...

Senin, 11 Januari 2010

Secangkir Kopi Pada Saat Itu...

Saya sedang menunggu untuk datang pada suatu masalah. Ya, saya datang untuk menderita. Detik-detik menjelang penderitaan itu, saya teringat pada kopi.

Kopi, satu minuman yang sangat saya senangi. Entah kenapa dan entah kapan saya menyukainya. Dari sekian banyaknya kopi, saya sangat memilih kopi hitam, atau yang lebih dikenal dengan kopi tubruk, tanpa gula. Saya akan menolak latte, moccha, bahkan capuccino sekalipun jika ada kopi hitam di antara mereka. Dan kopi hitam ini harus tanpa gula. Ya, itulah kopi kesukaan saya.

Siang ini, saya ingin meminum kopi. Tapi, kopi yang saya dapatkan hanyalah kopi kalengan Latte. Tidak ada kopi hitam. Apa boleh buat. Entah kenapa saya sangat butuh suntikan kafein di tubuh ini, apakah karena pengaruh penderitaan yang sebentar lagi akan saya jemput? Entahlah...

Meninum sekaleng kopi Latte ini, mengingatkan saya akan kenangan meminum secangkir kopi hitam. Baik itu ketika bercengkrama dengan teman di kampus, berbagi secangkir kopi pada sang asa yang tidak mengetahui rasa ini, bahkan dinginnya udara yang menyelimuti kediaman saat itu. Terlalu banyak cerita yang hadir pada secangkir kopi pada saat itu...

Secangkir kopi pada saat bercengkrama dengan teman adalah salah satu yang saya rindukan. Kopi yang ada cuma seharga dua ribuan, tapi entah kenapa saya lebih suka untuk meminta uang pada teman yang juga senang kopi. Berbagi uang untuk kopi. Ketika uang sudah ada, saya berdebat dengan sang teman, akan rasa dan hidangan kopi yang akan dibeli. Saya tidak ingin memakai gula, sama sekali tidak ingin. Teman saya ini ingin memakai satu sendok gula. Saya ingin memakai cup, dia ingin memakai gelas. Saya ingin memakai sedotan, maka ia akan mengatakan "Untuk apa memakai sedotan pada secangkir kopi panas?". Lalu, saya akan menjawab, "Untuk apa memakai sendok kalau tidak memakai gula? Toh, tidak akan ada yang diaduk". Perdebatan tidak akan berhenti sampai saya dan ia sepakat, "Oke, kopi tidak pakai gula. Tapi menggunakan gelas".

Akhirnya secangkir kopi datang. Pembicaraan pun semakin menjalang. Di satu meja yang terhidang kopi, jus, teh, dan sebagainya. Sang teman mulai menggoda saya, Tapi, toh saya biarkan saja. Karena saya tahu ini hanya pembicaraanseorang teman yang hanya perlu diputarbalikkan. Teman saya ini pun terus menggoda. Saya balas. Dan akhirnya saling menggoda. Aah, tetap saja pembicaraan jalang itu hangat.

Teman  : Ra, lengkingan suara lo oke deh. Masuk band gw dong
Saya     : Band lo kan rock. Gw gak ngerti rock!
Teman  : Bukan dodol! Metal
Saya     : Bahkan gw gak bisa bedain rock dengan metal. Sama kayak gw gak bisa bedain rambut lo dengan
              rambut barbie

Itu cuma sebagian kecil pembicaraan jalang antar teman yang hangat. Saya rindu berbicar demikian diselingi secangkir kopi hitam...

Kali ini, secangkir kopi memiliki rasa yang berbeda. Udara kali ini dingin, karena hujan yang tak kunjung berhenti. Saya duduk di meja dengan teman-teman, kemudian memesan kopi sesuai selera saya. Kali ini, teman-teman saya tidak ada yang menyukai kopi.

Secangkir kopi pun tersaji. Saya menikmati pahit dan hangatnya pada udara saat itu. Kenikmatan ini sedikit terusik ketika seseorang duduk di samping saya. Saya menoleh dengan sinis pada orang yang mengganggu ketentraman saya menikmati secangkir kopi. Seseorang ini ternyata Sang Asa...

Tanpa meminta izin, ia menyeruput harta saya saat itu. Saya tidak dapat berbicara apa-apa. Saya hanya diam. Selanjutnya sang asa melakukan pembicaraan yang hanya ditimpali oleh teman-teman saya. Tiba-tiba, seakan menyadari kebisuan ini, ia bertanya, "Kenapa lo ra? Tumben diem". Saya hanya dapat menjawab, "Ga papa. Lagi males ngomong aja. Capek". Teman-teman saya hanya menatap saya. Mereka tahu perasaan saya akan sang asa. Dengan tatapan itu, saya membalas tatapan dengan pandangan bodoh. Saat itu, entah kenapa saya benar-benar merasakan pahitnya kopi ini.

Sang asa kemudian berlalu. Dan saya mengutuk diri. Ketika malam menghampiri, sang asa mengucapkan terimakasih atas kopi saya, melalui pesan singkat. Saya membalas, "oke. gw kira lo lupa bilang makasih. Lain kali gw traktir lo secangkir kopi. Biar gak nyolong tiba-tiba". Dan sang asa membalas pesan itu, "Gak usah Ra. Lo tau gak, secangkir yang dinikmati bersama-sama itu lebih enak. Karena ada rasa saling berbagi". Dan saya pun tidak mampu membalas pesan singkatnya lagi...

Kali ini saya meminum secangkir kopi. Di kota yang memang tidak pernah pans ini. Di hadapan saya ada lelaki yang mengisi hai-hari saya, walaupun sejenak. Entahlah, perasaan saya pada saat itu. Di bawah tatapannya yang tetap sama. Dengan perhatian ia mendengar cerita ini. Bersabar menunggu ketika ada jeda di antara cerita ini. Saya kembali berharap, pada tatapan itu, pada kehangatan itu. Kopi, dingin, diam, dan tatapan mengisi malam itu.

Dan aku ingin waktu berhenti. Biarlah saya resah dengan rasa ini, biarlah kopi ini menjadi dingin. Kali ini saya rela... Tapi, ketika ia menawarkan gula pada kopi hitam ini, saya terhenyak. Dia tidak mengetahui bahwa saya tidak menyukai gula pada secangkir kopi. Saya pun menghentikan asa. Dia tidak mengetahui saya. Buat apa saya memaksakan diri pada keresahan ini? Saya ingin berpisah pada saat itu juga. Bahkan secangki kopi pahit inipun tak mampu saya habiskan ketika mengetahui itu. Cukuplah sudah basa-basi ini, pada malam yang dingin ini. Saya tidak ingin meninggikan harapan ini lagi. Karena dengan setengah kopi yang tersisa ini saja, harapan saya sudah meninggi dan sakit. Tahu kah kamu wahai sang harapan? Hingga detik ini juga, asa saya masih padamu...

Sepertinya secangkir kopi ini hanya cerita saya. Ditemani oleh pahit dalam menghadapi pahit. Apakah saya mengharapkan manis dalam pertemuan pahit tersebut? Seperti halnya minus dan minus menjadi positif? Sungguh, saya tidak mengharapkan manis. Hanya secangkir kopi ini yang menggambarkan saya.

Hidup saya kelam
Hidup saya pahit
Saya dinikmati oleh dunia dan orang lain
Hingga tersisa ampas, itu saya...
Saya kopi yang dinikmati hingga tersisa ampas
Yang masih saja pahit


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.