...


Kamis, 04 Februari 2010

Lalu, saya ini apa?

Tulisan kali ini mungkin akan lebih kepada refleksi diri saya atas kehidupan. Merefleksikan ini membuat saya sedih, amat sangat sedih. Kesimpulan secara cepat adalah saya ini bukan suatu realitas. Pahitnya, apakah saya ada? Waduh, tentu saja saya ada, karena kalau saya tidak ada siapa yang menulis ini? Bukan itu yang saya maksud. Memang kita semua 'ada', tetapi 'ada' yang bagaimana? Inilah yang akan saya refleksikan.

Awalnya, seorang dosen yang sudah sangat berkarisma mengatakan pada kelas, yang saya hadiri, bahwa pada masa kontemporer ini yang ditanyakan adalah realitas. Realitas itu apa sih? Tentu saja, apabila kita ingin menjawab secara cepat, realitas adalah kenyataan, yang ada, yang kita jalani. Jawaban yang seperti ini akan membawa kita kepada suatu keadaan yang tidak dapat kita lihat. Jawaban yang 'ada' menjadi sangat metafisik. 'Ada' itu sendiri menimbulkan pertanyaan, apakah hal tersebut tunggal atau tidak? Kalau anda menjawab bahwa realitas merupakan 'ada' yang tunggal, berarti anda merupakan seorang idealis. Seorang idealis? Hmm, menurut saya orang yang seperti ini adalah orang yang picik. Tidak mau berkembang, hanya mau berkembang pada yang satu saja. Sepertinya, penjelasan ini sangat sulit, saya akan memberi contoh saja. Katakanlah saya seorang idealis yang percaya bahwa realitas saya adalah kedamaian. Maka, segala tingkah laku saya akan melihat dunia itu damai, kalau ada sesuatu yang berlawanan dengan kedamaian, saya menganggap hal itu tidak ada. Padahal ketidakdamaian itu ada, Betapa piciknya saya! Lagi pula, kedamaian yang seperti apa yang saya maksudkan? Damai itu sangat banyak artinya. Kemajemukan arti damai saja sudah menunjukkan tidak ada yang tunggal.

Bantahan saya di atas sudah menunjukkan bahwa saya lebih setuju bahwa realitas 'ada' itu banyak. Dari kemajemukan itulah saya dibentuk, dan saya merupakan salah satu realitas. Tetapi, tiba-tiba saja sang dosen menghentak saya, dia menanyakan apakah realitas yang membentuk saya benar-benar yang sesungguhnya? Reaksi pertama saya, tentu saja bingung. Maksud beliau ini apa? Saya tidak mengerti. Kemudian ia menuntun saya dengan logika, yang sangat masuk akal. Begini logikanya:

Katakan lah saya sebuah realitas.
Salah satu realitas adalah masyarakat.
Masyarakat membentuk saya menjadi sesuatu
Yaitu realitas saya yang sekarang

Lalu, untuk melihat the real "I", maka saya harus melihat masyarakat yang membentuk saya. Apakah masyarakat tersebut benar-benar apa adanya? atau masyarakat ada apanya? Masyarakat tersebut tidak pernah saya ketahui, lalu bagaimana saya mengetahui diri saya sendiri? Apakah lingkungan saya benar-benar terbebas dari manipulatif? Apakah keluarga saya benar-benar merupakan suatu keluarga yang didasarkan oleh keluarga ideal, berdasarkan cinta atau hanya berdasarkan hasrat biologis? Hal ini, membuat saya tersentak. Who am I? Apakah saya manusia yang dibesarkan dalam realitas yang tidak saya kenal? Kalau saya tidak mengenal realitas, bagaimana saya mengenal saya? Kesadaran ini membuat saya benar-benar sedih. Konsekuensinya adalah hidup ini penuh manipulatif, kebohongan. Haaah, saya tidak dapat mengatakan apa-apa.

Salah satu realitas yang manipulatif dapat kita lihat dalam teknologi, dalam jejaring sosial. Apakah data yang diberikan selalu benar? Apakah kita dapat menjamin itu benar? Saya pribadi tidak dapat menjamin. Contoh lainnya, seorang perempuan akan menjadi perepuan yang sesungguhnya jika ia putih, lagsing, berambut panjang dan lurus. Ya, sesuailah dengan stereotype perempuan di iklan kecantikan. Anehnya, iklan tersebut sudah mempengaruhi perempuan lainnya. Mereka berlomba-lomba untuk mencapai perempuan jenis itu. Meminjam istilah Baudrillard, bahkan antara realitas itu sudah menjadi hyper-reality. What is the real reality? We never know.

