...

Minggu, 03 Januari 2016

Thoughts to end the year

Apa itu hidup?
Jangan, jangan kau jabarkan alasan-alasan
klise yang memuakkan.
Tanya hatimu. Ayo jujur sajalah.
Apa gunanya hidup?

Awal mula, sosok daging yang tidak
memiliki kesadaran penuh sudah dipaksa hidup. Sudah dipaksa tumbuh dalam keterbatasan. Apa sosok itu mempunyai kesadaran untuk meminta hidup? Tidak, tentu saja tidak.

Lalu, dilempar negitubegitu saja ke dunia. Dipaksa hidup, dipaksa menerima yang telah ada yang tidak pernah dimintanya. Tidak pernah meminta tapi sudah diberi. Dipaksa bertanggung jawab atas pemberian tersebut. Menangis, tapi dunia menyambut dengan  tawa.

Tumbuh dalam keterbatasan. Ada aturan yang harus diikuti.  Ada syarat untuk hidup. Padahal hidup tak pernah diminta sejak awal. Ada yang dibiasakan. Ada yang kemudian menjadi tumpul karena dibiasakan hidup. Padahal saat itiitu ada pikiran yang juga mulai tumbuh.

Apa, apa gunanya berpikir?
Jangan, jangan lagi kau jawab dengan jabaran klise yang memuakkan.
Aku tanya srkali lagi, apa gunanya berpikir?

Sadarkah kau, manusia dipaksa berpikir untuk kesinambungan. Terus berpikir terus hidup. Berpikir menjadi senjata kehidupan yang memaksa untuk lupa akan pertanyaan awal tadi. Ku harap kau masih ingat akan pertanyaan awal. Jika tidak, mari ku tuntun. Apa gunanya hidhidup?

Berpikir kemudian terbiasa dengan keadaan. Ada relasi yang membuat terikat. Ada emosi yang menjangkiti hidup. Ditimang kebahagiaan yang membuatmu lupa bahwa sosok lain juga awalnya juga tak pernah meminta kehidupan. Bukankah itu terasa palsu ketika sosok-sosok saling bertemu dan saling menjalin untuk hidup?. Aku, aku muak. Masih saja ada aturan yang diterapkan jika ingin hubungan terjalin. Padahal aku yang tak pernah meminta kehidupan ini tak hadir pada saat aturan itu dibuat.

Jika hidup mengikat untuk melupakan awal nukankah hidup menjadi beban yang lama-lama menelan dan menyiksa?

Kau ingat betapa kejamnya Cronos yang menelan anak-anak yang diciptakannya? Begitu juga hidup yang melempar kemudian menghancurkan ketika bertanya.

Semua pasti akan kembali ke awal, menuju ketiadaan. Berbahagialah orang yang mati. Mulialah orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya. Inilah mati terhormat karena berani mengambil keputusannya sendiri. Keputusan pertama yang diambil setelah hidup memaksa dengan keputusan lain yang tak pernah disetujui.

Mereka yang mengakhiri hidupnya mati terhormat. Karena mereka berani. Dan aku, aku menunggu datangnya keberanian itu.

Kamis, 03 Desember 2015

Romantic Works (Keaton Henson featuring Ren Ford) on Review

Romantic Works dari Keaton Henson release pada tanggal 16 Juni 2014. Seminggu sebelum tanggal tersebut, saya sudah menghubungi toko musik langganan untuk memesan album tersebut. Biasanya mereka langsung menyanggupi permintaan saya. Akan tetapi, kali ini berbeda. Mereka bilang akan dicoba dulu karena album ini agak sulit untuk dipesan dan akan memakan waktu lebih lama dari biasanya. Oke lah, tak mengapa, pikir saya.

Dua bulan berlalu dan toko musik langganan mengabari bahwa mereka tidak bisa menyediakan pesanan saya. Agak kecewa sih. Walaupun tersedia di itunes, saya masih tipe orang yang senang memiliki album fisik. Album yang penuh dengan gambar atau lukisan yang dibuat artistik dari penyanyi yang bersangkutan merupakan hal jarang dimiliki oleh penyanyi. Keaton adalah salah satu musisi yang selalu penuh kejutan di setiap album fisiknya.

Sampai tiga bulan yang lalu, seorang teman menghubungi saya. Dia yang notebene bekerja di salah satu toko musik indie di UK menawarkan kepada saya album Romantic Works ini. Dia bilang bahwa albumnya tinggal satu di tokonya dan dia teringat saya yang menyukai musik Keaton. "I'll give it, free. Please write a review after that", he said.

