Tampilkan postingan dengan label Asa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asa. Tampilkan semua postingan
Selasa, 27 November 2012
Jumat, 30 April 2010
Kepada Sang Tuan
Kepada Tuan yang selalu saya sembah dalam hati......
Tuan, malam ini saya sangat merindukan anda. Saya memanggil ingatan yang telah saya tepikan dan saya simpan di ujung keterbatasan. Entahlah Tuan, saya menjadi hina dan terpuruk dalam keterbatasan hamba. Saya kembali ingin melayani anda. Bukan berarti selama ini saya lari tugas saya sebagai hamba, Tuan. Hanya saja, saya merindukan masa ketika sang nyonya belum hadir menguasai rumah Tuan. Ketika itu, walaupun saya menyadari bahwa saya hamba, Tuan membuat hubungan kita tidak selayaknya majikan-sahaya. Tapi, kita masih sadar akan status itu. Hanya saja hubungan kita sedikit menyenangkan, dulu...
Tuan, saya ingat ketika tiap malam kita berbincang apa saja. Ya, karena saat itu hanya kita berdua yang tinggal di rumah itu. Tuan bercerita apa saja, saya mendengarkan. Saya tidak akan berkomentar sebelum Tuan yang meminta, karena saya sadar saya hanya sahaya, tidak boleh lancang. Tapi, saya senang Tuan. Itu berarti Tuan percaya pada saya, pada sahaya yang derajatnya hina, Tuan. Sampai sekarang saya ingat semua cerita Tuan, bahkan tiap tarikan napas yang menjadi jeda dalam bercerita, saya ingat. Tuan terus bercerita, apa saja, tidak menghiraukan saya yang telah lelah bekerja. Tapi biarlah, toh ini juga bagian dari pekerjaan saya. Dan ini merupakan pekerjaan yang paling saya sukai, Tuan. Sampai saat Tuan bercerita tentang seseorang yang nantinya menjadi nyonya..
Saya tetap mendengarkan, Tuan. Walaupun hamba ini menjadi hina dan tersudut oleh diri sendiri, ini lebih menyakitkan, Tuan. Bahkan, dengan cerita Tuan yang kali ini saya menjadi cerewet. Saya langsung memotong cerita Tuan dengan saran. Saya mendorong Tuan untuk meminang sang nyonya. Walaupun saya tau nanti saya tersingkir, biarlah. Tugas saya sebagai hamba hanya melayani Tuannya agar selalu senang, dan dengan saran ini saya yakin Tuan akan senang. Lalu, Tuan tersenyum dengan saran saya yang lancang. Dan nyonya memasuki rumah serta hidup Tuan. Ini waktunya saya pergi dalam ketelanjangan seorang hamba yang merobek kainnya sendiri.
Waktu memang berlalu Tuan, dan anda masih dengan sang nyonya. Sementara saya, berhenti menjadi hamba dan menemukan beberapa pemuas nafsu seorang hamba. Tapi, tetap saja, nafsu terus menggebu karena imajinasi bertahtakan Tuan seorang. Memang, memang saya terbiasa bahkan sedikit menepikan Tuan karena hasutan hamba-hamba lain yang tidak senang dengan perbedaan. Ini bukan perjuangan kelas ala proletar bagi saya Tuan. Perjuangan itu hanya untuk yang tertindas, bukan kepada Tuan yang saya hormati dan saya layani. Tapi tetap saja perjuangan terus berujung pada kemenangan. Dan saya bukan seorang hamba lagi. Bagi saya, Tuan tetap menjadi Tuan. Perjuangan mereka tidak berarti apa-apa bagi saya. Mereka hanya berteriak pada Tuan mereka, bukan pada Tuan saya yang baik.
