...


Kamis, 01 Desember 2011

Tanpa Pengharapan

Jika waktu terus mengejar, aku tak menolak untuk terus berlari jika kita saling menggenggam. Biarlah waktu yang berhenti degan sendirinya. Pada saat itulah kita juga terdiam


Kamis, 24 November 2011

Overdose

Disudut pikiran mana lagi aku sisipkan bayanganmu yang berujung melekat dengan kenangan?

Senin, 24 Oktober 2011

This Never Happpened Before

Saya pernah bilang kalau saya, officially, in love with Keanu Reeves. Maknai saja secara harafiah ya. Dari sekian banyaknya film yang dia peranin, saya paling favorite film The Lake House. Sebenarnya sih, film ini remake dari film Korea. Yah, sendu-sendu gimana gitu. Nah, di film ini juga saya (seakan-akan) menemukan my wedding song (soon).

Saya suka banget dengan lagu This Never Happened Before yang dibawakan oleh Paul McCartney (pentolan The Beatles). Musik dan liriknya pas banget di telinga saya, catchy for my wedding song :p.
Nih, saya langsung kasih liriknya deh:


I'm very sure, this never happened to me before
I met you and now I'm sure
This never happened before

Now I see, this is the way it's supposed to be
I met you and now I see
This is the way it should be

This is the way it should be, for lovers
They shouldn't go it alone
It's not so good when your on your own

So come to me, now we can be what we want to be
I love you and now I see
This is the way it should be
This is the way it should be

This is the way it should be, for lovers
They shouldn't go it alone
It's not so good when your on your own

I'm very sure, this never happened to me before
I met you and now I'm sure
This never happened before (This never happened before)
This never happened before (This never happened before)
This never happened before (This never happened before)
This never happened before


Ps: dance scene dalam film The Lake House udah pernah saya post lho. Monggo dicek lagi

Kamis, 20 Oktober 2011

Kau inginkan kenangan? Katakan saja selamat tinggal....


"Dan aku, sayang, memilih untuk bertahan melihat itu semua. Memilih untuk mengingat wajah mu yang akan menjadi kenangan. Kenangan memang menyakitkan, karena berawal dari perpisahan. Jika tidak berpisah, kita tak akan mengenang, Sayang" (quote by me)
Sounds so tragic? Tapi ini pula yang saya pikirkan ketika mendengar kata kenangan.
Bukankah setelah tidak bersama kita menggali paksa sudut pikiran hanya demi memutar sebuah kenangan?

Jadi, selamat tinggal, Sayang. Selamat datang kenangan




Selasa, 18 Oktober 2011

Kenapa harus berkata ketika mementingkan rasa?

It's been months saya tidak menulis. Bukan, bukan karena saya sedang penat berujung muak pada kata.
I blame it on twitter. Yah, semua ide belakangan ini saya paksakan menjadi 140 karakter.
Sangking sedikitnya karakter yang disediakan, saya menuliskan sepotong-sepotong ide (yang berawal pada
rasa) yang bikin saya bingung sendiri darimana awal ide tersebut. Kebiasaan ini bikin cara ber
pikir saya tidak runut dan sistematis. Sounds so logic. Mungkin ini juga yang menyebabkan sebagian pengguna
twitter berisikan orang-orang yang galau. Galau yang entah kenapa sebabnya karena tidak bisa dirunut.


Well, kesimpulan ini saya dapat seiring dengan ketikan. Tidak direncanakan. Sepanjang aliran
kata, sepanjang itu pula ide mengalir. Tapi, haruskah kata menjadi raja untuk mendapatkan pengakuan?
Pengakuan? Kenapa pula kita menjadi orang yang gila diakui? Apakah semua harus diakui termasuk rasa?


Ada sebuah kalimat dari novel berjudul Brida karya Paulo Coelho yang saya kutip mengatakan, "Saya tidak pernah memilikimu. Bukankah dengan demikian saya tidak pernah kehilangan dirimu?". Jika ingin dihubungkan dengan kata dan pengakuan, maka saya ingin menyimpulkan bahwa ketika seseorang menyatakan perasaannya melalui kata (dengan kata lain membiarkan orang yang disukainya tau), pernyataan itu tak ubahnya menginginkan suatu pengakuan melalui jawaban dari yang dituju. Jawaban ya, tidak, bahkan diam pun merupakan respon dari pengakuan tersebut.