Memikirkan ini saja sudah membuat saya sedih. Sudah lah. Bahkan teknologi malah menjadikan manusia semakin manipuatif, semakin  menciptakan realitas-realitas baru.

Lalu, saya tetap akan bertanya tanya: Saya ini apa??

Senin, 01 Februari 2010

Sherina - Andai Aku Besar Nanti

Andai Aku Besar Nanti
oleh: Sherina
Andai aku t'lah dewasa
Apa yang 'kan kukatakan
Untukmu idolaku tersayang
Ayah... Oh...


Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu


Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku


Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta


Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu


Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku


Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta
********

setiap dengar lagu ini, saya selalu terdiam, ingin menangis. Tapi asa tak kuasa untuk menangis.
ingin sekali rasanya mengucapkan kata-kata sayang kepada mereka, tapi lidah seakan kelu
tak terbiasa sehingga menjadi aneh.
Ingin terungkapkan tapi terhalang.....

Senin, 11 Januari 2010

Secangkir Kopi Pada Saat Itu...

Saya sedang menunggu untuk datang pada suatu masalah. Ya, saya datang untuk menderita. Detik-detik menjelang penderitaan itu, saya teringat pada kopi.

Kopi, satu minuman yang sangat saya senangi. Entah kenapa dan entah kapan saya menyukainya. Dari sekian banyaknya kopi, saya sangat memilih kopi hitam, atau yang lebih dikenal dengan kopi tubruk, tanpa gula. Saya akan menolak latte, moccha, bahkan capuccino sekalipun jika ada kopi hitam di antara mereka. Dan kopi hitam ini harus tanpa gula. Ya, itulah kopi kesukaan saya.

Siang ini, saya ingin meminum kopi. Tapi, kopi yang saya dapatkan hanyalah kopi kalengan Latte. Tidak ada kopi hitam. Apa boleh buat. Entah kenapa saya sangat butuh suntikan kafein di tubuh ini, apakah karena pengaruh penderitaan yang sebentar lagi akan saya jemput? Entahlah...

Meninum sekaleng kopi Latte ini, mengingatkan saya akan kenangan meminum secangkir kopi hitam. Baik itu ketika bercengkrama dengan teman di kampus, berbagi secangkir kopi pada sang asa yang tidak mengetahui rasa ini, bahkan dinginnya udara yang menyelimuti kediaman saat itu. Terlalu banyak cerita yang hadir pada secangkir kopi pada saat itu...

Secangkir kopi pada saat bercengkrama dengan teman adalah salah satu yang saya rindukan. Kopi yang ada cuma seharga dua ribuan, tapi entah kenapa saya lebih suka untuk meminta uang pada teman yang juga senang kopi. Berbagi uang untuk kopi. Ketika uang sudah ada, saya berdebat dengan sang teman, akan rasa dan hidangan kopi yang akan dibeli. Saya tidak ingin memakai gula, sama sekali tidak ingin. Teman saya ini ingin memakai satu sendok gula. Saya ingin memakai cup, dia ingin memakai gelas. Saya ingin memakai sedotan, maka ia akan mengatakan "Untuk apa memakai sedotan pada secangkir kopi panas?". Lalu, saya akan menjawab, "Untuk apa memakai sendok kalau tidak memakai gula? Toh, tidak akan ada yang diaduk". Perdebatan tidak akan berhenti sampai saya dan ia sepakat, "Oke, kopi tidak pakai gula. Tapi menggunakan gelas".

Akhirnya secangkir kopi datang. Pembicaraan pun semakin menjalang. Di satu meja yang terhidang kopi, jus, teh, dan sebagainya. Sang teman mulai menggoda saya, Tapi, toh saya biarkan saja. Karena saya tahu ini hanya pembicaraanseorang teman yang hanya perlu diputarbalikkan. Teman saya ini pun terus menggoda. Saya balas. Dan akhirnya saling menggoda. Aah, tetap saja pembicaraan jalang itu hangat.

Teman  : Ra, lengkingan suara lo oke deh. Masuk band gw dong
Saya     : Band lo kan rock. Gw gak ngerti rock!
Teman  : Bukan dodol! Metal
Saya     : Bahkan gw gak bisa bedain rock dengan metal. Sama kayak gw gak bisa bedain rambut lo dengan
              rambut barbie

Itu cuma sebagian kecil pembicaraan jalang antar teman yang hangat. Saya rindu berbicar demikian diselingi secangkir kopi hitam...

