...

Kamis, 24 September 2009

About Consciousness being myself

Belakangan ini saya sedang suka-sukanya nonton dvd. Mungkin untuk membuang rasa jenuh dan kesendirian yang terasa sepi. Walaupun saya sangat suka kesendirian, terkadang rasa sepi sangat menakutkan. Maka, mulailah saya menonton beberapa film.

Semalam, saya menonton Being John Molkovich. Kenapa saya tertarik menonton film ini? Mungkin karena film ini terlalu sering disebut oleh dosen saya, Bapak Harsawibawa, dalam perkuliahan Philosophy of Mind. Beliau selalu bilang, bagaimana mind itu sebenarnya. Sebenarnya, saya ingin menggunakan sekali kata "Apa" dalam kalimat sebelumnya. Akan tetapi, saya sangat menyadari bahwa definisi dari kata "Apa" hanya akan memberikan penjelasan secara jelas. Sementara mind sampai sekarang tidak dapat saya jelaskan.

Berbicara masalah kesadaran, ada suatu kalimat dalam film itu yang sangat membuat saya tertarikuntuk berpikir. How lucky you are being a monkey. Because consciousness is terrible curse. Benarkah kesadaran itu sebuah kutukan? Seberapa beruntungnya 'sesuatu' yang tidak memiliki kesadaran? Atau, benarkah yang dinamakan makhluk tidak memiliki kesadaran?

Sebelum ber-monolog terhadap pertanyaan yang saya buat sendiri, saya akan melanjutkan mengapa sang tokoh mengucapkan kalimat seperti itu. Kemudian,lanjutan kalimatnya adalah (kurang lebih saya mengartikannya seperti ini), karena manusia selalu merasakan, memikirkan, mencemaskan, dsb, yang terkadang membuat manusia (dalam kasus ini adalah dia) 'sakit'. Manusia tidak tahan akan perasaan sakit itu. Hmm, mungkin saya paham apa yang dia maksudkan. Walaupun saya tidak mengucapkan I feel what you feel, karena menurut saya kalimat ini munafik sekali. Bagaimana mungkin orang yang berbeda merasakan perasaan yang sama? Yang ada mungkin kalimat, setidaknya saya merasakan apa yang kamu rasa sesuai dengan perasaan saya. Oke, saya belum memberikan respon saya terhadap alasan mengapa tokoh utama mengatakan demikian.

Lalu, mari lompat ke scene selanjutnya dalam film tersebut. Jalan cerita tersebut membuat seseorang yang menjadi 'obyek' orang lain untuk masuk ke badannya. Dengan kata lain, sang obyek tidak memiliki kesadaran akan dirinya sendiri, karena kesadaran atau seluruhnya-selanjutnya saya akan mengatakan mind, diisi oleh orang lain. Jadi, sang obyek tidak akan merasakan 'sakit' yang dikeluh kesahkan pada paragraf sebelumnya. Ahay, keliatannya enak ya. Saya tidak merasakan diri saya sendiri. Karena terkadang, dunia terlalu kejam dan paradoks untuk dijalani. Tapi, saya tidak akan memilih hal ini walaupun ditawarkan.

Saya lebih memilih untuk memiliki rasa 'sakit' itu daripada hidup seperti zombie atau benda mati. Bukan, bukan karena saya adalah seorang masokis. Saya memiliki alasan kenapa saya memilih hal itu. Manusia memang harus berada dalam suatu situasi yang terkadang menyakitkan. Kita tidak bisa memilih untuk hidup seperti yang kita mau. But, hey kalaupun pilihan itu ada dan ditawarkan pada saya, saya tidak akan mau. Saya tidak mau hidup dalam dunia yang membuat saya 'tumpul' karena kenyamanannya yang sesuai dengan kehendak saya. Bagi saya, masalah adalah pengalaman yang paling berharga. Akan tetapi, karena saya sadar bahwa saya tidak mungkin hidup dalam dunia yang begitu nyaman, maka saya secara sadar menghadapi masalah.

Jujur saja, terkadang ketika masalah sudah berhadapan dengan saya dengan muka yang menakutkan, terkadang saya lelah juga. Terkadang saya ingin menyerah saja dan memilih sebagai zombie. Ahahaha, sepertinya saya tidak konsisten dengan ucapan saya. Karena saya tau bahwa manusia itu paradoks, jadi hal itu tidaklah aneh. Akan tetapi, hal itu hanya berupa keinginan saja, dan tidak mungkin terealisasi. Dan saya mengucapkan syukur akan hal itu. Saya selalu yakin bahwa saya akan menjadi biasa karena keterbiasaan tersebut. Dan saya yakin bahwa hal itu tidak akan terlalu menyakitkan saya. Saya tidak terlalu takut lagi menghadapi masalah atau hidup.

Lalu, apakah saya menjadi orang yang dingin terhadap hidup? Kata siapa? Tentu saja saya suka meluapkan perasaan saya. Meluapkan perasaan itu juga merupakan bagian dari kesadaran. Bahkan berpandangan dingin pun bagian dari meluapkan perasaan. Manusia itu makhluk yang berperasaan, bahkan yang memiliki logika sangat kuat pun. Jadi, jangan mengatakan saya tidak berperasaan. I show what I feel with my own way, like you do. Oia, bahkan beberapa teman saya mengatakan bahwa saya sangat kuat, perempuan yang kuat. Kata siapa? Saya terkadang lemah juga, tetapi saya tidk mau berlarut-larut. Saya selalu merenungkan hal yang membuat saya lemah, dan akhirnya membuat saya bangkit lagi.

If you ask me, "Do you wanna being someone else and lose the pain?"
Saya akan menjawab, I wanna being myself and feel all. I care about pain and happy. Buat apa menjadi orang lain yang bahkan kamu tidak tau siapa kamu sebenarnya.

Notes:
-Terimakasih kepada Bapak Albertus Harsawibawa yang selalu mengulang-ulang judul film itu. Sehingga saya bermonolog dan sadar
-Cetakan tebal merupakan kalimat yang keluar sejalan dengan monolog ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.