Hidup saya kosong Tuan, kemudian saya berpura-pura mengisinya. Sampai saya terbiasa, benar-benar terbiasa. Dan kembali kita berjumpa Tuan. Dan keadaan menjadi berubah, Tuan enggan bercerita lagi. Dan saya menjauh, karena saya bukan hamba lagi. Tapi saya ingin menjadi hamba lagi untuk berdekatan tanpa akhir yang janggal Tuan. Saya tidak suka dengan kejanggalan ini, bahkan sepertinya Tuan juga ingin bercerita. Tapi, mulut terpaksa membisu. Para pejuang kelas memandang sinis Tuan ketika kita ingin berbicara, dan nyonya mengambil waktu Tuan. Kadang saya berpikir, keadaan ini menjijikkan dan kejam, Tuan.
Pada akhirnya, kita memang berbincang Tuan. Tapi perbincangan ini tidak sehangat dulu. Ketika Tuan bercerita dan saya mendengar, sampai kemudian Tuan tertidur lelah dengan luapan. Pemandangan indah bagi saya, seketika lelah saya hilang. Sayangnya, itu dulu, Tuan. Dan malam ini, saya benar-benar merindukan sosok Tuan dalam kehambaan saya.
Saya tetap mendengarkan, Tuan. Walaupun hamba ini menjadi hina dan tersudut oleh diri sendiri, ini lebih menyakitkan, Tuan. Bahkan, dengan cerita Tuan yang kali ini saya menjadi cerewet. Saya langsung memotong cerita Tuan dengan saran. Saya mendorong Tuan untuk meminang sang nyonya. Walaupun saya tau nanti saya tersingkir, biarlah. Tugas saya sebagai hamba hanya melayani Tuannya agar selalu senang, dan dengan saran ini saya yakin Tuan akan senang. Lalu, Tuan tersenyum dengan saran saya yang lancang. Dan nyonya memasuki rumah serta hidup Tuan. Ini waktunya saya pergi dalam ketelanjangan seorang hamba yang merobek kainnya sendiri.
Waktu memang berlalu Tuan, dan anda masih dengan sang nyonya. Sementara saya, berhenti menjadi hamba dan menemukan beberapa pemuas nafsu seorang hamba. Tapi, tetap saja, nafsu terus menggebu karena imajinasi bertahtakan Tuan seorang. Memang, memang saya terbiasa bahkan sedikit menepikan Tuan karena hasutan hamba-hamba lain yang tidak senang dengan perbedaan. Ini bukan perjuangan kelas ala proletar bagi saya Tuan. Perjuangan itu hanya untuk yang tertindas, bukan kepada Tuan yang saya hormati dan saya layani. Tapi tetap saja perjuangan terus berujung pada kemenangan. Dan saya bukan seorang hamba lagi. Bagi saya, Tuan tetap menjadi Tuan. Perjuangan mereka tidak berarti apa-apa bagi saya. Mereka hanya berteriak pada Tuan mereka, bukan pada Tuan saya yang baik.
Hidup saya kosong Tuan, kemudian saya berpura-pura mengisinya. Sampai saya terbiasa, benar-benar terbiasa. Dan kembali kita berjumpa Tuan. Dan keadaan menjadi berubah, Tuan enggan bercerita lagi. Dan saya menjauh, karena saya bukan hamba lagi. Tapi saya ingin menjadi hamba lagi untuk berdekatan tanpa akhir yang janggal Tuan. Saya tidak suka dengan kejanggalan ini, bahkan sepertinya Tuan juga ingin bercerita. Tapi, mulut terpaksa membisu. Para pejuang kelas memandang sinis Tuan ketika kita ingin berbicara, dan nyonya mengambil waktu Tuan. Kadang saya berpikir, keadaan ini menjijikkan dan kejam, Tuan.
Pada akhirnya, kita memang berbincang Tuan. Tapi perbincangan ini tidak sehangat dulu. Ketika Tuan bercerita dan saya mendengar, sampai kemudian Tuan tertidur lelah dengan luapan. Pemandangan indah bagi saya, seketika lelah saya hilang. Sayangnya, itu dulu, Tuan. Dan malam ini, saya benar-benar merindukan sosok Tuan dalam kehambaan saya.