Dua hari yang lalu albumnya sampai di tangan saya. Tidak seperti dua albumnya yang terdahulu, Romantic Works merupakan album instrumental yang bekerja sama dengan Ren Ford. Mengingat Keaton merupakan musisi penyendiri yang sangat jarang bekerja sama dengan orang lain dalam musikalitas, album ini bisa dikatakan bukan album Keaton sepenuhnya. Setiap chapter musik terdengar alunan cello dari Ren Ford. Akan tetapi, setiap musik dalam album ini diakui sebagai ide dari Keaton. Mungkin Ren Ford hanya mengikuti arrangement yang telah ditulis Keaton.

Album ini pertama kali saya mainkan ketika saya berada dalam perjalanan. Hal yang selalu saya lakukan ketika mendengar album baru. Kenapa di perjalanan? Bagi saya, album merupakan "perjalanan batin" musisi pada suatu periode. Melakukan perjalanan berarti ada tujuan. Album yang baik menurut saya adalah album yang menemani pendengar dalam suatu perjalanan. Album yang baik menemani kesendirian dalam mencapai tujuan.

Okay, back to the album. Walaupun album ini hanya berisikan alunan instrumental, album ini sarat dengan ciri khas Keaton dalam bermusik. Kesedihan, penderitaan, patah hati, kesendirian akan langsung menghujam telinga. Jangan bayangkan adanya alunan instrument yang naik-turun secara drastis ala Mozart. Keaton membawa pendengar perlahan mengikuti alunan musik hingga puncaknya yang terdengar smooth (Elevator Song dan Healah Dancing menjadi contohnya). Bahkan acapkali terdengar intro hingga akhir musik, instrument dibiarkan stabil tapi dipastikan dari awal ada kesenduan yang terus membungkus seperti yang terdengar dalam Earnestly Yours. Pada tipe tersebut permainan cello sangat mendominasi untuk memberi efek dramatis. Saya pribadi menyukai Field dan Petrichor yang terdengar lebih lembut (dan manusiawi sendunya, hehehe) yang memberikan ruang lebih pada instrument piano.

Memahami album ini memang tidak mudah. Tidak ada lirik penguntai kata yang dapat diartikan melalui kata-kata juga. Satu-satunya kata yang ada merupakan judul dari chapter instrument yang dialunkan. Rasa-rasanya memahami bukanlah paduan kata yang pas dalam album ini. Karena album ini hanya bisa diresapi.

Mengapa Keaton sampai mengeluarkan album ini? Rasa-rasanya ambigram (tulisan yang hanya bisa dibaca melalui cermin) yang tertulis secara samar (jika saya tidak teliti mengamati lukisan Keaton di cover album, pasti akan terlewatkan) bisa menjadi petunjuk. Ambigram tersebut tertulis:


             Dear Someone
  Sometimes Words Escape Me

Jumat, 13 November 2015

Setelah Brandy..

Mungkin saat itu kita mengutuk waktu yang berlalu begitu cepat. Mungkin saat itu kita mengutuk brandy yang terlanjur menghangatkan suasana. Mungkin saat itu kita mengutuk keakraban yang tercipta. Mungkin saat itu kita tak ingin berteman lagi dengan sepi. Kemungkinan-kemungkinan yang tak pasti itu membuat kita mengulur waktu untuk berpisah.

Kau berkata bahwa kau berlibur di kota ini dan ingin sekali menikmati malam di kota ini. Kau bertanya apakah aku berkenan menunjukkan dan menemaninya menghabiskan malam dengan berbincang. Aku tersenyum mendengarnya dan mengiyakan ajakanmu. Dalam hati aku berkata kau ini lelaki yang masih punya sopan setelah begitu berani menyapaku dengan brandy. Lalu, berdua kita menuju mobilmu. Mencari tempat untuk menghentikan malam. Kita berusaha melawan waktu. Akan tetapi,kita masih cukup sadar bahwa itu melawan alam. Tidak mungkin.

