...


Tampilkan postingan dengan label Hanya Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hanya Cerita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 April 2010

Saya ingin menulis

Saya ingin menulis untaian kata yang tersimpan dalam renung
Terpalung tiada kuasa untuk ditampung
Hingga untaian kata menjadi siksaan di lidah
Sedikit keluar dan pedih menghambur keluh


Saya ingin menulis untaian kesah yang dilambung hasrat
Tertimbun tiada daya untuk tumbuh
Hingga untaian kesah menjadi himpitan jiwa
Merasuk ke dalam dan menekan raga bertahta


Saya ingin menulis jiwa yang terhalang rasa
Tersiksa untuk kembali asali dan melayang
Terbebas kebas dari belenggu napas
Hanyut terbuai di ketiadaan abadi


Saya ingin kembali menulis untaian makna
Pencarian akan menemani hingga terjaga
Gelap menemani abadi yang nyata
Bukan terang yang membutakan fakta


Saya ingin menulis
Hingga jiwa kembali pada asali.....

Kamis, 01 April 2010

Hingga Ujung Waktu

Belakangan ini saya suka sekali mendengar lagunya Sheila on 7 yang Hingga Ujung Waktu. It's look like hears the bell of your wedding.


Hingga Ujung Waktu


Serapuh kelopak sang mawar
Yang disapa badai berselimutkan gontai
Saat aku menahan sendiri
Diterpa dan luka oleh senja

Semegah sang mawar dijaga
Matahari pagi bermahkotakan embun
Saat engkau ada disini
Dan pekat pun berakhir sudah

Akhirnya aku menemukanmu
Saat ku bergelut dengan waktu
Beruntung aku menemukanmu
Jangan pernah berhenti memilikiku

Hingga ujung waktu
Setenang hamparan Samudra
Dan tuan burung camar
Tak kan henti bernyanyi

Saat aku berakhayal denganmu
Dan berjanji pun terukir sudah
Jika kau menjadi istiriku nanti
Pahami aku saat menangis

Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu

Jika kau menjadi istiriku nanti
Pahami aku saat menangis
Saat kau menjadi istriku nanti
Jangan pernah berhenti memilikiku
Hingga ujung waktu


Senin, 08 Maret 2010

Terbaring suatu saat

Ada apa dengan saya ya? Saya terlalu dingin melihat kematian, even ketika ada yang meninggal di depan mata saya. Tidak ada perasaan sedih atau apapun. Kosong, flat, bahkan  terbiasa.
Waah,kalau dipikir-pikir saya menjadi manusia yang tidak berperasaan ya? Terasa kejam. I'm becoming Hitler.
Naaah, I won't be like him.


Setelah dipikir-pikir, ada apa dengan kematian ya?
Kenapa orang selalu menangis dengan histeris?
Hey, semua pasti akan mengalami kematian.
Seharusnya sih kalian tau dan seharusnya sudah terbiasa.
But, why are you still crying?


Apa karena rasa kehilangan?
Tapi, kenapa harus sehisteris itu?
Toh, kapan kalian benar-benar memiliki sesuatu?
Hal yang terasa hilang itu bukan milik kalian, kenapa harus menangis?


Berbicara kematian, juga seperti itu kan?
Kalian selalu histeris di awal, tapi ketika di akhir kalian menjadi tenang.
Terasa omong kosong di hadapan saya kalau kalian seperti itu.
Jadi untuk apa menangis kalau hanya sementara?


seharusnya manusia terbiasa dengan rasa itu.
seharusnya manusia menjadi kuat dengan segala kesakitan.
seharusnya manusia tidak terlalu histeris.
kapan manusia menyadari itu?
toh, suatu saat kita juga terbaring kan??

Jumat, 12 Februari 2010

Aku ingin ke masa itu

Malam ini masih saja mencekam. Aku bosan, aku ingin dihinggapi asa. Dan malam ini masih saja selarut malam sebelumnya. Hembusan angin dan bunyi gemerisik dedaunan menambah rasa cekam yang menghinggapi aku. Sunyi, terasa sunyi. Bahkan gemerisik daun tak membantu. Aaah, aku dilanda bosan. Melihat ke depan, hanya kosong yang ada. Lalu melihat ke samping, kepala tetap memilih kembali ke depan. Walaupun kosong. Lalu, bagaimana dengan melihat ke belakang? Rasanya ingin, tapi sepertinya otot leher akan terasa sakit. Toh, aku tidak terlalu suka melihat ke belakang.

