...

Rabu, 12 Desember 2012

Tentang Bahagia (tak) Berevolusi


Hampir semua orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahkan beberapa teori muncul dari pencarian kebahagiaan tersebut. Tak heran banyak pula buku-buku fiksi maupun non-fiksi menuliskan tentang kebahagiaan tersebut.

Salah satu buku yang menulis tentang kebahagiaan tersebut merupakan buku karangan Eric Weiner yang berjudul The Geography of Bliss. Weiner menghubungkan kebahagiaan dengan keadaan geografi. Ia mengatakan bahwa di mana kita adalah sangat penting bagi siapa kita (hlm. 18). Agaknya Weiner ingin mengatakan bahwa pencarian terhadap eksistensi diri berhubungan erat dengan kebahagiaan. Tak heran para eksistensialis acap kali dianggap sebagai orang-orang pemurung yang berlawanan dengan masyarakat. Buku ini sendiri berusaha merangkum kebahagiaan 10 negara. Tentu saja pemaknaan kebahagiaan tiap-tiap negara berbeda.

Adapun yang saya tuliskan berikut ini bukan merupakan resensi terhadap buku terebut. Tulisan saya lebih merupakan tanggapan terhadap pertanyaan yang diajukan Weiner secara lalu. Ada bagian yang cukup menggelitik saya ketika Weiner berusaha menghubungkan evolusi dengan kebahagiaan:

“…Ketika mereka (ilmuwan saraf) menunjukkan gambar yang menyenangkan kepada subyek, bagian dauntelinga menjadi aktif. Ketika mereka menunjukkan gambar yang tidak menyenangkan kepada subyek, bagian otak yang lebih primitive menjadi hidup. Perasaan bahagia, dengan kata lain, tercatat di wilayah otak yang berkembang belakangan.  Hal ini menimbulakn pertanyaan menarik apakah kita secara evolusioner, jika bukan istilah pribadi, malas berjalan menuju kebahagiaan?” (hlm. 31-32)

Berdasarkan hokum evolusi (survival of the fittest), yang mengalami evolusi adalah makhluk yang tahan terhadap perubahan alam. Kita dapat lihat melalui punahnya Dinosaurus yang dianggap sebagai makhluk non-evolusioner. Jika dikaitkan dengan kemajuan IPTEK dewasa ini, perubahan alam bukanlah sesuatu yang cukup ditakutkan lagi. Berbagai penemuan, jika tidak ingin dikatakan menanggulangi bencana alam,  dapat meminimalisir korban jiwa. Maka yang dikatakan evolusi pada jaman sekarang merupakan evolusi mental (psiklogis).

Kemajuan IPTEK yang berbanding lurus dengan taraf ekonomi, menyebabkan manusia teralienasi (menggunakan istilah Marx) dengan dirinya sendiri dan masyarakat. Salah satu kekhawatiran Marx terhadap masyarakat industry-kapitalis adalah manusia yang menyamakan kebahagiaan dengan materi. Selama ini Marx dianggap oleh orang awam merupakan pemikir materialis, saya mebaca Marx sebagai pemikir yang prihatin terhadap kebohongan pemilik tanah yang menawarkan mimpi-mimpi kepada para pekerja agar terus berbakti kepadanya. Kebohongan ini menurut Marx dapat dilawan jika para pekerja sejahtera dalam ekonomi. Artinya, para pekerja harus siap melakukan revolusi terhadap kaum kapitalis. Dapat disimpulkan, kebahagiaan menurut Marx adalah tidak tertindas secara materi yang jika tidak dapat dicapai akan menciptakan perbudakan.

Jadi, masyarakat yang bahagia adalah masyarakat yang kuat secara ekonomi. Jika saya kaitkan dengan pertanyaan Weiner di atas, ada empat kemungkinan dalam masyarakat dan evolusi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut, ialah:
1. Masyarakat bahagia dengan ekonomi cukup, malas berjalan menuju kebahagiaan tidak akan mengalami evolusi karena ‘kebercukupan’ membuat mereka tidak bersiap secara mental terhadap perubahan.
2. Masyarakat bahagia dengan ekonomi cukup, merupakan masyarakat yang evolusioner karena dua aspek (bahagia dan ekonomi) membuat mereka terus mengikuti IPTEK
3. Masyarakat tidak bahagia dengan ekonomi yang tidak cukup, merupakan masyarakat evolusioner karena mereka terbiasa dengan represi perubahan. Dapat dikatakan masyarakat jenis ini merupakan masyarakat yang kuat secara mental
4. Masyarakat tidak bahagia dengan ekonomi   yang tidak cukup, merupakan masyarakat yang tidak evolusioner karena meraka tidak mempunya persiapan IPTEK yang didukung oleh ekonomi.

Pembicaraan dari awal berada di sekitar evolusi secara psikologis, kemungkinan pada nomor 3 merupakan hal yang ideal terhadap penelitian yang disebutkan Weiner di atas. Kemungkinan yang hadir pada masyarakat nomor 3 ialah mereka kuat secara mental terhadap represi perubahan. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah biasanya masyarakat yang seperti ini akan dianggap oleh psikolog/psikiater sebagai masyarakat yang sakit.

Menurut para psikolog, ada baiknya seseorang menunjukkan sedikit emosi terhadap apa yang yang merepresi mereka. Ada baiknya menangis jika merasa sedih. Ada baiknya merasa iri terhadap teman yang selalu mampu membeli gadget terbaru. Kuat terhadap represi perubahan IPTEK yang seperti ini dianggap sebagai hal negative yang perlu diobati. Sementara masyarakat nomor 3 lah yang merupakan masyarakat yang dianggap evolusioner. Jika demikian, mengapa masyarakat yang dikatakan depresi memerlukan pengobatan agar bahagia? Sementara, jika berdasarkan penelitian di atas, orang yang bahagia cenderung malas berjalan ke pintu evolusi. Apakah kita memerlukan bahagia lantas punah?





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.