...

Selasa, 20 April 2010

Ketika politik menggeli(ti)kan

Saya terharu, bahkan menitikkan air mata.
Satu lagi film yang mengharuskan saya bermonolog. Saya lebay? Terserah kata anda.
Kali ini filmnya berjudul "3 IDIOTS", and thank's God it is not a kind of Hollywood film.Tapi film Bollywood. Saya tidak terlalu suka menonton film 'kacangan' ala Hollywood, hanya memaksimalkan visual bukan ide yang digali. Am I idealism? Nevermind..


Secara keseluruhan film ini menceritakan tentang pendidikan yang dikemas secara beda. Ya, walaupun masih diselingi dengan nyanyian dan tarian di kala hujan turun, ataupun hembusan angin di rambut pemeran perempuan. Tapi, bagi saya itu gak masalah. Karena Bollywood tetap menunujukkan keunikan pada film mereka, tidak mengikuti metanarasi (Oom Lyotard, saya pinjam ya istilahnya) Hollywood. Coba film Indonesia ada ciri khasnya ya. Atau ciri khas horor-mesum itu ciri khas film kita? Aah, saya tidak tahu lah.


Oia, balik ke ide 3 Idiots itu, saya berdecak kagum. Oh man, India sudah mulai mengkritik masalah pendidikan. Dan itu bagus! Pendidikan yang selama ini identik dengan ada yang mendidik dan dididik, ada guru dan ada murid, ada yang dipatuhi dan mematuhi, ada yang otoriter dan ditindas. Pendidikan selalu disempitkan menjadi sekolah, yah walaupun sekolah merupakan salah satu bentuk dari realisasi pendidikan, tapi menurut saya pendidikan (sekolah) seperti itu mengandung unsur politik. Malah mendehumanisasikan manusia.Ada maksud tertentu dari pendidikan formal seperti itu.


Permasalahan ini sudah masuk ke ranah politik.Dan saya tidak suka berpolitik, tapi apa di daya kehidupan ini saja sudah sarat dengan politik. Ada keinginan untuk melancarkan tujuan, diakui, bahkan berkuasa. Kalau begitu, aliran eksistensialisme merupakan aliran politik juga kah? Sepertinya saya harus berdiskusi dengan dosen esok hari tentang masalah ini. Sekolah adalah politik. Kenapa demikian? Saya melihat sekolah memiliki tujuan dan sistem tertentu dalam 'mendidik' yang biasanya kita sebut kurikulum. Contohnya saja, sekolah negeri menjadi favorit karena kebanyakan lulusannya akan tetap berada di jalur negeri yang aman. Ya, sebut saja PNS. Sekolah swasta, ini sih katanya buat orangtua yang berlebih dan memiliki anak yang kurang minat belajarnya. Mau tidak mau si anak disekolahkan agar diterima masyarakat. Dari kedua jenis sekolah di atas terdapat tujuan yang sama, yaitu agar dapat diterima oleh masyarakat. Tujuannya sih SEPERTINYA baik. Oia, saya lupa menyebutkan salah satu jenis sekolah yang sangat berbeda, pesantren. Jenis sekolah ini juga memiliki kurikulum agar yang dididik diterima di masyarakat. Kan Indonesia masih kental nuansa agamanya, apalagi sebagai penganut Islam terbesar yang sangat ekslusif, dengan sangat mudah menyalahkan sesuatu berdasarkan dalil wahyu ataupun kitab. Agama yang sama sekali tidak reflektif. Apakah saya pesimis terhadap agama? Ya, seperi itulah.


Lalu, ada apa dengan masyarakat kita? Kenapa sekolah sampai segitunya agar yang dididik diterima oleh kehidupan sosial? Kenapa sekolah ingin menguniversalkan manusia dan meniadakan perbedaan pada diri manusia itu? Berarti di masyarakat memiliki konsep sendiri tentang manusia yang ideal, yang sempurna. Tapi benarkah ada masyarakat yang sempurna? Jika tidak ada manusia yang sempurna, bagaimana dengan masyarakat itu sendiri yang terdiri dari kumpulan-kumpulan manusia yang tidak sempurna? Menurut saya, dari permainan logika dan kata ini sendiri sudah meruntuhkan kosep masyarakat ideal. Lalu, siapa yang mengatakan bahwa masyarakat yang ideal itu ada? Pemenrintah dan penguasa! Di Indonesia, konsep masyarakat ideal adalah masyarakat pancasila, di China konsep masyarakat ideal itu masyarakat sosialis, di Irak konsep masyarakat ideal adalah masyarakat fundasionalis. Aaah, terlalu banyak yang konsep masyarakat ideal di dunia ini. Bukankah seharusnya yang ideal itu satu, kenapa jadi banyak begini? Begitu juga dengan agama, setiap agama mengakui bahwa merekalah yang paling benar. Jika semua benar, siapa yang benar-benar 'benar' ? Membingungkan. Bagi saya, semuanya benar dan semuanya salah. Itulah sebabnya saya tidak mau mengikuti sistem yang ada, terlalu utopis dan omong kosong. Kenapa kita tidak menerima semua sekaligus menolaknya?


Begitu juga yang saya pikirkan tentang sistem pendidikan yang sudah diformalkan kedalam institusi (sekolah, universitas). Sekolah sudah memiliki aturan permainan yang harus diikuti, kalau tidak diikuti para pembangkang harus keluar. Kok jadinya sekolah sangat arogan ya? Bukankan sekolah seharusnya berisikan tentang pendidikan yang memanusiakan manusia tanpa terikat oleh sistem yang mengekang manusia menjadi 'sesuatu' yang universal. Hei, gak ada lho manusia yang sama! Kita semua memilki latar belakang yang berbeda. Pengalaman manusia itu berbeda, pikiran manusia juga berbeda. Bahkan konsep perasaan saja berbeda. Yang sama dari kita ya cuma KATA manusia saja. Tidak lebih.


Pendidikan seharusnya yang seperti itu, benar-benar membebaskan. Bukan memenjarakan.
Itulah sebabnya saya tidak suka politik. Ada yang arogan dalam politik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.