...


Minggu, 03 Januari 2016

Thoughts to end the year

Apa itu hidup?
Jangan, jangan kau jabarkan alasan-alasan
klise yang memuakkan.
Tanya hatimu. Ayo jujur sajalah.
Apa gunanya hidup?

Awal mula, sosok daging yang tidak
memiliki kesadaran penuh sudah dipaksa hidup. Sudah dipaksa tumbuh dalam keterbatasan. Apa sosok itu mempunyai kesadaran untuk meminta hidup? Tidak, tentu saja tidak.

Lalu, dilempar negitubegitu saja ke dunia. Dipaksa hidup, dipaksa menerima yang telah ada yang tidak pernah dimintanya. Tidak pernah meminta tapi sudah diberi. Dipaksa bertanggung jawab atas pemberian tersebut. Menangis, tapi dunia menyambut dengan  tawa.

Tumbuh dalam keterbatasan. Ada aturan yang harus diikuti.  Ada syarat untuk hidup. Padahal hidup tak pernah diminta sejak awal. Ada yang dibiasakan. Ada yang kemudian menjadi tumpul karena dibiasakan hidup. Padahal saat itiitu ada pikiran yang juga mulai tumbuh.

Apa, apa gunanya berpikir?
Jangan, jangan lagi kau jawab dengan jabaran klise yang memuakkan.
Aku tanya srkali lagi, apa gunanya berpikir?

Sadarkah kau, manusia dipaksa berpikir untuk kesinambungan. Terus berpikir terus hidup. Berpikir menjadi senjata kehidupan yang memaksa untuk lupa akan pertanyaan awal tadi. Ku harap kau masih ingat akan pertanyaan awal. Jika tidak, mari ku tuntun. Apa gunanya hidhidup?

Berpikir kemudian terbiasa dengan keadaan. Ada relasi yang membuat terikat. Ada emosi yang menjangkiti hidup. Ditimang kebahagiaan yang membuatmu lupa bahwa sosok lain juga awalnya juga tak pernah meminta kehidupan. Bukankah itu terasa palsu ketika sosok-sosok saling bertemu dan saling menjalin untuk hidup?. Aku, aku muak. Masih saja ada aturan yang diterapkan jika ingin hubungan terjalin. Padahal aku yang tak pernah meminta kehidupan ini tak hadir pada saat aturan itu dibuat.

Jika hidup mengikat untuk melupakan awal nukankah hidup menjadi beban yang lama-lama menelan dan menyiksa?

Kau ingat betapa kejamnya Cronos yang menelan anak-anak yang diciptakannya? Begitu juga hidup yang melempar kemudian menghancurkan ketika bertanya.

Semua pasti akan kembali ke awal, menuju ketiadaan. Berbahagialah orang yang mati. Mulialah orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya. Inilah mati terhormat karena berani mengambil keputusannya sendiri. Keputusan pertama yang diambil setelah hidup memaksa dengan keputusan lain yang tak pernah disetujui.

Mereka yang mengakhiri hidupnya mati terhormat. Karena mereka berani. Dan aku, aku menunggu datangnya keberanian itu.

Kamis, 03 Desember 2015

Romantic Works (Keaton Henson featuring Ren Ford) on Review

Romantic Works dari Keaton Henson release pada tanggal 16 Juni 2014. Seminggu sebelum tanggal tersebut, saya sudah menghubungi toko musik langganan untuk memesan album tersebut. Biasanya mereka langsung menyanggupi permintaan saya. Akan tetapi, kali ini berbeda. Mereka bilang akan dicoba dulu karena album ini agak sulit untuk dipesan dan akan memakan waktu lebih lama dari biasanya. Oke lah, tak mengapa, pikir saya.

Dua bulan berlalu dan toko musik langganan mengabari bahwa mereka tidak bisa menyediakan pesanan saya. Agak kecewa sih. Walaupun tersedia di itunes, saya masih tipe orang yang senang memiliki album fisik. Album yang penuh dengan gambar atau lukisan yang dibuat artistik dari penyanyi yang bersangkutan merupakan hal jarang dimiliki oleh penyanyi. Keaton adalah salah satu musisi yang selalu penuh kejutan di setiap album fisiknya.

Sampai tiga bulan yang lalu, seorang teman menghubungi saya. Dia yang notebene bekerja di salah satu toko musik indie di UK menawarkan kepada saya album Romantic Works ini. Dia bilang bahwa albumnya tinggal satu di tokonya dan dia teringat saya yang menyukai musik Keaton. "I'll give it, free. Please write a review after that", he said.