Saat itu kau berjalan agak cepat setelah membuka pintu mobil dari kunci otomatisnya. Aku perkirakan ada empat langkah yang tersisa hingga menuju mobil. Kenapa kau terburu-buru, tanyaku. Kau menghentikan langkahmu dan menjawab bahwa kau hanya ingin membuka pintu mobil untukku. Aku sedikit gusar dengan jawabanmu. Aku bisa membuka pintunya sendiri, apa aku terlihat seperti perempuan yang terlalu lemah untuk membuka pintu mobil sendiri? Kau menatap mataku saat mendengar pertanyaanku. Lalu, kau menujuku yang tertinggal empat langkah. Aku tidak berpikir seperti itu, sekarang aku akan berjalan di sisimu untuk menuju tempat yang sama. Itu jawabmu sambil menautkan jemarimu di jemariku. Aku terdiam. Sambil menggenggam erat jemariku kita berjalan bersama menuju mobilmu. Kau begitu lancang. Tapi, siapa aku yang berani menepiskan kehangatan yang menjalar ke hati?

Aku menanyakan kau ingin ditemani kemana. Kau bilang terserah padaku karena aku yang memahami daerah ini. Aku menatap jam tanganku lalu menoleh ke arahmu. Ini pukul sebelas dan satu-satunya tempat yang masih buka hanya fasilitas di dalam penginapan, pikirku. Ku katakan hal itu padamu. Kau menjawab dengan sedikit gugup, ini pulau yang terkenal dengan pantainya lebih baik kita ke pantai. Aku mengernyitkan keningku. Di pulau ini ada semacam aturan untuk tidak memasuki pantai umum di malam hari. Katanya ada semacam roh jahat yang akan merasuki jika melanggarnya, jelasku. Belum selesai penjelasanku, kau menjawab bahwa itu bisa saja hanya mitos yang tak perlu dipercaya. Aku pun tidak mempercayainya, ujarku, tapi sesuatu yang tak kita percayai bukan berarti membuat kita tak menghormati kepercayaan orang-orang yang mempercayai itu. Kau diam, suasana menjadi tambah dingin.

Kau mulai menyalakan mesin mobil. Baiklah, kita menuju ke tempat yang kau maksud. Itu katamu sambil menarik napas. Sungguh, pada saat itu aku tak mengerti apa yang ada dipikiranmu. Sungguh, pada saat itu aku ingin bertanya kenapa. Sungguh, pada saat itu aku mengutuk mulutku yang tak berani berucap. Sungguh, pada saat itu aku membenci sunyi.

Apa kau punya album lagu yang bisa aku dengarkan? Aku benci sunyi yang seperti ini, ucapku. Aku menyimpannya di laci itu, katamu sambil menunjuk dashboard di dekat kakiku. Kau tinggal pilih dan jangan menertawakan jika kau merasa koleksiku buruk, lanjutmu. Aku pun mulai membuka laci yang kau maksud. Kau cukup banyak memiliki album dan susunannya sangat rapi untuk seorang lelaki. Ku telusuri album-album tersebut, kebanyakan dari mereka beraliran jazz dan soul. Hingga akhirnya jemariku berhenti pada satu album. Aku terkejut kau memiliki album tersebut. Sungguh sangat sulit untuk mendapatkan koleksi penyanyi bersuara lembut ini.

Kau tau betapa sulitnya aku mendapatkan album ini, tanyaku. Kau melirik album yang berada di tanganku. Kau tau Katie Melua, tanyamu dengan terkejut. Ku kira generasimu lebih mengetahui musik-musik yang memekakkan telinga. Kau sungguh sulit diprediksi, lanjutmu. Jadi, kau ingin mengatakan telingaku terbiasa dengan suara-suara berisik ya. Sindirku. Kau terlalu banyak bergaul dengan orang-orang yang seperti itu. Lanjutku. Sisa perjalanan kita habiskan dalam diam menikmati lagu-lagu perempuan bermata indah tersebut.

Rabu, 11 November 2015

One Day


To : You

Dear you...
I write these words for you.

Do you want to know what it feels
to stick with one person for six years?

Do you wany to know what it feels
to hide this love from people just because
you already know it won't work?

Do you want to know what it feels
to ignore the truth just because I love you?

Do you want to know? Or you you don't want to bear?

.................

Let's start with "One day".

One day that changed my life
One day that I learned to
cry and happy in same time
One day that I was so blessed
One day that I hope I didn't meet you
One day thay i feel so unwanted.


One day we met, we shared ideas, we laughed, we fell in love, we made love.

One day we know the world hates us
One day, we cursed norms, we cursed the ages between us, we cursed our lives.
We cursed God!

After that, we were still together.
We fought the distance
We fought the norms
We were hiding from people.

I didn't care.
Because we did it together
At least I thought so.

From year to years, believe was the only one we shared.
From year to years, we madr new memories.
From year to years, we loved the situation.

Till now
I see your pic with the other girl.
Yes, I said it! She is just a girl. I dont blame her. I blame you.