Rabu, 06 Januari 2010
Malam Mengembun
Malam terus mengembun, mengeluarkan rasa yang ku benci
Dan kau tau itu...
Tapi, tetap saja aku dan kau terus mengembun dan menderu pada asa
Berdua ditemani oleh lemahnya cahaya kehangatan
Kita membagi asa, diliputi oleh kediaman
Memang hanya diam yang berbicara
Tanpa menyela, tapi memahami
Tanpa suara, hanya isyarat
Aku kembali memandang rautan wajahmu
Menyesali kenapa waktu yang memisahkan
Kenapa kebohongan yang melanda
Kenapa keegoisan yang berkuasa
Dan, kau...
Masih saja memandangiku dengan cara yang sama
Memahamiku dengan mata yang lembut
Bersabar dengan keluhanku, seakan itu juga keluhanmu
Aku menyesali kenapa aku menatap matamu
Itu hanya membuatku menginginkan tatapan itu
Tapi, aku malu untuk mengakui
Karena aku yang mengakhiri
Sungguh, malam itu matamu lah yang aku sayangi
Malam itu, keterdiaman hanya menyiksa
Malam itu, keinginan membuncah
Tak terbendung
Kau tau betapa menyiksanya asa ini?
Tanpa terkatakan
Hanya penderitaan yang terus ku hadapi
Seakan-akan aku menyukai kesakitan ini
Rabu, 30 Desember 2009
Saya menyatu dengan pantai
aPutih, lembut, berbisik, kemudian berderu
Biru, menyapa, menyelimuti, kemudian mengarahkan
Saya, diam, menghayati, dan tak kuasa
Berbaring di kelembutannya
Menyatu dalam keramahannya
Dan mulut terdiam, hanya rasa berbicara
Saya, diam, ingin mati
Dia, putih, dan menemani
Lalu, dia, biru, dan memahami
Menari, bersembunyi, muncul tiada henti
Mengajak untuk serta
Tapi diri tetap mengagumi
Ini, saya kembali diam
Bersama putih, biru
Dan tak kuasa
Sabtu, 28 November 2009
Dengarkan saja
Mari kita mulai cerita ini, cukup kalian dengarkan saja
Karena saya mengerti, kalian tidak akan pernah merasakan sama seperti saya.
Seperti juga saya terhadap kalian.
Sudahlah, mari kita mulai saja cerita saya ini.
Sungguh, saya tidak tahu harus memulai darimana.
Karena semua cerita saya ini hanya isyarat. Dan isyarat ini hanya untuk saya dan bagi saya.
Sungguh, saya takut kalau ia menangkap isyarat ini. Saya takut ia menangkap asa ini, lalu berlalu dengan asa yang terpendam.
Cukup, cukup saya saja yang merasakan isyarat ini.
Cukup, cukup saya saja yang merasakan asa ini.
Saya tidak ingin ia tahu, saya tidak ingin ia merasa.
Biar, biar saya saja yang sakit atas isyarat dan asa ini.
Biar saja saya sakit, ketika isyarat ini terhimpit oleh asa yang sakit.
Karena saya terlalu takut akan kekecewaan,
Karena saya terlalu takut akan penolakan.
Saya tidak berani menyampaikan asa. Saya tidak beran menyampaikan rasa.
Cukup bagi saya untuk melihat sang asa.
Tanpa diketahui, tanpa dirasakan.
Saya sakit ketika melihat ia dengan asa lainnya, saya pedih.
Saya ingin berteriak
Hei, sang asa, tahu kah kau ada saya yang mengharapkan asamu, ada saya
yang sakit akan asa?
Tapi, saya tak berani berkata bahkan berteriak
Andai saja isyarat ini cukup membuat asa sadar.
Tunggu, saya tak ingin sang asa sadar akan isyarat.
