Graham Coxon said it.
You have my intention, now.
Well done, Sir, well done.
Sabtu, 06 April 2013
Minggu, 31 Maret 2013
Taman Impian
Gelap, lelap, terhisap
Sesak, desak, terinjak
Ragu, sedu, termangu
Diam....
Gelap, lelap, menghisap
Sesak, desak, menjejak
Ragu, laju, melagu
Hidup....
Kita semua bertemu dipersimpangan terbiasa yang berbisa.
Mencari taman bernama nyaman
Rabu, 20 Maret 2013
Tentang Diam yang Berdetak Rindu
+ Kau bertanya pada ku seperti apa rasanya rindu.
- Aku tak tau, jawabku, yang aku tau setiap kali aku merasakannya hatiku bertalu gebu.
+ Sesak kah? tanyamu lagi.
- Benar, tapi hanya ini cara yang aku tau untuk berdetak.
+ Tak ingin kah kau menyepi sejenak?, tanyamu perlahan.
- Menyepi? Coba kau sebutkan tempat yang benar-benar sepi tanpa suara yang bersemi, tanya ku sambil senyum tertahan.
+ Kau terdiam.
- Aku menghitung jeda hingga ke bilangan enam.
+ Tak ada, jawabmu dengan mata terpejam.
+ Bahkan sejak manusia berselimutkan rahim, suara sudah bertandang tanpa henti.
- Ibu mengelus perut menenangkan bayi yang menendang. Bayi diam menurut seiring gesekan kulit terdengar di kuping.
+ Ketika meluncur menghirup udara, bayi dipaksa untuk menangis hingga airmata tercucur dan suara terdengar melacur.
- Ingin ini-itu tanpa mengenal kata tertata, bayi yang kini balita, harus menjeritkan bunyian melalui suara.
+ Pada masa sederhana, suara selalu terdengar berharga tanpa merana.
- Maksud mu? tanyaku seakan pembicaraan hilang arah
+ Tak sadar kah kau semakin berusia manusia semakin mengeluarkan suara yang penuh amarah? Mereka marah karena hidup tak sesederhana dan semengerti ketika diri diselimuti rahim yang bersemayam. Hidup semakin gerah.
- Ya, sekarang dunia terlalu bising hingga berujung pening. Semua berlomba bersuara, hingga suara membuat pekak. Lalu, siapa yang akan tersentak?
- Lalu, haruskah rindu menjadi ruang diam?
+ Bukan kah kau sendiri yang mengatakan bahwa tak ada yang benar-benar sepi walaupun kita cari hingga ke tepi?
- Ya, aku tetap pada kalimat ku. Toh rindu ini juga yang menandakan aku berdetak
- Aku tak tau, jawabku, yang aku tau setiap kali aku merasakannya hatiku bertalu gebu.
+ Sesak kah? tanyamu lagi.
- Benar, tapi hanya ini cara yang aku tau untuk berdetak.
+ Tak ingin kah kau menyepi sejenak?, tanyamu perlahan.
- Menyepi? Coba kau sebutkan tempat yang benar-benar sepi tanpa suara yang bersemi, tanya ku sambil senyum tertahan.
+ Kau terdiam.
- Aku menghitung jeda hingga ke bilangan enam.
+ Tak ada, jawabmu dengan mata terpejam.
+ Bahkan sejak manusia berselimutkan rahim, suara sudah bertandang tanpa henti.
- Ibu mengelus perut menenangkan bayi yang menendang. Bayi diam menurut seiring gesekan kulit terdengar di kuping.
+ Ketika meluncur menghirup udara, bayi dipaksa untuk menangis hingga airmata tercucur dan suara terdengar melacur.
- Ingin ini-itu tanpa mengenal kata tertata, bayi yang kini balita, harus menjeritkan bunyian melalui suara.
+ Pada masa sederhana, suara selalu terdengar berharga tanpa merana.
- Maksud mu? tanyaku seakan pembicaraan hilang arah
+ Tak sadar kah kau semakin berusia manusia semakin mengeluarkan suara yang penuh amarah? Mereka marah karena hidup tak sesederhana dan semengerti ketika diri diselimuti rahim yang bersemayam. Hidup semakin gerah.
- Ya, sekarang dunia terlalu bising hingga berujung pening. Semua berlomba bersuara, hingga suara membuat pekak. Lalu, siapa yang akan tersentak?
- Lalu, haruskah rindu menjadi ruang diam?
+ Bukan kah kau sendiri yang mengatakan bahwa tak ada yang benar-benar sepi walaupun kita cari hingga ke tepi?
- Ya, aku tetap pada kalimat ku. Toh rindu ini juga yang menandakan aku berdetak
Kamis, 31 Januari 2013
Love Letter
This is what I wrote
Wrote it just for you
It's not only about words
I'm sending the message to you.