Dua hari yang lalu albumnya sampai di tangan saya. Tidak seperti dua albumnya yang terdahulu, Romantic Works merupakan album instrumental yang bekerja sama dengan Ren Ford. Mengingat Keaton merupakan musisi penyendiri yang sangat jarang bekerja sama dengan orang lain dalam musikalitas, album ini bisa dikatakan bukan album Keaton sepenuhnya. Setiap chapter musik terdengar alunan cello dari Ren Ford. Akan tetapi, setiap musik dalam album ini diakui sebagai ide dari Keaton. Mungkin Ren Ford hanya mengikuti arrangement yang telah ditulis Keaton.

Album ini pertama kali saya mainkan ketika saya berada dalam perjalanan. Hal yang selalu saya lakukan ketika mendengar album baru. Kenapa di perjalanan? Bagi saya, album merupakan "perjalanan batin" musisi pada suatu periode. Melakukan perjalanan berarti ada tujuan. Album yang baik menurut saya adalah album yang menemani pendengar dalam suatu perjalanan. Album yang baik menemani kesendirian dalam mencapai tujuan.

Okay, back to the album. Walaupun album ini hanya berisikan alunan instrumental, album ini sarat dengan ciri khas Keaton dalam bermusik. Kesedihan, penderitaan, patah hati, kesendirian akan langsung menghujam telinga. Jangan bayangkan adanya alunan instrument yang naik-turun secara drastis ala Mozart. Keaton membawa pendengar perlahan mengikuti alunan musik hingga puncaknya yang terdengar smooth (Elevator Song dan Healah Dancing menjadi contohnya). Bahkan acapkali terdengar intro hingga akhir musik, instrument dibiarkan stabil tapi dipastikan dari awal ada kesenduan yang terus membungkus seperti yang terdengar dalam Earnestly Yours. Pada tipe tersebut permainan cello sangat mendominasi untuk memberi efek dramatis. Saya pribadi menyukai Field dan Petrichor yang terdengar lebih lembut (dan manusiawi sendunya, hehehe) yang memberikan ruang lebih pada instrument piano.

Memahami album ini memang tidak mudah. Tidak ada lirik penguntai kata yang dapat diartikan melalui kata-kata juga. Satu-satunya kata yang ada merupakan judul dari chapter instrument yang dialunkan. Rasa-rasanya memahami bukanlah paduan kata yang pas dalam album ini. Karena album ini hanya bisa diresapi.

Mengapa Keaton sampai mengeluarkan album ini? Rasa-rasanya ambigram (tulisan yang hanya bisa dibaca melalui cermin) yang tertulis secara samar (jika saya tidak teliti mengamati lukisan Keaton di cover album, pasti akan terlewatkan) bisa menjadi petunjuk. Ambigram tersebut tertulis:


             Dear Someone
  Sometimes Words Escape Me

Jumat, 13 November 2015

Setelah Brandy..

Mungkin saat itu kita mengutuk waktu yang berlalu begitu cepat. Mungkin saat itu kita mengutuk brandy yang terlanjur menghangatkan suasana. Mungkin saat itu kita mengutuk keakraban yang tercipta. Mungkin saat itu kita tak ingin berteman lagi dengan sepi. Kemungkinan-kemungkinan yang tak pasti itu membuat kita mengulur waktu untuk berpisah.

Kau berkata bahwa kau berlibur di kota ini dan ingin sekali menikmati malam di kota ini. Kau bertanya apakah aku berkenan menunjukkan dan menemaninya menghabiskan malam dengan berbincang. Aku tersenyum mendengarnya dan mengiyakan ajakanmu. Dalam hati aku berkata kau ini lelaki yang masih punya sopan setelah begitu berani menyapaku dengan brandy. Lalu, berdua kita menuju mobilmu. Mencari tempat untuk menghentikan malam. Kita berusaha melawan waktu. Akan tetapi,kita masih cukup sadar bahwa itu melawan alam. Tidak mungkin.

Saat itu kau berjalan agak cepat setelah membuka pintu mobil dari kunci otomatisnya. Aku perkirakan ada empat langkah yang tersisa hingga menuju mobil. Kenapa kau terburu-buru, tanyaku. Kau menghentikan langkahmu dan menjawab bahwa kau hanya ingin membuka pintu mobil untukku. Aku sedikit gusar dengan jawabanmu. Aku bisa membuka pintunya sendiri, apa aku terlihat seperti perempuan yang terlalu lemah untuk membuka pintu mobil sendiri? Kau menatap mataku saat mendengar pertanyaanku. Lalu, kau menujuku yang tertinggal empat langkah. Aku tidak berpikir seperti itu, sekarang aku akan berjalan di sisimu untuk menuju tempat yang sama. Itu jawabmu sambil menautkan jemarimu di jemariku. Aku terdiam. Sambil menggenggam erat jemariku kita berjalan bersama menuju mobilmu. Kau begitu lancang. Tapi, siapa aku yang berani menepiskan kehangatan yang menjalar ke hati?