Saya hanya ingin sang asa tersimpan indah dalam ingatan.
Biarlah saya bercinta dengan ingatan akan sang asa.
Biarlah saya menimpan dan merekat sang asa,
dalam rasa, pikiran, dan asa sedih ini.
Cukup bagi saya........
Jumat, 30 Oktober 2009
Ini hanya goresan (ku)
Ini saja yang dapat ku lakukan
melalui goresan yang sarat makna, bagiku
Ini saja yang dapat ku sampaikan
melalui bungkamnya bibir, hanya rasa
Goresan ini sudah ku mulai
tanpa isyarat berarti, bagimu
Tapi sudahlah, ini hanya goresan isyarat
cuma ini saja, tidak lebih
Lalu, tetap akan ku goreskan
Karena kau juga tergores dalam
terukir, terpahat, terbuai asa
Di hati ini
Sabtu, 17 Oktober 2009
Bintang (adalah) Masokis
Saya selalu mengatakan bahwa hidup ini merupakan penderitaan, dan saya menikmati itu. Makanya, saya selalu memandang sesuatu adalah penderitaan, dan teman-teman saya mengetahui hal itu. Entah mengapa, mereka memberikan label bahwa saya sangat pesimis. Bahkan, beberapa dari mereka ada yang salah paham. Mereka menganggap bahwa saya sedemikian putus asanya terhadap penderitaan, hingga saya terobsesi dengan kematian. Oh iya, selain selalu mengatakan bahwa kehidupan ini merupakan penderitaan, saya juga mengatakan bahwa hanya dengan kematian lah kita dapat terbebas dari penderitaan ini.
Back to theme, dan kesalah pahaman teman-teman saya, mereka menganggap saya terobsesi dengan BUNUH DIRI. Salah paham ini semakin menjadi, setelah saya mengambil tema, untuk tugas, tentang bunuh diri dan etika. Nah, man, saya tidak sepesimis itu dalam penderitaan saya. Penderitaan ini sangat saya nikmati, kok. Kalau saya bunuh diri, well, saya tidak akan menderita lagi. Dan itu artinya juga, saya kehilangan nikmat saya. Saya tidak mau itu.
Kenapa saya senang dengan penderitaan? Atau saya cuma pura-pura senang saja padahal saya tersiksa? Hmm, susah juga untuk menjelaskannya. Saya akan mulai dari masalah yang dihadapin manusia. Pastilah, yang namanya manusia tidak lepas dari masalah. Selalu ada masalah. Karena kita ini, meminjam kata Heidegger, terlempar begitu saja dalam ruang dan waktu. Dan parahnya lagi, kita harus mengikuti semua itu, aturan2 yang bukan kita buat. Kita harus berinteraksi dengan semua orang, yang pikirannya tidak sama dengan kita. Selalu saja terbentur dengan ini-itu. Selalu saja ada power yang lebih dari kita, dan kita terhalang oleh power itu. Kita sangat terbatas dengan keadaan, dan kita menyadari itu. Ilmu pengetahuan dan kemajuan lainnya hanya untuk 'menyemangati' diri atas segala keterbatasan ini. Lalu, kita menjadi terbiasa dengan penderitaan dan keterbatasan ini. Terlalu terbiasanya, sampai kita lupa bahwa kita memiliki penderitaan itu. Kita terlupa bahwa kita manusia, dan terlupa akan sakit ini. Lalu, pada akhirnya kita terlupa bahwa hakikat hidup ini adalah penderitaan.
