya......

Sinar Pertama Terasa Redup

Aaah, entahlah yang aku rasakan sekarang.
Diriku sendiri bahkan tidak dapat menentukan perasaan ini. Bagaimana dengan orang lain berusaha memahamiku? Terkadang aku ingin menyalahkan orang, tapi aku sadar bahwa aku lah yang salah.

Aku tersiksa dengan perasaan yang terasa menyakitkan ini. Tapi, aku sendiri bahkan tidak bisa menghindar bahkan mempelajari rasa sakit ini agar tidak terulang. Jujur, aku tidak suka dengan rasa sakit ini. Akan tetapi, aku tau bahwa rasa ini akan terulang dan aku berusaha bertahan dengan rasa sakit ini. Dengan harapan aku akan terbiasa. Akhirnya, bukan kebiasaan yang aku rasakan, malah rasa sakit yang mendera.

Terkadang, aku mencoba menangkal rasa sakit ini. Aku akan meyakinkan hati ini, bahwa aku senang dalam ketersiksaan ini. Aku pasti akan bahagia bila melihat orang lain (tentunya yang padanya asa rasa ini ku titipkan)bahagia. Aku tidak akan peduli, walaupun aku akan sakit. Terkadang aku tidak sanggup. Bahkan ada semacam keegoisan dalam diri yang memberontak, ingin meluap karena sakit ini.

Bahkan tindakan ku selalu memperkuat sakit ini. Aku manusia paradoks. Aku sendiri terkadang bingung dengan diri ini. Tapi, satu yang tidak aku bingung kan lagi adalah aku yang seperti ini. Aku memang selalu mengharapkan sesuatu yang ideal dalam perasaan, tetapi harapan ini terkadang bercampur dengan nafsu dan emosi sesaat. Aku tidak ingin yang seperti itu.

Dan pada akhirnya, aku kembali menikmati sakit ini. Hingga, sait ini terbiasa dan kemudian menghilang secara perlahan-lahan.
Dan kemudian, sang bintang mencari sinar baru demi bersinarnya sang diri. Apapun sinar yang diterima, bintang akan memantulkannya lagi demi sinar kecil bagi orang lain. Walaupun, ia menyadari bahwa ia bersinar demi orang lain. Bukan untuk dirinya.

Aku ingin menjadi bintang itu, yang menerima sinar dan kemudian meneruskannya.....

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.