...

Jumat, 13 November 2015

Setelah Brandy..

Mungkin saat itu kita mengutuk waktu yang berlalu begitu cepat. Mungkin saat itu kita mengutuk brandy yang terlanjur menghangatkan suasana. Mungkin saat itu kita mengutuk keakraban yang tercipta. Mungkin saat itu kita tak ingin berteman lagi dengan sepi. Kemungkinan-kemungkinan yang tak pasti itu membuat kita mengulur waktu untuk berpisah.

Kau berkata bahwa kau berlibur di kota ini dan ingin sekali menikmati malam di kota ini. Kau bertanya apakah aku berkenan menunjukkan dan menemaninya menghabiskan malam dengan berbincang. Aku tersenyum mendengarnya dan mengiyakan ajakanmu. Dalam hati aku berkata kau ini lelaki yang masih punya sopan setelah begitu berani menyapaku dengan brandy. Lalu, berdua kita menuju mobilmu. Mencari tempat untuk menghentikan malam. Kita berusaha melawan waktu. Akan tetapi,kita masih cukup sadar bahwa itu melawan alam. Tidak mungkin.

Saat itu kau berjalan agak cepat setelah membuka pintu mobil dari kunci otomatisnya. Aku perkirakan ada empat langkah yang tersisa hingga menuju mobil. Kenapa kau terburu-buru, tanyaku. Kau menghentikan langkahmu dan menjawab bahwa kau hanya ingin membuka pintu mobil untukku. Aku sedikit gusar dengan jawabanmu. Aku bisa membuka pintunya sendiri, apa aku terlihat seperti perempuan yang terlalu lemah untuk membuka pintu mobil sendiri? Kau menatap mataku saat mendengar pertanyaanku. Lalu, kau menujuku yang tertinggal empat langkah. Aku tidak berpikir seperti itu, sekarang aku akan berjalan di sisimu untuk menuju tempat yang sama. Itu jawabmu sambil menautkan jemarimu di jemariku. Aku terdiam. Sambil menggenggam erat jemariku kita berjalan bersama menuju mobilmu. Kau begitu lancang. Tapi, siapa aku yang berani menepiskan kehangatan yang menjalar ke hati?

Aku menanyakan kau ingin ditemani kemana. Kau bilang terserah padaku karena aku yang memahami daerah ini. Aku menatap jam tanganku lalu menoleh ke arahmu. Ini pukul sebelas dan satu-satunya tempat yang masih buka hanya fasilitas di dalam penginapan, pikirku. Ku katakan hal itu padamu. Kau menjawab dengan sedikit gugup, ini pulau yang terkenal dengan pantainya lebih baik kita ke pantai. Aku mengernyitkan keningku. Di pulau ini ada semacam aturan untuk tidak memasuki pantai umum di malam hari. Katanya ada semacam roh jahat yang akan merasuki jika melanggarnya, jelasku. Belum selesai penjelasanku, kau menjawab bahwa itu bisa saja hanya mitos yang tak perlu dipercaya. Aku pun tidak mempercayainya, ujarku, tapi sesuatu yang tak kita percayai bukan berarti membuat kita tak menghormati kepercayaan orang-orang yang mempercayai itu. Kau diam, suasana menjadi tambah dingin.

Kau mulai menyalakan mesin mobil. Baiklah, kita menuju ke tempat yang kau maksud. Itu katamu sambil menarik napas. Sungguh, pada saat itu aku tak mengerti apa yang ada dipikiranmu. Sungguh, pada saat itu aku ingin bertanya kenapa. Sungguh, pada saat itu aku mengutuk mulutku yang tak berani berucap. Sungguh, pada saat itu aku membenci sunyi.

Apa kau punya album lagu yang bisa aku dengarkan? Aku benci sunyi yang seperti ini, ucapku. Aku menyimpannya di laci itu, katamu sambil menunjuk dashboard di dekat kakiku. Kau tinggal pilih dan jangan menertawakan jika kau merasa koleksiku buruk, lanjutmu. Aku pun mulai membuka laci yang kau maksud. Kau cukup banyak memiliki album dan susunannya sangat rapi untuk seorang lelaki. Ku telusuri album-album tersebut, kebanyakan dari mereka beraliran jazz dan soul. Hingga akhirnya jemariku berhenti pada satu album. Aku terkejut kau memiliki album tersebut. Sungguh sangat sulit untuk mendapatkan koleksi penyanyi bersuara lembut ini.

Kau tau betapa sulitnya aku mendapatkan album ini, tanyaku. Kau melirik album yang berada di tanganku. Kau tau Katie Melua, tanyamu dengan terkejut. Ku kira generasimu lebih mengetahui musik-musik yang memekakkan telinga. Kau sungguh sulit diprediksi, lanjutmu. Jadi, kau ingin mengatakan telingaku terbiasa dengan suara-suara berisik ya. Sindirku. Kau terlalu banyak bergaul dengan orang-orang yang seperti itu. Lanjutku. Sisa perjalanan kita habiskan dalam diam menikmati lagu-lagu perempuan bermata indah tersebut.

2 komentar:

  1. lanjutin yang bermalamnya dong, Ra :p

    BalasHapus
  2. Soon. Ini udah pernah gw post do evernote , teen 😜

    BalasHapus

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.