Kali ini, secangkir kopi memiliki rasa yang berbeda. Udara kali ini dingin, karena hujan yang tak kunjung berhenti. Saya duduk di meja dengan teman-teman, kemudian memesan kopi sesuai selera saya. Kali ini, teman-teman saya tidak ada yang menyukai kopi.

Secangkir kopi pun tersaji. Saya menikmati pahit dan hangatnya pada udara saat itu. Kenikmatan ini sedikit terusik ketika seseorang duduk di samping saya. Saya menoleh dengan sinis pada orang yang mengganggu ketentraman saya menikmati secangkir kopi. Seseorang ini ternyata Sang Asa...

Tanpa meminta izin, ia menyeruput harta saya saat itu. Saya tidak dapat berbicara apa-apa. Saya hanya diam. Selanjutnya sang asa melakukan pembicaraan yang hanya ditimpali oleh teman-teman saya. Tiba-tiba, seakan menyadari kebisuan ini, ia bertanya, "Kenapa lo ra? Tumben diem". Saya hanya dapat menjawab, "Ga papa. Lagi males ngomong aja. Capek". Teman-teman saya hanya menatap saya. Mereka tahu perasaan saya akan sang asa. Dengan tatapan itu, saya membalas tatapan dengan pandangan bodoh. Saat itu, entah kenapa saya benar-benar merasakan pahitnya kopi ini.

Sang asa kemudian berlalu. Dan saya mengutuk diri. Ketika malam menghampiri, sang asa mengucapkan terimakasih atas kopi saya, melalui pesan singkat. Saya membalas, "oke. gw kira lo lupa bilang makasih. Lain kali gw traktir lo secangkir kopi. Biar gak nyolong tiba-tiba". Dan sang asa membalas pesan itu, "Gak usah Ra. Lo tau gak, secangkir yang dinikmati bersama-sama itu lebih enak. Karena ada rasa saling berbagi". Dan saya pun tidak mampu membalas pesan singkatnya lagi...

Kali ini saya meminum secangkir kopi. Di kota yang memang tidak pernah pans ini. Di hadapan saya ada lelaki yang mengisi hai-hari saya, walaupun sejenak. Entahlah, perasaan saya pada saat itu. Di bawah tatapannya yang tetap sama. Dengan perhatian ia mendengar cerita ini. Bersabar menunggu ketika ada jeda di antara cerita ini. Saya kembali berharap, pada tatapan itu, pada kehangatan itu. Kopi, dingin, diam, dan tatapan mengisi malam itu.

Dan aku ingin waktu berhenti. Biarlah saya resah dengan rasa ini, biarlah kopi ini menjadi dingin. Kali ini saya rela... Tapi, ketika ia menawarkan gula pada kopi hitam ini, saya terhenyak. Dia tidak mengetahui bahwa saya tidak menyukai gula pada secangkir kopi. Saya pun menghentikan asa. Dia tidak mengetahui saya. Buat apa saya memaksakan diri pada keresahan ini? Saya ingin berpisah pada saat itu juga. Bahkan secangki kopi pahit inipun tak mampu saya habiskan ketika mengetahui itu. Cukuplah sudah basa-basi ini, pada malam yang dingin ini. Saya tidak ingin meninggikan harapan ini lagi. Karena dengan setengah kopi yang tersisa ini saja, harapan saya sudah meninggi dan sakit. Tahu kah kamu wahai sang harapan? Hingga detik ini juga, asa saya masih padamu...

Sepertinya secangkir kopi ini hanya cerita saya. Ditemani oleh pahit dalam menghadapi pahit. Apakah saya mengharapkan manis dalam pertemuan pahit tersebut? Seperti halnya minus dan minus menjadi positif? Sungguh, saya tidak mengharapkan manis. Hanya secangkir kopi ini yang menggambarkan saya.

Hidup saya kelam
Hidup saya pahit
Saya dinikmati oleh dunia dan orang lain
Hingga tersisa ampas, itu saya...
Saya kopi yang dinikmati hingga tersisa ampas
Yang masih saja pahit


Jumat, 08 Januari 2010

Saya (salah satu) Manusia Absurd

Aduh, gw gak tau sebenarnya mau nulis apa. Lagi mati gaya dan mati ide sepertinya. Let's see, sangking mati gayanya gw, gw sampe ngebaca ulang tulisan gw sebelumnya. Dilihat, dibaca, lalu mengerutkan kening. OMG (bahasa anak sekarang, gw translete kan: Oh, Tuhan), isinya sedih semua. Gyaaa, kenapa dengan cerita-ceritaku? So pathetic nya gw...
Hiks..hiks...

