...

Senin, 17 Mei 2010

Philosophy is only knowing about, not feeling about...

Saya apatis dan pesimis dengan filsafat. Kesadaran ini berawal dari film Cast Away, film yang lagi-lagi ditawarkan oleh dosen filsafat. Beliau hanya sekali menyebutkan film ini, berbeda dengan film lainnya yang berkali-kali disebutkan. Anyway, sepertinya saya mengaminkan dialog salah satu film bagus Indonesia cin(t)a : our philosophy generation is generation of film. Bagi saya memahami filsafat dan kehidupan lebih mudah melalui film, bukan dari buku-buku berbahasa tinggi nan aneh yang pada akhirnya ingin mengatakan sesuatu yang simpel. 

Back to the theme, Cast Away film. Lima belas menit (atau lebih ya?) pertama memang membosankan bagi saya. Dibuka oleh orang-orang yang terlalu banyak dialog, terlalu banyak berpindah tempat, dan terlalu banyak iklan fedex di setiap adegan. Beuh, ini film atau promosi fedex ya? Terlalu khas Hollywood, ingat kan saya tidak terlalu suka permainan visual Hollywood? Lima belas kemudian, saya menahan napas, merasa tidak bergunanya filsafat dan filsuf yang paling diagungkan pada masa sekarang. Saya mulai berpikir dan kehilangan respek terhadap Nietzsche, sang filsuf yang dikatakan sangat hebat. Nietzsche selalu menyuarakan nihilisme sebagai salah satu cara mencapai Ubermensch (Superman). Kita harus menghilangkan nilai-nilai yang membentuk dan dibentuk masyarakat. Nilai-nilai tersebut hanya membuat manusia bodoh dan tidak berdaya. Kenapa demikian? Nietzsche hidup di masa kekecewaan terhadap agama dan teknologi yang malah meniadakan manusia. Agama hanya membuat manusia menjadi penakut dan sosok Tuhan menjadi sangat kejam. Tuhan benar-benar sudah seperti keegoisan dewa pada Masa Yunani Kuno, masih saja iri dan meletakkan serta membuat takdir seenaknya terhadap pahlawan pada masa itu. Tujuannya tak lain, agar para dewa tidak tertandingi kehebatan dan kesempurnaannya. Menyadari hal itu Nietzsche menyerukan bahwa "Tuhan telah Mati". Teknologi, ilmu pengetahuan juga merupakan bentuk Tuhan lainnya yang harus dimatikan.

Ketika semua telah mati, hidup pun menjadi ketiadaan nilai. Pernah gak kalian menyadari bahwa hidup kalian, moral kalian bukan karena kesadaran sendiri? Sebenarnya yang ada hanya moralitas palsu. Maka manusia tidak ada bedanya dengan zpmbie atau robot. Wah, hebat sekali sang filsuf satu ini. Tapi, tunggu sampai ia melihat film ini. Manusia yang awalnya berlomba dengan waktu, pada akhirnya waktu kehilangan makna. Pada awalnya manusia berdialog penuh basa-basi hingga akhirnya manusia berdialog dengan ciptaannya sendiri untuk menemani kesengsaraan. Lebih lanjutnya, kalian bisa menonton film nya. Apa yang ingin saya sampaikan adalah, hey bahkan di suatu tempat yang antah berantah dan tiada nilai, hidup lebih menyedihkan. Bukan malah menjadi lebih hebat.Lihat, bagaimana orang yang sudah terbiasa dengan kerumunan tiba-tiba dikelilingi oleh diri sendiri. Getting weird, right?  Nietzsche, bahkan anda sendiri tidak pernah melarikan diri ke suatu tempat yang unknown-where, dan nihilisme.Bahkan anda samapai mati selalu mencari teman, kan? Itulah filsafat, kami memang terlihat sangat bijaksana. Tapi, tunggu sampai kami benar-benar dalam masalah, yang menurut teori kami sendiri seharusnya dapat diselesaikan secara mudah dan bijak, kami tidak lain hanya seorang pembual.

Filsafat bermain pada ranah konsep yang berdasarkan keadaan masa lalu dan masa sekarang. Bukan konsep untuk masa depan. Bahkan konsep tidak akan berguna dalam kehidupan sesungguhnya. Jika kita berada pada film Cast Away, apakah konsep siapa manusia, apa itu hidup, apa guna ini-itu akan bermanfaat? Absolutely not. Pernahkah filsafat mengajarkan hidup yang tidak harus berkonsep-ria? Secara keseluruhan, mungkin kami bijaksana dalam berpikir, tapi dalam bertindak belum tentu. Saya belajar sampai mengerutkan kening dalam membaca buku-buku sakti yang briliant, tapi ketika dihantam dengan satu film berdurasi dua jam. Hilang sudah kekaguman saya filsafat. Karena pengetahuan kami berdasarkan pada masa sekarang dan dulu. Filsafat tidaklah sebijaksana itu, kawan.

Maaf, Nietszche kamu hanya berteori. Kamu tidak lain hanya sebagai BIG FAT LIAR. Hidup ini benar-benar absurd.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.