...

Kamis, 06 Juni 2013

Time flies, friends changed

Kemarin saya ketemu dengan teman-teman lama. Suasana yang sebaiknya diisi dengan melepas rindu ini, entah kenapa bagi saya, tidak sehangat pertemanan yang pernah ada. Tidak, saya tidak menyalahkan mereka. Bisa saja saya yang terlalu sensitif. Biasalah, tipe Taurus (malah nyalahin zodiak).

Saya akan menceritakan sedikit kronologisnya. Sore itu, saya dan teman-teman lainnya berjanji untuk ketemu. Kita semua sudah sekitar setahun tidak bertatap muka. Saya datang 15 menit lebih lama dari waktu yang dijanjikan. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan karena masa depan saya menyenggol pekerjaan ini. Toh, agaknya menunda melampiaskan rindu sudah menjadi kebiasaan. Sesampainya ditempat yang ditentukan, saya hanya melihat 3 dari 15 yang berjanji hadir. Mereka terlambat juga, pikir saya.

Tak perlu menunggu lama, mereka semua hadir. Pembuka obrolan selalu menanyakan keadaan. Pertanyaan basa-basi sebenarnya, tapi entah kenapa menimbulkan efek bahagia bagi saya. Setidaknya pertanyaan basa-basi itu menciptakan delusi berbentuk keperhatian. Tetapi, delusi cepat dihancurkan ketika pertanyaan umum selanjutnya adalah masalah pekerjaan. Oke, kita semua memang berada di tahap umur untuk bekerja.

Anehnya, itu bukan pertanyaan basa-basi. Obrolan malah terus bergulir di seputar pekerjaan (perusahaan bergerak dibidang apa, kerjaannya apa saja, gajinya berapa, kelakuan boss atau teman sekantor yang seenaknya). Saya tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk "menjaga" komunikasi. Padahal, saat itu juga saya berpikir "are they really my friends?". Hal-hal yang mereka bicarakan itu hal yang baru datang dalam pertemanan ini. Simplenya, masalah pekerjaan itu seharusnya diletakkan (bahkan harus dibuang) jauh-jauh ketika kita berada dalam lingkaran teman.

Lelaki saya selalu bilang, "letakkan semuanya di luar karena kita sedang ada di rumah". Maksudnya adalah mencampurkan dua situasi pada satu keadaan malah akan memperburuk keadaan. Coba bayangkan (ini masih penjelasan lelakiku), salah satu dari kita menceritakan satu hal yang tidak dialami secara bersama-sama, akankah ada pemahaman? Tentu saja, tidak ada. Jikapun ada, itu tak lain hanya satu pemaksaan agar pasangannya senang. What kind of relationship is that?

Kembali ke pertemuan saya dengan teman-teman. Kami berbincang berjam-jam. Tapi 3/4 dari jam yang terlewatkan hanya berputar pada pekerjaan. Pada saat itu, saya merasa tak mengenal mereka lagi. Pada saat itu, saya berkata dalam hati "Pertemanan kita selama bertahun-tahun, sudah tidak ada lagi kah kenangan yang ingin dibagi bersama?"

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.