Coba, ingat-ingat kembali, berapa perbandingan kesenangan dan kesedihan kita? Apakah kita benar-benar senang pada waktu rasa senang itu? Atau, jangan-jangan, kesadaran akan hakikat itu sudah sedemikian menumpulnya hingga kita tidak tau kesenangan itu apa dan kesedihan serta penderitaan itu apa? Segala macam yang diciptakan, hanya untuk menggembirakan kita saja, bukan? Itu artinya, kita perlu ada yang membahagiakan hidup yang menderita ini. Kita menciptakan segala sesuatu untuk mencapai kepastian, nah, berarti hidup itu sendiri tidak pasti
Lalu, kenapa saya-kali ini saya menempatkan persepsi saya- senang akan penderitaan ini? Kenapa saya menikmatinya? Hell yeah, saya sendiri tidak tau kenapa. Walaupun, perasaan ini selalu tersakiti dan menangis perih, saya sangat menikmatinya. Saya sangat menikmati tiap-tiap kesakitan ini, saya sangat menikmati setiap keperihan ini. Terkadang, malah saya tidak sanggup, karena sungguh saya tidak sekuat itu. Karena saya sangat menyadari bahwa saya manusia biasa, sama seperti manusia-manusia lainnya, yang biasa. Semua manusia itu sama, tidak ada ukuran yang pasti kenapa ada perbedaan. Back to the theme, saya menikmati penderitaan itu. Dengan demikian saya adalah manusia, dan saya tidak munafik atas hidup ini-dan ini menurut saya- dan tidak berusaha 'menegarkan' hati yang rapuh ini.
Lalu, bunuh diri? No way, man. Bukan saya saja yang menderita di sini. Bukan saya saja yang punya penderitaan sebegitu besarnya. Dan bukan saya saja yang hidup di dunia ini. Walaupun, saya tidak dapat mengukur kedalaman dan ketahanan seseorang terhadap penderitaan. Saya menikmati penderitaan. Dan saya tidak mau bunuh diri hanya karena hakikat manusia, menurut saya, adalah penderitaan. Hidup ini, mengutip kata teman saya, adalah perjuangan. Bunuh diri berarti sama dengan munafiknya manusia terhadap hidup ini. Sekali lagi, saya bukan orang yang memunafikan penderitaan dan hidup
Rabu, 14 Oktober 2009
Napas ini (juga) menyakitkan
Perasaan ini memendam
Tak ada celah yang dapat mengkaramkan asa
Pelampiasan cuma jadi sesalan
Maka, terpendam
Lagi, terus, dan lagi
Cahaya ingin mencahaya
Tapi itupun terasa menyiksa
Meredup dan menutup menjadi jalan
Sakit pun tak tertahan
Napas,menghela lah
Jangan sampai diri yang terhempas
Aku tak ingin menjadi kebas oleh rasa
Diburu oleh jahat
Dikuasai ole raksasa
Aku mulai menarik,
sangat sakit.
Lalu Ku hela
tidak berkurang.
Hidup ini menjadi biasa
Oleh sakit, derita
Dan sia-sia
Rabu, 07 Oktober 2009
Coba rasakan
Kau ingin mengetahui aku?
Atau ingin merasakan menjadi aku?
Sungguh, kau tidak akan pernah bisa
Sungguh, kau tidak akan mengerti
Tapi, bila kau tetap memaksa
Baiklah
Coba kau tertidur beratapkan langit dan berjuta bintang
Memang akan sangat indah dan nyaman, tapi tunggu dulu
Ketika kau tertidur dengan beralaskan rerumput yang basah
Oleh tangisan langit indah yang sedang kau pandangi dan nikmati
Sungguh, itulah aku.
Sekali lagi, kau hanya melihat dari luar
Hanya merasakan dari luar
Tapi kau tidak pernah merasakan ketegaran dalam kelemahan ini.
Kau sudah bisa mengerti?
Kalaupun iya, aku mohon jangan
Karena rasa menjadi aku sungguh perih
Sabtu, 26 September 2009
Goresan (hanya) terlihat di kecerahan, sayang
Kau kembali menyapa dan ingin membekaskan asa lagi padaku. Mungkin, kalau kau lakukan pada masa itu akan berhasil. Pasti akan selalu berhasil, aku jamin itu. Tapi, sayangku, tidak untuk masa ini. Cukup sudah, kau berbuat demikian. Perbuatanmu dahulu bahkan membuat ku beranggapan no more lil shine star because the shine doesn't bright anymore. Aku memang bodoh waktu itu, aku akui.