You made her feelings to write how happy she was with you. Implicitly! There is hope in her writings. There is love in her situation.

I can not blame her for havibg it. If i blamed her it means I blamed myself. Because she is just like my mirror, six years ago. How can you make this girl in the same situation like me?

Do you want to know what it feels to realize "it is the time for mr to destroy the hope" ?
I can not even say it was our hope.
End of that time I know itsit's been my hope.

And you,
You betrayed my time.
Betrayed the time that made memories.
Betrayed memories that linger in my minf forever.
I know I will have this ache till the last of ky breath.
Until that time you will nevet know.

One day, this girl will know you.
She will know how you hug with your arms tighten my waist around.
She will know how you like to drink red winein the morning
She wiowill know how you smile between hard situation
She will know how you like her to lullaby you when you are in bad mood
She will know  how you want to be hug when you're going to sleep

She will know things that I've known
She will know every inch of your body
She will know your touch
She will know you

She will know things that I will miss

Selasa, 16 Juni 2015

Cermin

Kau bilang mataku penuh dengan kemarahan.
Kau bilang aku tak menyadari bahwa diriku sendirilah yang sedang ku tatap.

Apakah kau lupa, sayang, kau sendiri pernah bercerita tentang cermin?
Kau pernah bilang kau begitu jatuh cinta pada cermin.
Kau bilang tak ada manusia yang benar-benar kuat ketika bercermin.
Cermin menelanjangi manusia.
Kau heran, kenapa benda yang rentan pecah malah merapuhkan manusia hingga menjadi kepingan kebenaran?

Aku, aku akui aku cemburu pada cermin yang kau cinta dengan segala keheranan mu. Aku cemburu karena aku tak memahami cinta mu itu. Aku akui aku cemburu ketika cintamu tak sepenuhnya untukku. Aku cemburu dengan sebuah benda.

Lalu, lanjutmu sambil menatapku melalui cermin, inilah cermin yang kau maksud. Kita berdua saling menatap melalui cermin. Kita berdua saling  memahami kerapuhan yang ditelanjangi oleh cermin.

Ketika kau mengatakan mataku penuh amarah, kau sebenarnya meresahkan dirimu sendiri.

Aku tau pertukaran kata ini bagaikan pisau bermata dua. Jejaknya akan kita basuh dengan pilu.

Karena seperti cermin, retaknya tak mungkin kita hilangkan

Rabu, 03 Desember 2014

Finding A Voice

When I was on boat, back from Wat Arun Pier, there was contemporary public art space. The Tourism Authority of Thailand (TAT) is inviting local and international tourists to experience Bangkok’s newest and innovative public art space ‘The Ferry Gallery’ that displays inspiring contemporary arts while cruising along the majestic Chao Phraya River.

At that time, there was "Finding A Voice". I just watched it few minutes because my guide (oh, hello Mr.Anwan. Next time please be more informative) had tight schedule. But it's enough to made me ask about "is the voice that you speak same with the voice you don't speak?". Pardon me for confusing you. Blame it on my philosophy education.

Luckily, I captured the explanation. I wish I got the full video



Sorry for the blurry pic. Here the text if you want to read it :

Finding a Voice exhibition explores the idea of the transformation and disruption of an identity. It questions a physical and psychological gap and conflict between the mind and body in order to grow into another self. The exhibition presents video works by Australian artist Nina Ross titled “Finding a Voice (2012)” and “The Foreignness of Languages (2011)” as well as video work “Gaza Zoo/Bath Time (2012)” by Palestinian video artist, Sharif Waked.

Finding a Voice (2012) draws on Ross’ experiences of learning a second language. There was a momentary pause, a gap between the mind and body which made Ross question herself before speaking. This disconnection was physical and psychological. Her practice examines the body as the living container of actions, thoughts and desires which actualize themselves into words in our throat through the articulation of sound (which causes the voice folds to produce vibrations). This video explores such experiences on the body as a metaphor for the repercussions on one’s sense of self; playing on the process of trying to own a foreign language.

The Foreignness of Language (2011) draws on Nina’s experience of learning Norwegian to explore how second language acquisition influences and disrupts identity. The process of learning a second tongue involves adapting and adjusting to knowing and not knowing oneself in an unfamiliar language. The foreignness of language investigates the duality of having two languages sitting inside oneself and as a result having one’s identity in a constant state of flux. The video examines the tension of being caught between two languages represented by the experiences on the body as a metaphor for the repercussions on a sense of self.