Pikiran pun kembali membongkar kenangan. Inilah aktivitas yang paling sempurna bagi orang bosan, khususnya aku. Kenangan akan masa kecil, ketika hidup terasa sangat mudah. Aku hanya perlu berteriak dan menangis, jika aku tak suka dengan keadaan. Suaraku memang akan mengganggu, bahkan mengganggu diriku. Tapi, ntah lah, aku tetap mengeluarkan suara dan rayuan akan bertubi-tubi menghinggapi. Tawaran untuk menenangkan suara ini, terasa sangat tulus. Dekapan, belaian, bahkan segala macamnya menghinggapi ku. Hidup terasa sangat mudah, waktu itu.

Sekarang, aku harus kembali berpikir untuk mengeluarkan suara. Harus menahan rasa yang ada, harus ini dan harus itu. Hidup menjadi sangat sulit, bahkan amat sangat sulit. Aku ingin bersuara, tapi ini itu menghalangi ku. Aku ingin menagis, tertawa, bahkan membenci, lagi-lagi harus melihat ini-itu. Aah, pikiran ini saja sudah sangat menyulitkan. Aku benci menjadi dewasa. Aku benci berpikir ini-itu

Dulu, hidup terasa berwarna. Bermain, tidur, disayang, melakukan semua yang menyenangkan. Tak ada yang melarang. Tak ada yang menyalahkan. Bahkan semua ikut senang, di mataku. Dulu, hidup terasa damai, tak perlu memikirkan keadaan orang lain. Toh, yang penting aku senang. Tidak ada orang yang tidk senang, menurut ku. Dulu, hidup sangat spontan. Aku tidak memiliki rencana. Dan itu terasa menggairahkan.

Sekarang, hidup selalu berada dalam lingkaran hitam-putih. Bahkan tidak bisa memilih abu-abu. Dan hidup menjadi suram. Selalu melakukan ini atau itu, tidak dapat melakukan ini-itu sekaligus. Sekarang, hidup menjadi satu dalam leburan hitam atau putih. Berpikir menjadi utama, hasrat menjadi logis karena berpikir. Masihkah aku menganggapnya sebagai hasrat? Ingin damai, harus berpikir dan dipikirkan. Aku benci berpikir. Memaksa ku menjadi manusia atau tidak, lagi-lagi hitam atau putih. Lagi-lagi harus memilih.

Dulu, aku senang menatap bintang. Walaupun tidak tiap malam. Aku masih takjub dengan bintang. Masih bertanya-tanya dalam hati, kapan aku bisa mengambil bintang dan meletakkannya dalam kamarku? Sehingga, tiap malam aku bisa terus menatapnya? Setidaknya, aku merasa masih ada menemaniku kalau ibu-ayahku terlelap di malam hari. Aku masih bertanya-tanya, kapan kamarku disemarakkan oleh kerlap-kerlip bintang?

Sekarang, aku tidak dapat bertanya-tanya dengan takjub lagi. Selalu ada teori untuk menjawabnya. Aku tidak dibiarkan bertanya-tanya lagi. Bahkan, hitam atau putih menghalangiku untuk menatap langit walaupun hanya sejenak. Bahkan, terkadang aku lupa bahwa aku sangat suka menatap bintang, dan masih memilki hasrat untuk meletakkan bintang di atap kamarku. Tapi, sekarang, aku hanya tidur ditemani kegelapan. Ditemani hitam yang sangat membosankan. Ketika pagi menyapa, putih menjadi sangat menyilaukan. Hitam atau putih hanya membuatku buta. Tidak dapat melihat apa-apa.

Kapan hidup menjadi semudah swaktu kecil? Kapan hidup masih melihat adanya putih ditemani oleh hitam? Kapan hidup menjadi menyenangkan tanpa pilihan? Aku ingin kembali ke masa kecil..


Buntu

Hmmm.....
Apa yang sedang saya pikirkan ya???
Hmmm...Hmmm...

Kenapa rasanya kosong? Tidak tau apa yang dipikirkan, menyedihkan...
Why I can't feel the passion of world? Just empty, flat. So boring!



I need the chaos, or something that makes me to think. Even I can't think about pain anymore.
Atau pada akhirnya, manusia telah terbiasa hingga tak merasa?