Tunggu dulu, sayang, aku tidak menyalahkanmu. Digoresan yang membentuk tulisan ini aku hanya ingin mengeluarkan apa yang ingin aku katakan padamu. Ingatlah sekali lagi, sayangku, aku tidak menyalahkanmu. Apabila kau membacanya, mungkin kau akan mengerti kekesalanku pada sifatmu yang tidak jelas itu.
Ya, aku sudah mengeluarkan kata pertamaku. Ketidakjelasan.
Memang, aku bukan apa-apa di matamu. Aku bukan siapa-siapa, aku menyadari status itu. Tapi, tidak cukupkah kau untuk berhenti menganggapku istimewa di antara yang lain? TIdak bisakah kau berhenti bertindak dan berucap selayaknya kau berkelakuan dengan teman-temanmu? Aku sadar, jika aku berkelakuan sepertimu, maka aku yang akan jatuh. Bukan berarti aku yang kalah, karena bagiku kalah dan menang itu biasa. Tapi, kalau aku terjatuh pada dasar yang jauh, bisa-bisa aku yang mati duluan. Mati di tengah keterjatuhan itu. Aku tidak mau.
Aku akui, aku takut. Maka lebih baik aku menghindar saja. Lalu, kenapa kau seakan tidak rela? Bahkan tali itu semakin mengikatku. Sepertinya, kau senang di atas ketidakjelasan ini. Tunggu dulu, sayang, aku tidak menyalahkanmu. Karena mungkin ketidakrelaan itu karena keterbiasaan yang sulit untuk dilepas. Aku mengerti. Mungkin saja, keinginan ku tidak pada waktunya. Maka,aku kembali tersiksa, dan kali ini tambah menyiksa.
Goresan pun semakin menghantam pasir, membuat gambaran yang sulit untuk dihapus. Semakin jelas terlihat oleh para mata yang ada. Semakin diketahui. Aku tidak senang dengan tatapan itu. Mereka melihat goresan, bukan melihatku.Semakin cerah, semakin terlihat. Sang air pun tak sanggup untuk menggapai goresan untuk menghapus.
Tunggu, sayang, aku tidak menyalahkanmu. Sepertinya goresan itu indah. Maka aku membiarkannya. Walaupun aku tidak dilihat. Tak mengapa.
Ketika sudah mulai terbiasa, entah mengapa waktu itu datang. Mungkin, sang waktu tak mau aku terbiasa, yang menjadikan sinarku tertutup oleh goresan sakit itu. Kita berpisah, dan goresan itu tertutupi dengan mata-mata yang memiliki badan serta kaki. Goresanmu tertutupi oleh jejak yang lainnya.Aku mulai menjalani kehidupan. Walaupun, tidak sepenuhnya aku lupa akan goresan itu.
tenang, sunyi, damai,bahagia, lepas..........
Aku bahagia, dan kau datang kembali dengan kelakuanmu. Mencoba menggores kembali. Lalu seakan-akan aku membiarkanmu. Ah, jangan senang dulu, sayangku, dulu aku lupa siapa diriku. Aku ini bintang. Kau ingat, kapan aku muncul? Ya, sayang, pada malam hari.
Kau mau menggoreskan lagi? Silahkan, sayang.
Karena goresan itu tidak akan terlihat di saat aku muncul, malam hari. Dan bersama rembulan serta air, goresan mu esoknya akan terhapus. Karena hukum alam, sayang. Aku ini bintang yang menyatu dengan alam sekitarku.
Aku tidak menyalahkanmu, sayang. Aku akan kembali menjadi pantai di atas yang
tenang, sunyi, damai,bahagia, lepas..........