Aku menanyakan kau ingin ditemani kemana. Kau bilang terserah padaku karena aku yang memahami daerah ini. Aku menatap jam tanganku lalu menoleh ke arahmu. Ini pukul sebelas dan satu-satunya tempat yang masih buka hanya fasilitas di dalam penginapan, pikirku. Ku katakan hal itu padamu. Kau menjawab dengan sedikit gugup, ini pulau yang terkenal dengan pantainya lebih baik kita ke pantai. Aku mengernyitkan keningku. Di pulau ini ada semacam aturan untuk tidak memasuki pantai umum di malam hari. Katanya ada semacam roh jahat yang akan merasuki jika melanggarnya, jelasku. Belum selesai penjelasanku, kau menjawab bahwa itu bisa saja hanya mitos yang tak perlu dipercaya. Aku pun tidak mempercayainya, ujarku, tapi sesuatu yang tak kita percayai bukan berarti membuat kita tak menghormati kepercayaan orang-orang yang mempercayai itu. Kau diam, suasana menjadi tambah dingin.

Kau mulai menyalakan mesin mobil. Baiklah, kita menuju ke tempat yang kau maksud. Itu katamu sambil menarik napas. Sungguh, pada saat itu aku tak mengerti apa yang ada dipikiranmu. Sungguh, pada saat itu aku ingin bertanya kenapa. Sungguh, pada saat itu aku mengutuk mulutku yang tak berani berucap. Sungguh, pada saat itu aku membenci sunyi.

Apa kau punya album lagu yang bisa aku dengarkan? Aku benci sunyi yang seperti ini, ucapku. Aku menyimpannya di laci itu, katamu sambil menunjuk dashboard di dekat kakiku. Kau tinggal pilih dan jangan menertawakan jika kau merasa koleksiku buruk, lanjutmu. Aku pun mulai membuka laci yang kau maksud. Kau cukup banyak memiliki album dan susunannya sangat rapi untuk seorang lelaki. Ku telusuri album-album tersebut, kebanyakan dari mereka beraliran jazz dan soul. Hingga akhirnya jemariku berhenti pada satu album. Aku terkejut kau memiliki album tersebut. Sungguh sangat sulit untuk mendapatkan koleksi penyanyi bersuara lembut ini.

Kau tau betapa sulitnya aku mendapatkan album ini, tanyaku. Kau melirik album yang berada di tanganku. Kau tau Katie Melua, tanyamu dengan terkejut. Ku kira generasimu lebih mengetahui musik-musik yang memekakkan telinga. Kau sungguh sulit diprediksi, lanjutmu. Jadi, kau ingin mengatakan telingaku terbiasa dengan suara-suara berisik ya. Sindirku. Kau terlalu banyak bergaul dengan orang-orang yang seperti itu. Lanjutku. Sisa perjalanan kita habiskan dalam diam menikmati lagu-lagu perempuan bermata indah tersebut.

Rabu, 11 November 2015

One Day


To : You

Dear you...
I write these words for you.

Do you want to know what it feels
to stick with one person for six years?

Do you wany to know what it feels
to hide this love from people just because
you already know it won't work?

Do you want to know what it feels
to ignore the truth just because I love you?

Do you want to know? Or you you don't want to bear?

.................

Let's start with "One day".

One day that changed my life
One day that I learned to
cry and happy in same time
One day that I was so blessed
One day that I hope I didn't meet you
One day thay i feel so unwanted.


One day we met, we shared ideas, we laughed, we fell in love, we made love.

One day we know the world hates us
One day, we cursed norms, we cursed the ages between us, we cursed our lives.
We cursed God!

After that, we were still together.
We fought the distance
We fought the norms
We were hiding from people.

I didn't care.
Because we did it together
At least I thought so.

From year to years, believe was the only one we shared.
From year to years, we madr new memories.
From year to years, we loved the situation.

Till now
I see your pic with the other girl.
Yes, I said it! She is just a girl. I dont blame her. I blame you.

You made her feelings to write how happy she was with you. Implicitly! There is hope in her writings. There is love in her situation.

I can not blame her for havibg it. If i blamed her it means I blamed myself. Because she is just like my mirror, six years ago. How can you make this girl in the same situation like me?

Do you want to know what it feels to realize "it is the time for mr to destroy the hope" ?
I can not even say it was our hope.
End of that time I know itsit's been my hope.

And you,
You betrayed my time.
Betrayed the time that made memories.
Betrayed memories that linger in my minf forever.
I know I will have this ache till the last of ky breath.
Until that time you will nevet know.