Atau saya harus merasa senang dengan keterbiasaan ini?
Atau dapatkah saya menjadi keterbiasaan itu?
Atau...atau....?
Bahkan pilihan pun tidak tersedia lagi. Benar-benar FLAT

Tidak ada perasaan, tidak ada paksaan, bahkan tidak ada pertautan.
Saya butuh apa ya?
Bahkan saya tidak tau apa yang harus dilakukan.

Kenapa hidup ini terasa damai mencekam?
Saya tidak suka damai yang seperti itu.
Biarkan hidup menjadi sakit karena jalang.

Yaaa, setidaknya saya merasa sakit.
Itu lebih baik


Senin, 01 Februari 2010

Sherina - Andai Aku Besar Nanti

Andai Aku Besar Nanti
oleh: Sherina
Andai aku t'lah dewasa
Apa yang 'kan kukatakan
Untukmu idolaku tersayang
Ayah... Oh...


Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu


Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku


Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta


Andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda
Pelitaku, penerang jiwaku
Dalam setiap waktu


Oh... Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku


Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta
********

setiap dengar lagu ini, saya selalu terdiam, ingin menangis. Tapi asa tak kuasa untuk menangis.
ingin sekali rasanya mengucapkan kata-kata sayang kepada mereka, tapi lidah seakan kelu
tak terbiasa sehingga menjadi aneh.
Ingin terungkapkan tapi terhalang.....

Senin, 11 Januari 2010

Secangkir Kopi Pada Saat Itu...

Saya sedang menunggu untuk datang pada suatu masalah. Ya, saya datang untuk menderita. Detik-detik menjelang penderitaan itu, saya teringat pada kopi.

Kopi, satu minuman yang sangat saya senangi. Entah kenapa dan entah kapan saya menyukainya. Dari sekian banyaknya kopi, saya sangat memilih kopi hitam, atau yang lebih dikenal dengan kopi tubruk, tanpa gula. Saya akan menolak latte, moccha, bahkan capuccino sekalipun jika ada kopi hitam di antara mereka. Dan kopi hitam ini harus tanpa gula. Ya, itulah kopi kesukaan saya.

Siang ini, saya ingin meminum kopi. Tapi, kopi yang saya dapatkan hanyalah kopi kalengan Latte. Tidak ada kopi hitam. Apa boleh buat. Entah kenapa saya sangat butuh suntikan kafein di tubuh ini, apakah karena pengaruh penderitaan yang sebentar lagi akan saya jemput? Entahlah...

Meninum sekaleng kopi Latte ini, mengingatkan saya akan kenangan meminum secangkir kopi hitam. Baik itu ketika bercengkrama dengan teman di kampus, berbagi secangkir kopi pada sang asa yang tidak mengetahui rasa ini, bahkan dinginnya udara yang menyelimuti kediaman saat itu. Terlalu banyak cerita yang hadir pada secangkir kopi pada saat itu...

Secangkir kopi pada saat bercengkrama dengan teman adalah salah satu yang saya rindukan. Kopi yang ada cuma seharga dua ribuan, tapi entah kenapa saya lebih suka untuk meminta uang pada teman yang juga senang kopi. Berbagi uang untuk kopi. Ketika uang sudah ada, saya berdebat dengan sang teman, akan rasa dan hidangan kopi yang akan dibeli. Saya tidak ingin memakai gula, sama sekali tidak ingin. Teman saya ini ingin memakai satu sendok gula. Saya ingin memakai cup, dia ingin memakai gelas. Saya ingin memakai sedotan, maka ia akan mengatakan "Untuk apa memakai sedotan pada secangkir kopi panas?". Lalu, saya akan menjawab, "Untuk apa memakai sendok kalau tidak memakai gula? Toh, tidak akan ada yang diaduk". Perdebatan tidak akan berhenti sampai saya dan ia sepakat, "Oke, kopi tidak pakai gula. Tapi menggunakan gelas".

Akhirnya secangkir kopi datang. Pembicaraan pun semakin menjalang. Di satu meja yang terhidang kopi, jus, teh, dan sebagainya. Sang teman mulai menggoda saya, Tapi, toh saya biarkan saja. Karena saya tahu ini hanya pembicaraanseorang teman yang hanya perlu diputarbalikkan. Teman saya ini pun terus menggoda. Saya balas. Dan akhirnya saling menggoda. Aah, tetap saja pembicaraan jalang itu hangat.