Tapi, kayaknya emang kalau gw sedih aja ide bertaburan dimana-mana. Belakangan ini hidup gw flat, datar. Bosan....
Kalau gw bahagia -apakah manusia benar-benar bahagia?- gw juga gak kreatif dengan ide cerita. Yah, contohnya aja sewaktu gw liburan dan bertemu orang-orang baru nan gokil di Karimun Jawa Islands, gw gak bisa menuliskan kebahagiaan itu. Satu-satunya karya yang muncul dari liburan itu cuma kesenduan perasaan gw melihat dan merasakan pantai. That's it! Gak ada tuh tulisan tentang bagaimana bisa gw merasakan bahagia dengan teman-teman baru...

Kesedihan benar-benar menghidupkan gw. Tapi, bukan berarti gw mau menghadapi kesedihan. Halagh, apalah maksud gw ini?? Gini nih, gw emang orang yang masokis. Sangat amat masokis sekali deh! Tapi, kalau gw kembali merenungkan perasaan gw disaat mengalami kesedihan, apakah gw bener-bener senang? Dan jawaban dari perenungan ini sangat mengejutkan. Gw GAK PERNAH SEKALIPUN merasakan nikmatnya sedih itu. Tapi, gw MENGAKUI kalau gw lebih memilih kesedihan daripada kesenangan. Nah, lho bingungkan? Sama, gw juga bingung.

There's something about myself that I don't know

Satu-satunya yang gw ketahui adalah bahwa gw orang yang sangat membingungkan. Satu sisi gw ingin itu, tapi ketika hal itu terjadi sesuai dengan keinginan gw, gw malah mengharapkan ini  Contohnya nih, kayaknya gw banyak memberi contoh deh (hihihi...) : kemaren gw ketemuan mantan gw, terus gw ngerasa gak nyaman. Gila aja bo, kalau gw ngerasa nyaman sama mantan gw! Garing deh jadinya ketemuannya. Dan gw yang membuat itu menjadi GARING dan GAK NYAMAN. Tapi, ketika gw balik gw malah mengharapkan dia untuk nge-sms gw dan terus menghubungi gw. WTH with myself? Bahkan gw ngerasa tersindir dan marah sama hal-hal kecil yang dia lakuin setelah ketemuan itu. Padahal bisa aja kan kelakuannya bukan buat gw. Dan parahnya gw sadar itu, tapi gw ngerasa ya gitu deh..

I never know about I feel

Aaah, gw nulis apaan sih? Tuh kan bener, gw jadi gak kreatif kalau datar gini.
That's all saja lah daripada gw makin ngelantur  

Rabu, 06 Januari 2010

Malam Mengembun

Malam terus mengembun, mengeluarkan rasa yang ku benci
Dan kau tau itu...
Tapi, tetap saja aku dan kau terus mengembun dan menderu pada asa
Berdua ditemani oleh lemahnya cahaya kehangatan

Kita membagi asa, diliputi oleh kediaman
Memang hanya diam yang berbicara
Tanpa menyela, tapi memahami
Tanpa suara, hanya isyarat

Aku kembali memandang rautan wajahmu
Menyesali kenapa waktu yang memisahkan
Kenapa kebohongan yang melanda
Kenapa keegoisan yang berkuasa

Dan, kau...
Masih saja memandangiku dengan cara yang sama
Memahamiku dengan mata yang lembut
Bersabar dengan keluhanku, seakan itu juga keluhanmu

Aku menyesali kenapa aku menatap matamu
Itu hanya membuatku menginginkan tatapan itu
Tapi, aku malu untuk mengakui
Karena aku yang mengakhiri

Sungguh, malam itu matamu lah yang aku sayangi
Malam itu, keterdiaman hanya menyiksa
Malam itu, keinginan membuncah
Tak terbendung

Kau tau betapa menyiksanya asa ini?
Tanpa terkatakan
Hanya penderitaan yang terus ku hadapi
Seakan-akan aku menyukai kesakitan ini

Rabu, 30 Desember 2009

Saya menyatu dengan pantai

aPutih, lembut, berbisik, kemudian berderu
Biru, menyapa, menyelimuti, kemudian mengarahkan
Saya, diam, menghayati, dan tak kuasa

Berbaring di kelembutannya
Menyatu dalam keramahannya
Dan mulut terdiam, hanya rasa berbicara