Selasa, 22 September 2009
Bintang (sedang) merindukan cumbuan
Malam ini sungguh sang bintang merindukan cumbuan pantai.
Merindukan deburan, pasir, biru, karang, dan makhluk lainnya.
Bintang merindukan bercerita dengan pantai, yang menelan semua suara ceritanya.
Sungguh, untuk berteriak pun bintang tak akan malu lagi.
Karena sang teriakan ditelan dan menjauh dibawa sang ombak.
Ya, bintang rindu kepada pantai
Karena hanya ia yang mampu membujuk sang sinar untuk melegakan asa
Pantai lah yang mengerti semua keterdiaman bintang
Bintang hanya butuh dirasakan dan didengarkan
Tidak butuh untuk tindakan balasan
ah, pantai...
Kapan aku dapat merasakan hangatnya butiran pasir yang menenangkan jiwa?
Kapan aku ternyamankan dengan nyanyian deburan airmu?
Kapan aku dapat tiba-tiba menangis memandang putihnya awan menggambar sang biru?
Kapan aku tersatukan dengan penghuni lautmu?
Bahkan, kapan aku meluapkan asa diri yang kau telan setelahnya?
Sungguh sang bintang sangat merindukan kenyamanan
Kemengertian
Kehangatan
Keterdiaman
Dan kesunyian pantai.
Sungguh kali ini san bintang ingin meluapkan semuanya
Dalam asa
Air mata
Teriakan
Atau keterdiaman
Yang bintang butuhkan hanya cumbuan pantai
Sabtu, 19 September 2009
Bintang Bersinar demi Meredup
aKembali menatap sang sinar pujaan yang meredup
Seakan kehilangan cahaya diri untuk selamanya
Lalu, bintang ini mendekat
Dan memberi secuil cahaya
Berharap sang sinar pujaan tidak menjadi kelam
Dan menyadari secuil cahaya dari bintang ini
Tetapi,
Kali ini sinar sang bintang yang meredup
Sebelum disadari
Sebelum didekati
Jumat, 18 September 2009
Bintang ini (sedang ingin) Menangis
Sinar ini memang ingin meredup
Tapi tak kuasa
Bagaikan terpaksa, harus kuasa
Tak bisa menghela
Bintang ini terasa lelah
Menanggung semua asa
Tanpa tau harus meletakkan asa
Dan kembali menjadi bintang kecil
Cahaya ini harus bersinar
Demi yang memaksa
Dan menaruh asa
Sang bintang sendiri
Bintang ingin tertawa
Menggelegar, terbahak
Tapi, tawa rintih dan air
Tercampur menjadi nyata
Bintang (sedang ingin) menangis
Tanpa tau yang ditangisi
Bintang (hanya sedang) lelah
Terhadap cahaya bintang sendiri
Rabu, 16 September 2009
Sinar Kedua Masih Redup
Aku memang menyadari bahwa aku cuma makhluk yang terlempar dalam batasan ruang dan waktu. Aku terbatas. Ketika waktu semakin menghimpitku di dalam ruang ini, aku semakin menyadari bahwa aku makhluk yang lemah. Amat sangat lemah. Kesadaran akan kelemahan ini membuatku jadi rentan dan perasa. Aku kini menjadi makhluk yang sensitif.
Kelemahan ini dimulai ketika ada suatu realita yang menghentakkan sinar yang selalu aku terima. Ya, pada awalnya aku selalu menerima sinar. Sehingga terkadang aku merasa bahwa sinar itu milikku sendiri, dan bukan milik orang lain. Aku merasa hebat dengan sinar (yang ku anggap) sendiri. Ketika realita menghentak secara tiba-tiba, aku kehilangan banyak sinar. Tetapi, tetap saja aku merasa bahwa aku bersinar, agar makhluk lain tidak menyadarinya. Aku berusaha untuk menguatkan sinarku agar tidak padam, aku berusaha agar sinar ini tetap selayaknya sinar yang aku miliki.