It is created of sand
Wind, wave, and shiny sun
I hope it is done
And sail the message away to you
This is where the sand
Never been a time
And this is where the love I painted
It's only about you
It's the shiny sun that I kept from summer love
With every breath you took
I want to see it flows
It wishes it was in the sea tonight
And I blew it with every words
Just to make it sure it sails
I hope you will read
And keep it in your life box
Rabu, 12 Desember 2012
Tentang Bahagia (tak) Berevolusi
Hampir semua orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahkan
beberapa teori muncul dari pencarian kebahagiaan tersebut. Tak heran banyak
pula buku-buku fiksi maupun non-fiksi menuliskan tentang kebahagiaan tersebut.
Salah satu buku yang menulis tentang kebahagiaan tersebut
merupakan buku karangan Eric Weiner yang berjudul The Geography of Bliss. Weiner menghubungkan kebahagiaan dengan
keadaan geografi. Ia mengatakan bahwa di mana kita adalah sangat penting bagi
siapa kita (hlm. 18). Agaknya Weiner ingin mengatakan bahwa pencarian terhadap
eksistensi diri berhubungan erat dengan kebahagiaan. Tak heran para
eksistensialis acap kali dianggap sebagai orang-orang pemurung yang berlawanan
dengan masyarakat. Buku ini sendiri berusaha merangkum kebahagiaan 10 negara. Tentu
saja pemaknaan kebahagiaan tiap-tiap negara berbeda.
Adapun yang saya tuliskan berikut ini bukan merupakan
resensi terhadap buku terebut. Tulisan saya lebih merupakan tanggapan terhadap
pertanyaan yang diajukan Weiner secara lalu. Ada bagian yang cukup menggelitik
saya ketika Weiner berusaha menghubungkan evolusi dengan kebahagiaan:
“…Ketika
mereka (ilmuwan saraf) menunjukkan gambar yang menyenangkan kepada subyek,
bagian dauntelinga menjadi aktif. Ketika mereka menunjukkan gambar yang tidak
menyenangkan kepada subyek, bagian otak yang lebih primitive menjadi hidup.
Perasaan bahagia, dengan kata lain, tercatat di wilayah otak yang berkembang
belakangan. Hal ini menimbulakn
pertanyaan menarik apakah kita secara evolusioner, jika bukan istilah pribadi,
malas berjalan menuju kebahagiaan?” (hlm.
31-32)
Berdasarkan hokum
evolusi (survival of the fittest),
yang mengalami evolusi adalah makhluk yang tahan terhadap perubahan alam. Kita dapat
lihat melalui punahnya Dinosaurus yang dianggap sebagai makhluk non-evolusioner.
Jika dikaitkan dengan kemajuan IPTEK dewasa ini, perubahan alam bukanlah
sesuatu yang cukup ditakutkan lagi. Berbagai penemuan, jika tidak ingin
dikatakan menanggulangi bencana alam, dapat meminimalisir korban jiwa. Maka yang
dikatakan evolusi pada jaman sekarang merupakan evolusi mental (psiklogis).
Kemajuan IPTEK
yang berbanding lurus dengan taraf ekonomi, menyebabkan manusia teralienasi
(menggunakan istilah Marx) dengan dirinya sendiri dan masyarakat. Salah satu
kekhawatiran Marx terhadap masyarakat industry-kapitalis adalah manusia yang
menyamakan kebahagiaan dengan materi. Selama ini Marx dianggap oleh orang awam
merupakan pemikir materialis, saya mebaca Marx sebagai pemikir yang prihatin
terhadap kebohongan pemilik tanah yang menawarkan mimpi-mimpi kepada para
pekerja agar terus berbakti kepadanya. Kebohongan ini menurut Marx dapat
dilawan jika para pekerja sejahtera dalam ekonomi. Artinya, para pekerja harus
siap melakukan revolusi terhadap kaum kapitalis. Dapat disimpulkan, kebahagiaan
menurut Marx adalah tidak tertindas secara materi yang jika tidak dapat dicapai
akan menciptakan perbudakan.
Jadi, masyarakat
yang bahagia adalah masyarakat yang kuat secara ekonomi. Jika saya kaitkan
dengan pertanyaan Weiner di atas, ada empat kemungkinan dalam masyarakat dan
evolusi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut, ialah:
1. Masyarakat
bahagia dengan ekonomi cukup, malas berjalan menuju kebahagiaan tidak akan
mengalami evolusi karena ‘kebercukupan’ membuat mereka tidak bersiap secara
mental terhadap perubahan.
2. Masyarakat
bahagia dengan ekonomi cukup, merupakan masyarakat yang evolusioner karena dua
aspek (bahagia dan ekonomi) membuat mereka terus mengikuti IPTEK
3. Masyarakat
tidak bahagia dengan ekonomi yang tidak cukup, merupakan masyarakat evolusioner
karena mereka terbiasa dengan represi perubahan. Dapat dikatakan masyarakat
jenis ini merupakan masyarakat yang kuat secara mental
4. Masyarakat
tidak bahagia dengan ekonomi yang tidak
cukup, merupakan masyarakat yang tidak evolusioner karena meraka tidak mempunya
persiapan IPTEK yang didukung oleh ekonomi.