Gaza Zoo/Bath Time (2012) is a video work of a donkey transformed into a zebra in Gaza. The cross-dressing of the species variety took place at the hands of an entrepreneur  whose zoo was badly damaged in the Israeli incursion earlier that year in order to draw the crowds back. In the video “Bath Time” a donkey takes a good shower after a long day saturated with the spectator’s gaze and laughter at the Gaza Zoo. Gaza Zoo explores the industry of amusement. It ponders the politics and aesthetics of role-play and performance, the penal colony and the wild; the make-up artist and his muse; and the original and its copy.

Kamis, 27 November 2014

Feeling Safe

Kata mereka, perasaan nyaman muncul ketika kita bersama dengan orang yang sangat mengenal dan memahami kita. Kata mereka, orang yang memahami kita merupakan orang yang menghargai kita. Kata mereka, orang yang menghargai kita tidak akan membuat kita terluka dan terasing. Itu kata mereka. Bukan kata saya.

Ada hal yang sangat saya benci dalam memulai suatu hubungan. Hubungan yang saya maksud bukan hanya sekedar pacaran atau persahabatan. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan yang mengikutsertakan ikatan emosional. Ketika memulai suatu hubungan, tak jarang terjadi pencampur-adukkan suatu hubungan dengan yang lainnya.

Contohnya, saya berhubungan dengan laki-laki yang secara sengaja maupun tidak sengaja akan ikut serta dalam hubungan-hubungan lain. Laki-laki ini bisa saja meminta saya untuk menemaninya ke suatu acara. It means, acara tersebut adalah hubungan (relasi) dia yang berada di luar saya. Why on earth I should accompany him?

Contoh lainnya, saya (dulu) memiliki teman sekolah yang kemana-mana atau apapun harus melakukannya secara bersama-sama. Karena terlalu bersama, maka teman mantan pacarnya harus diketahui juga.

Karena pencampur-adukkan hubungan inilah, saya merasa tidak nyaman dengan orang yang saya kenal. Coba bayangkan, saya berteman dengan A yang mengetahui latar belakang saya berhubungan dengan si C, D, bahkan Z. Ketika bertemu dengan A, saya tidak bisa lagi bercerita dengan nyaman tentang hal-hal yang membuat kita menjalin hubungan. Saya merasa tidak nyaman ketika orang-orang yang berhubungan dengan saya melihat saya dengan latar-belakang yang sudah mereka ketahui.

Pernah ada satu kejadian yang membuat saya menjadi tidak nyaman dengan orang yang saya kenal. Jadi suatu hari saya bertemu dengan A, teman yang sudah lama tidak berjumpa. Pertemuan, yang menurut saya menjadi menyenangkan karena bisa bernostalgia ataupun membuat nostalgia, tiba-tiba menjadi awkward ketika dia menanyakan pacar saya. Saya jelas bingung, darimana A yang bertahun-tahun tidak bertemu dengan saya mengetahui pacar saya pada saat itu. Cerita punya cerita, pacar saya dan teman mantan pacar A merupakan roomate semasa kuliah di luar negeri. Bukan, ini bukan tentang sempitnya dunia. Ini tentang kenapa mereka berusaha mengatakan kepada saya, "gw kenal dengan relasi lo yang lain".

Masalahnya adalah memangnya kenapa kalau mereka saling mengenal tanpa menyampaikan hal tersebut pada saya, seakan-akan saya harus mengetahuinya? Bukankah A dapat menghakimi saya hanya melihat gaya pacaran saya? Saya pernah dihakimi memiliki sugar daddy hanya karena berhubungan dengan pria yang umurnya jauh di atas saya. Yang ada sampai sekarang, saya kadang dianggap "nakal" oleh mereka yang menghakimi. Padahal mereka tidak mengetahui bahwa pria ini single (memutuskan tidak ingin menikah) dan menghormati saya sebagai perempuan. Menyedihkan juga sih ketika mengetahui orang-orang yang kenal malah menyakiti karena terlalu ingin mengenal.

Pada akhirnya saya merasa nyaman berhubungan dengan mereka yang tidak melihat latar-belakang saya dan berusaha untuk tidak mencampur-adukkan hubungan-hubungan yang ada. Saya lebih nyaman dan bebas di sekeliling orang-orang asing yang tidak memperdulikan siapa saya. Saya lebih memaklumi jika orang-orang asing ini menyakiti saya karena saya tau mereka tidak mengenal saya. Karena aneh rasanya ketika orang-orang yang merasa kenal malah menyakiti

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.