Lalu, jika itu tentang rasa, kenapa harus ada pengakuan? Bukankah dengan ketidak-pengakuan seseorang tidak akan pernah merasakan kehilangan? Bukankah dengan demikian ia terus mampu memiliki rasa tersebut tanpa takut kehilangan setelah memilikinya dari pengakuan kata?


It depends on you. Seperti yang saya katakan, pernyataan melalui kata pasti menginginkan pengakuan. Tak ubahnya pernyataan kata saya di atas. Bingung? Saya juga :)

Sabtu, 02 Juli 2011

Sebuah Kata Pengantar



Jika dulu saya bisa menjawab pertanyaan kenapa saya memilih filsafat dengan sangat meyakinkan (hingga terkesan sok tau), maka sekarang saya tidak akan mampu menjawabnya. Ini merupakan pertanyaan yang paling sulit, bagi saya sekarang. Satu hal yang saya ketahui filsafat tidak pernah memberikan jawaban. Dengan kata lain jika kalian mengira akan mendapatkan jawaban di filsafat, bersiap-siaplah untuk kecewa. Ada lelucon yang dilontarkan dari dosen psikologi yang mengatakan bawa mahasiswa-mahasiwa psikologi merupakan orang-orang yang terapi jalan atas kekecewaan masa lalu. Maka, bagi saya, mahasiswa-mahasiswa filsafat merupakan orang-orang menyebalkan yang terus bertanya. Yah, saya termasuk orang-orang yang menyebalkan itu.

Jika orang-orangnya saja sudah menyebalkan, maka skripsi inipun tak ubahnya merupakan karya yang 'jangan terlalu dianggap serius'. Karena bagi saya, skripsi filsafat merupakan curhatan sistematis dan teoritis bagi penulisnya, menggunakan istilah Hegel if you have great theory, forget the reality. Untuk itulah saya mengucapkan puji syukur kepada Tuhan yang mempunyai banyak nama yang menciptakan berbagai kondisi (dari yang saya syukuri hingga saya hujat) yang membentuk saya.

Skripsi ini saya persembahkan kepada Mama, perempuan yang melahirkan saya dan kasih sayangnya tak berani saya ungkapkan dalam kata-kata. Terima kasih kepada Papa, lelaki yang mengajarkan tanpa berkata-kata bahwa manusia itu sangat sulit dipahami (beliau bagai Nietzsche dengan Danaoi). Kak Evi, subyek historis pertama yang saya hadapi. Bang Redi, abang satu-satunya yang menunjukkan sisi feminin dari laki-laki yang tidak saya dapat dari Papa. Kak Feni, kakak sekaligus teman (yah, walaupun saya lebih sering menjadi 'adik'). Kak Mega, kakak ipar yang sabar menghadapi keluarga kami (keep it up, sis). Tentu saja skripsi ini merupakan kecemburuan saya terhadap kedua keponakan, Alika dan Fadhil (semoga kalian berdua tumbuh bukan sebagai korban dunia, Nak). Terima kasih juga kepada keluarga besar yang tidak dapat saya sebutkan satu-persatu.

Skripsi ini tentu tidak akan selesai tanpa bimbingan dari Pak Achjar yang membebaskan saya dalam menulis dan mengingatkan saya jika saya sudah terlalu bebas dan tidak fokus. Terima kasih atas kesabaran beliau membimbing saya yang sering menegasinya (saya baru menyadarinya ketika sidang). Terima kasih kepada kedua penguji, Pak Harsa dan Pak Tommy yang menciptakan suasana sidang yang sangat menyenangkan dan nyaman (suasana tak ubahnya seperti diskusi). Terima kasih kepada dosen-dosen filsafat maupun non-filsafat yang merupakan penguji-penguji saya semasa kuliah. Kepada Mbak Upie yang mengajari sisi gombal dari filsafat (terima kasih atas pinjaman bukunya, mbak). Terima kasih kepada Mbak Dwi dan Mbak Mun yang membantu saya dalam kelancaran  proses pra-sidang maupun sidang. Terima kasih kepada filsafat 2005 atas bimbingannya di jalan yang tersesat (dan anehnya, jalan tersebut merupakan jalan yang benar), filsafat 2008 (terutama Bella yang menyemangati saya jauh-jauh hari), filsafat 2009 yang tak hentinya menanyakan kapan saya sidang, sampai saya muak menjawabnya (kalian sangat membanggakan. Beberapa dari mereka minta disebutkan namanya: Lulu, Icha, Lia, Imel, Tennie).