Pembicaraan dari
awal berada di sekitar evolusi secara psikologis, kemungkinan pada nomor 3
merupakan hal yang ideal terhadap penelitian yang disebutkan Weiner di atas. Kemungkinan
yang hadir pada masyarakat nomor 3 ialah mereka kuat secara mental terhadap
represi perubahan. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah biasanya
masyarakat yang seperti ini akan dianggap oleh psikolog/psikiater sebagai
masyarakat yang sakit.
Menurut para
psikolog, ada baiknya seseorang menunjukkan sedikit emosi terhadap apa yang
yang merepresi mereka. Ada baiknya menangis jika merasa sedih. Ada baiknya
merasa iri terhadap teman yang selalu mampu membeli gadget terbaru. Kuat terhadap represi perubahan IPTEK yang seperti
ini dianggap sebagai hal negative yang perlu diobati. Sementara masyarakat
nomor 3 lah yang merupakan masyarakat yang dianggap evolusioner. Jika demikian,
mengapa masyarakat yang dikatakan depresi memerlukan pengobatan agar bahagia? Sementara,
jika berdasarkan penelitian di atas, orang yang bahagia cenderung malas
berjalan ke pintu evolusi. Apakah kita memerlukan bahagia lantas punah?
Senin, 03 Desember 2012
Tentang Waktu
Salah satu akun twitter yang saya ikuti adalah @rockygerung . Kenapa saya mengikuti akun ini? Dulu sekali, alasan satu-satunya adalah karena dia dosen saya. Lalu, kenapa saya masih mengikuti akun beliau setelah lulus kuliah? Karena kicauan beliau (menurut saya) sangat puitis ketika membicarakan suatu wacana.
Bertanggal 24 November 2012 kemarin, beliau menuliskan beberapa hal tentang Waktu. Berikut akan saya tuliskan kembali apa yang disampaikan beliau.
1. Waktu bukan garis panjang yang berlari sendiri. Tetapi himpunan titik yang berbalas nafas. Seperti cinta. #waktu
2. Waktu tidak memusuhi mereka yang menunggu. Yang terjadi adalah sebaliknya. Seperti cinta. #waktu
3. Kamar adalah waktu. Bukan ruang. Seperti cinta. #waktu
4. Waktu tidak memerlukan keyakinan. Karena ia telah menyediakan semua keinginan. Seperti cinta. #waktu
5. Waktu tidak menyembuhkan. Karena ia tidak melukai. Tetapi waktu selalu memuliihkan. Seperti cinta. #waktu
6. Waktu tidak mengalir. Ia tidak menghanyutkan apa-apa. Ia hanya menyimpan. Seperti cinta. #waktu.
7. Waktu mempertentangkan segala hal. Karena ia bersedia menjadi saksi. Seperti cinta. #waktu
8. 'Sudah waktunya' adalah hal yang tidak pernah terjadi. Waktu tidak pernah 'sudah'. Seperti cinta. #waktu
9. 'Belum waktunya' adalah pemalsuan waktu. Waktu tidak pernah menunggu 'sekarang'. Seperti cinta. #waktu
10. Waktu bukan sumber hipotesa. Ia tidak perlu membuktikan apa-apa. Waktu bukan "bila-maka". Tetapi "Nah!". Seperti cinta #waktu
11. Sewaktu-waktu, waktu dapat berhenti menjadi waktu. Seperti cinta #waktu
12. "Waktu itu"' adalah jazad-nya waktu. Seperti cinta #waktu
Pandora Ini Bernama Rindu
Aku tidak meragukan ingatanmu akan pertemuan hasrat kita saat hujan pertama bulan kedua-belas dua tahun lalu. Tapi, mari ku ajak kau menyelusuri lorong dan membuka laci ingatanku. Di sana ada kunci menuju pandora melankolia yang menyisakan rindu.
Mungkin kau akan bertanya kenapa pandora itu penuh akan rindu. Mari, ku ajak kau memutar gulungan mimpi-mimpi ku di malam hari. Jangan khawatir mimpi ini berujung getir, toh ini memang berawal dari brandy yang menghangatkan kata yang diiringi kerlingan mata.
Rasa-rasanya, ke-tidak-sadaran lebih memahami kita berdua saat itu. Karena setelah itu aku mulai membalas dekapan tanganmu. Kalau kita sadar, mungkin kita tak akan saling memangut seakan lapar. Kita harus berterima kasih kepada yang alpa, kalau saja dia hadir dalam bentuk ingat, kita tak akan bersemangat sampai berkeringat. Itu kan kata-katamu dulu ketika kita akhirnya menatap malu?
Tenang saja, bukan bagian itu yang paling berkesan. Pertemuan tidak segera berakhir, kita masih bersama dari malam sampai malam kembali menghampir. Tapi, waktu tak selamanya tak kejam. Kalau itu terjadi jarak yang ada tak akan mencekam. Ayo kita habiskan brandy ini lagi agar tidak ada kata yang terucap berakhir pedih, kataku.
Gulungan mimpi-mimpiku sudah hampir abis. Apa pendapatmu? Jangan kau bilang aku ini perempuan sakit yang dengan sadis menguras perasaannya sendiri. Aku rasa itu tidak jadi masalah buatku. Karena rindu ini selalu mewujud kamu.
Langganan:
Komentar (Atom)