Saya, diam, ingin mati
Dia, putih, dan menemani
Lalu, dia, biru, dan memahami

Menari, bersembunyi, muncul tiada henti
Mengajak untuk serta
Tapi diri tetap mengagumi

Ini, saya kembali diam
Bersama putih, biru
Dan tak kuasa

Minggu, 06 Desember 2009

Siren, the cruel of beauty

Saya sedang tergila-gila dengan salah satu tokoh mitologi Yunani, Siren. Tokoh yang satu ini mungkin tidak setenar Zeus, Hercules, Hera, ataupun lainnya. Bahkan nama Siren, sejauh ini, tidak pernah diangkat dalam pembahasan filosofis layaknya Sisyphus yang diangkat oleh eksistensialisme absurd Albert Camus.

Siren, bagi saya sangat mewakilkan para perempuan. Pribadi perempuan, menurut saya, haruslah seperti Siren. Kesadisan yang diliputi oleh keanggunan. Keindahan yang bersanding dengan kemisteriusan, yang membuat orang lain terlena, dan tertipu. Ada baiknya kalau saya menceritakan mitologi Siren terlebih dahulu.

Siren merupakan makhluk mitologi Yunani yang hidup di lautan luas. Bangsa Siren memiliki kelebihan, yaitu suara yang luar biasa merdu yang membuat para pelaut terbuai dengan kemerduannya. Mereka mencari asal suara merdu itu dan kemudian kapal mereka akan tenggelam karena terbentur dengan karang, tempat dimana para siren menyanyi.

Salah satu pertemuan dengan Siren diceritakan dalam Odyssei. Suatu ketika, saat Odysseus harus melewati pantai berkarang yang dihuni oleh para Siren, ia menyuruh seluruh awak kapalnya untuk menyumbat telinga mereka dengan lilin agar tidak mendengar suara para Sirenyang menghanyutkan hati. Ia sendiri ingin agar dirinya diikat pada tiang dengan tidak menyumbat telinga karena penasaran seperti apa nyanyian para Siren tersebut. Ketika ia mendengar suara merdu para Siren, ia memberontak dan menyuruh awak kapalnya agar melepaskan taliyang mengikat dirinya di tiang kapal. Para awak kapalnya menolak. Ketika kapal mereka sudah jauh dari Siren, Odysseus berhenti memberontak dan menjadi tenang, setelah itu dibebaskan. (Odyssei XII, 39).

Kisah pertemuan dengan para Siren juga diceritakan dalam petualangan Jason, Argonautica. Chiron memperingatkan Jason bahwa Orpheus kelak akan sangat berguna dalam perjalanannya. Ketika Jason dan kapalnya melewati pantai berkarangyang menjadi habitat para Siren, Orpheus mendengar suara mereka yang merdu. Lalu ia memainkan harpa dengan nyanyian yang lebih merdu daripada nyanyian para Siren. Karena merasa kalah, para Siren menceburkan diri ke laut. Akan tetapi, sumber lain mengatakan bahwa Orpheus diselamatkan oleh Aphrodite.

Beberapa sumber mengatakan bahwa jumlah Siren hanya dua atau tiga. Sampai sekarang jumlahnya tidak dikatakan secara jelas. Akan tetapi, kesimpulan yang dapat kita tarik adalah Siren bukanlah suatu bangsa, layaknya putri duyung. Mereka merupakan anak dari Achelous, the God of River.

Sampai sekarang, tidak ada yang tahu lirik yang dinyanyikan oleh Siren itu apa dan bagaimana sehingga membuai para pelaut. Satu hal yang kita tau adalah apabila kita mendengarkan liriknya, maka kematianlah yang menyambut sang pendengar.

Misterius dan sadis, memang gambaran bagi Siren. Itu juga yang merupakan kekaguman saya terhadap mereka. Walaupun mereka terkenal dengan kesadisan, mereka juga menjadi simbol bagi keindahan seni. Mereka menjadi simbol bagi keindahan perempuan. Mereka menjai simbol kehidupan.

Hidup selalu memaksa kita untuk menghadapi dengan senyuman.Kita mengetahui bahwa hidup tidak akan pernah indah. Keindahan hanya kita yang menampilkan, bahkan ketika menetahui dibalik keindahan itu adalah suatu kepahitan. Ya, hidup sudah selayaknya Siren. The cruel of beauty.

Saya mengagumi Siren, yang berusaha menyadarkan orang lain akan kemunafikan dari keindahan dan hidup

Waterhouse, John William


Sumber lainnya:
http://www.thanasis.com/sirens.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Siren