Terima kasih kepada Lia, Reni, dan Gita orang-orang yang saya temui ketika muak dengan kehidupan kota (ayolah, kapan kita ke Karimun Jawa lagi?). Indy (saya lebih senang memanggilnya Respati), obyek psikoanalisa gagal saya dan sayangnya ia mempercayai analisis tersebut. Terima kasih kepada Fettner untuk diskusi demokrasi dengan psikoanalisa (good luck for your radical democracy movement in Big Apple). Flo, Sherly, Besty, Tasya, Muti, dan Asti (terima kasih menemani saya dengan referensi musik yang bagus banget. Kalian penikmat musik yang hebat). Penniman (it's not time heals, but music), dan PG (qui bene cantat bis orat). Terima kasih Kang Jeff, Cinur, Koko, Putra, dan Dana atas semangat yang sering saya abaikan.

Pada akhirnya saya sampai pada bagian yang saya hindari, yaitu mengucapkan terima kasih kepada keluarga berdasarkan ikatan emosional, filsafat 2007. Mengucapkan terima kasih kepada mereka seakan-akan memaksa saya untuk membalas jasa, padahal mereka (saya yakin) sangat tulus. Ini merupakan hubungan yang sulit untuk dijelaskan. Jikapun harus menuliskan siapa yang dari mereka menempati urutan pertama dalam ucapan terima kasih ini, maka menulis secara alphabetis merupakan cara yang paling adil karena mereka semua memiliki tempat yang sama. Adit, Alfa, Angga, April, Chacan, Connie, Dipa, Djohan, Fahri, Fitri, Gaby, Haree, Heri, Isky, Iqit, Kari, Leo, Nia, Nila, Panji, Reni, Richard, Sabrina, Taufik, Tea, Tia, Tika, Weber/Hendri, Winnie, Wira. Terima kasih atas semuanya. Kalian adalah orang-orang yang kehadirannya tidak pernah saya hujat.

Rabu, 04 Mei 2011

Memorable Dancing


Okay,
I admit that I'm in love with Keanu Reeves.
Errr, I don't mean it literally, Mr. Reeves. We have distance problem, I can't stand for long distance relationship.
Lol.

Anyway, he, successfully, presented the powerful character in every movie that he played.
And the clip above is the best expression  about waiting and hopeful.
(don't compare this dance with the watcher's dance, it's totally split)

ps: i love the song too

Senin, 11 April 2011

Jika Saja Ada Cara Mencinta

Tidak ada yang salah dengan kasih
Bagaimana ia bisa disalahkan ketika suara burung
terdengar dan membangunkan sepasang kekasih
yang tertidur lelap di pelukan sang damai?

Tidak ada yang salah dengan kasih
Bukankah ia mampu menjadikan malam
terlepas dari kelam ketika kedua tangan
erat menggenggam?

Tidak ada yang salah dengan kasih
Siapa lagi yang mampu memaksa hidup
hingga esok dengan segala busuk menyerang,
beriring dengan langkah kekasih?

Tidak ada yang salah dengan kasih
Lalu kenapa kita bersembunyi?
Apakah kasih terlalu sempurna ketika
usia menunjukkan keterbatasan?

Jika tidak ada yang salah dengan kasih,
Mengapa kita bersembunyi dari keramaian yang sunyi?


(Untuk Polo Green ku, fantasi tak mampu menghalangi. Hanya ilusi yang menyendiri)

Selasa, 08 Februari 2011

Tentang Kehilangan

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis, tangan seakan kaku berbanding lurus dengan pemaknaan hidup. Entahlah, kali ini saya benar-benar menuju ketumpulan. Terbiasa saja, lalu terkutuk oleh diri sendiri. Padahal kehidupan tidak akan pernah datang untuk kedua kali. Seharusnya saya menyadari satu detik ini akan hilang sia-sia tanpa pemaknaan jika keterbiasaan mengukuhkan tahtanya.


Tentang kehilangan, ehm, sounds so sad. Eh, itu bukan terdengar menyedihkan, tapi benar-benar menyedihkan. Hidup selalu berada di kutub yang berbeda, ini atau itu, tidak pernah iti atau inu bukan? Kamu memiliki atau tidak sama sekali. Tidak ada kenyataan bahwa kamu setengah memilikinya. Dan kehilangan itu artinya kamu pernah memilikinya, baik sadar ataupun tidak. Apakah kamu akan merasa kehilangan jika kamu pernah setengah memilikinya?