Sekuat apapun aku berusaha, aku tetap merasakan kelam dalam sinar ini. Beberapa makhluk menyadarinya, dan mereka memuji usaha ku. Mereka memuja ku sebagai bintang yang kuat. Aku tidak sekuat itu, teman. Terkadang aku ingin sepenuhnya meredup, kadang aku ingin sepenuhnya mengalah dengan kelam ini. Tetapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa kuat dan tidak bisa meredup. Aku berada di tengah-tengah, dan itu sangat menyiksa. Apa hebatnya kalau kalian berada di tengah-tengah? Berada di dua sisi yang sama sekali tidak bisa kalian tentukan, kemana sisi yang akan kalian hinggapi?
Lalu, aku memilih untuk biasa saja. Tepatnya untuk merasa biasa saja. Karena kepada siapa aku akan mengungkapkan kegelisahan ini? Kepada siapa aku akan bercerita dan berkeluh kesah? Tidak ada gunanya untuk bertindak demikian, karena yang akan mendengar juga tidak akan pernah memahami rasa yang aku hadapi. Perasaan kita, sebagai makhluk, tidak akan pernah sama. Jadi, tolong hentikan untuk berkata bahwa kalian memahami apa yang aku rasa. Itu hanya menambah sakitnya sinar ini yang tidak dipahami.
dan bintang ini memutuskan untuk bersinar kembali, walaupun sang sinar tidak seterang biasa nya......
Sinar Pertama Terasa Redup
Aaah, entahlah yang aku rasakan sekarang.
Diriku sendiri bahkan tidak dapat menentukan perasaan ini. Bagaimana dengan orang lain berusaha memahamiku? Terkadang aku ingin menyalahkan orang, tapi aku sadar bahwa aku lah yang salah.
Aku tersiksa dengan perasaan yang terasa menyakitkan ini. Tapi, aku sendiri bahkan tidak bisa menghindar bahkan mempelajari rasa sakit ini agar tidak terulang. Jujur, aku tidak suka dengan rasa sakit ini. Akan tetapi, aku tau bahwa rasa ini akan terulang dan aku berusaha bertahan dengan rasa sakit ini. Dengan harapan aku akan terbiasa. Akhirnya, bukan kebiasaan yang aku rasakan, malah rasa sakit yang mendera.
Terkadang, aku mencoba menangkal rasa sakit ini. Aku akan meyakinkan hati ini, bahwa aku senang dalam ketersiksaan ini. Aku pasti akan bahagia bila melihat orang lain (tentunya yang padanya asa rasa ini ku titipkan)bahagia. Aku tidak akan peduli, walaupun aku akan sakit. Terkadang aku tidak sanggup. Bahkan ada semacam keegoisan dalam diri yang memberontak, ingin meluap karena sakit ini.
Bahkan tindakan ku selalu memperkuat sakit ini. Aku manusia paradoks. Aku sendiri terkadang bingung dengan diri ini. Tapi, satu yang tidak aku bingung kan lagi adalah aku yang seperti ini. Aku memang selalu mengharapkan sesuatu yang ideal dalam perasaan, tetapi harapan ini terkadang bercampur dengan nafsu dan emosi sesaat. Aku tidak ingin yang seperti itu.
Dan pada akhirnya, aku kembali menikmati sakit ini. Hingga, sait ini terbiasa dan kemudian menghilang secara perlahan-lahan.
Dan kemudian, sang bintang mencari sinar baru demi bersinarnya sang diri. Apapun sinar yang diterima, bintang akan memantulkannya lagi demi sinar kecil bagi orang lain. Walaupun, ia menyadari bahwa ia bersinar demi orang lain. Bukan untuk dirinya.
Aku ingin menjadi bintang itu, yang menerima sinar dan kemudian meneruskannya.....
Langganan:
Postingan (Atom)