Teman  : Ra, lengkingan suara lo oke deh. Masuk band gw dong
Saya     : Band lo kan rock. Gw gak ngerti rock!
Teman  : Bukan dodol! Metal
Saya     : Bahkan gw gak bisa bedain rock dengan metal. Sama kayak gw gak bisa bedain rambut lo dengan
              rambut barbie

Itu cuma sebagian kecil pembicaraan jalang antar teman yang hangat. Saya rindu berbicar demikian diselingi secangkir kopi hitam...

Kali ini, secangkir kopi memiliki rasa yang berbeda. Udara kali ini dingin, karena hujan yang tak kunjung berhenti. Saya duduk di meja dengan teman-teman, kemudian memesan kopi sesuai selera saya. Kali ini, teman-teman saya tidak ada yang menyukai kopi.

Secangkir kopi pun tersaji. Saya menikmati pahit dan hangatnya pada udara saat itu. Kenikmatan ini sedikit terusik ketika seseorang duduk di samping saya. Saya menoleh dengan sinis pada orang yang mengganggu ketentraman saya menikmati secangkir kopi. Seseorang ini ternyata Sang Asa...

Tanpa meminta izin, ia menyeruput harta saya saat itu. Saya tidak dapat berbicara apa-apa. Saya hanya diam. Selanjutnya sang asa melakukan pembicaraan yang hanya ditimpali oleh teman-teman saya. Tiba-tiba, seakan menyadari kebisuan ini, ia bertanya, "Kenapa lo ra? Tumben diem". Saya hanya dapat menjawab, "Ga papa. Lagi males ngomong aja. Capek". Teman-teman saya hanya menatap saya. Mereka tahu perasaan saya akan sang asa. Dengan tatapan itu, saya membalas tatapan dengan pandangan bodoh. Saat itu, entah kenapa saya benar-benar merasakan pahitnya kopi ini.

Sang asa kemudian berlalu. Dan saya mengutuk diri. Ketika malam menghampiri, sang asa mengucapkan terimakasih atas kopi saya, melalui pesan singkat. Saya membalas, "oke. gw kira lo lupa bilang makasih. Lain kali gw traktir lo secangkir kopi. Biar gak nyolong tiba-tiba". Dan sang asa membalas pesan itu, "Gak usah Ra. Lo tau gak, secangkir yang dinikmati bersama-sama itu lebih enak. Karena ada rasa saling berbagi". Dan saya pun tidak mampu membalas pesan singkatnya lagi...

Kali ini saya meminum secangkir kopi. Di kota yang memang tidak pernah pans ini. Di hadapan saya ada lelaki yang mengisi hai-hari saya, walaupun sejenak. Entahlah, perasaan saya pada saat itu. Di bawah tatapannya yang tetap sama. Dengan perhatian ia mendengar cerita ini. Bersabar menunggu ketika ada jeda di antara cerita ini. Saya kembali berharap, pada tatapan itu, pada kehangatan itu. Kopi, dingin, diam, dan tatapan mengisi malam itu.

Dan aku ingin waktu berhenti. Biarlah saya resah dengan rasa ini, biarlah kopi ini menjadi dingin. Kali ini saya rela... Tapi, ketika ia menawarkan gula pada kopi hitam ini, saya terhenyak. Dia tidak mengetahui bahwa saya tidak menyukai gula pada secangkir kopi. Saya pun menghentikan asa. Dia tidak mengetahui saya. Buat apa saya memaksakan diri pada keresahan ini? Saya ingin berpisah pada saat itu juga. Bahkan secangki kopi pahit inipun tak mampu saya habiskan ketika mengetahui itu. Cukuplah sudah basa-basi ini, pada malam yang dingin ini. Saya tidak ingin meninggikan harapan ini lagi. Karena dengan setengah kopi yang tersisa ini saja, harapan saya sudah meninggi dan sakit. Tahu kah kamu wahai sang harapan? Hingga detik ini juga, asa saya masih padamu...

Sepertinya secangkir kopi ini hanya cerita saya. Ditemani oleh pahit dalam menghadapi pahit. Apakah saya mengharapkan manis dalam pertemuan pahit tersebut? Seperti halnya minus dan minus menjadi positif? Sungguh, saya tidak mengharapkan manis. Hanya secangkir kopi ini yang menggambarkan saya.

Hidup saya kelam
Hidup saya pahit
Saya dinikmati oleh dunia dan orang lain
Hingga tersisa ampas, itu saya...
Saya kopi yang dinikmati hingga tersisa ampas
Yang masih saja pahit