One day, this girl will know you.
She will know how you hug with your arms tighten my waist around.
She will know how you like to drink red winein the morning
She wiowill know how you smile between hard situation
She will know how you like her to lullaby you when you are in bad mood
She will know  how you want to be hug when you're going to sleep

She will know things that I've known
She will know every inch of your body
She will know your touch
She will know you

She will know things that I will miss

Selasa, 16 Juni 2015

Cermin

Kau bilang mataku penuh dengan kemarahan.
Kau bilang aku tak menyadari bahwa diriku sendirilah yang sedang ku tatap.

Apakah kau lupa, sayang, kau sendiri pernah bercerita tentang cermin?
Kau pernah bilang kau begitu jatuh cinta pada cermin.
Kau bilang tak ada manusia yang benar-benar kuat ketika bercermin.
Cermin menelanjangi manusia.
Kau heran, kenapa benda yang rentan pecah malah merapuhkan manusia hingga menjadi kepingan kebenaran?

Aku, aku akui aku cemburu pada cermin yang kau cinta dengan segala keheranan mu. Aku cemburu karena aku tak memahami cinta mu itu. Aku akui aku cemburu ketika cintamu tak sepenuhnya untukku. Aku cemburu dengan sebuah benda.

Lalu, lanjutmu sambil menatapku melalui cermin, inilah cermin yang kau maksud. Kita berdua saling menatap melalui cermin. Kita berdua saling  memahami kerapuhan yang ditelanjangi oleh cermin.

Ketika kau mengatakan mataku penuh amarah, kau sebenarnya meresahkan dirimu sendiri.

Aku tau pertukaran kata ini bagaikan pisau bermata dua. Jejaknya akan kita basuh dengan pilu.

Karena seperti cermin, retaknya tak mungkin kita hilangkan

Rabu, 03 Desember 2014

Finding A Voice

When I was on boat, back from Wat Arun Pier, there was contemporary public art space. The Tourism Authority of Thailand (TAT) is inviting local and international tourists to experience Bangkok’s newest and innovative public art space ‘The Ferry Gallery’ that displays inspiring contemporary arts while cruising along the majestic Chao Phraya River.

At that time, there was "Finding A Voice". I just watched it few minutes because my guide (oh, hello Mr.Anwan. Next time please be more informative) had tight schedule. But it's enough to made me ask about "is the voice that you speak same with the voice you don't speak?". Pardon me for confusing you. Blame it on my philosophy education.

Luckily, I captured the explanation. I wish I got the full video



Sorry for the blurry pic. Here the text if you want to read it :

Finding a Voice exhibition explores the idea of the transformation and disruption of an identity. It questions a physical and psychological gap and conflict between the mind and body in order to grow into another self. The exhibition presents video works by Australian artist Nina Ross titled “Finding a Voice (2012)” and “The Foreignness of Languages (2011)” as well as video work “Gaza Zoo/Bath Time (2012)” by Palestinian video artist, Sharif Waked.

Finding a Voice (2012) draws on Ross’ experiences of learning a second language. There was a momentary pause, a gap between the mind and body which made Ross question herself before speaking. This disconnection was physical and psychological. Her practice examines the body as the living container of actions, thoughts and desires which actualize themselves into words in our throat through the articulation of sound (which causes the voice folds to produce vibrations). This video explores such experiences on the body as a metaphor for the repercussions on one’s sense of self; playing on the process of trying to own a foreign language.

The Foreignness of Language (2011) draws on Nina’s experience of learning Norwegian to explore how second language acquisition influences and disrupts identity. The process of learning a second tongue involves adapting and adjusting to knowing and not knowing oneself in an unfamiliar language. The foreignness of language investigates the duality of having two languages sitting inside oneself and as a result having one’s identity in a constant state of flux. The video examines the tension of being caught between two languages represented by the experiences on the body as a metaphor for the repercussions on a sense of self.

Gaza Zoo/Bath Time (2012) is a video work of a donkey transformed into a zebra in Gaza. The cross-dressing of the species variety took place at the hands of an entrepreneur  whose zoo was badly damaged in the Israeli incursion earlier that year in order to draw the crowds back. In the video “Bath Time” a donkey takes a good shower after a long day saturated with the spectator’s gaze and laughter at the Gaza Zoo. Gaza Zoo explores the industry of amusement. It ponders the politics and aesthetics of role-play and performance, the penal colony and the wild; the make-up artist and his muse; and the original and its copy.

Kamis, 27 November 2014

Feeling Safe

Kata mereka, perasaan nyaman muncul ketika kita bersama dengan orang yang sangat mengenal dan memahami kita. Kata mereka, orang yang memahami kita merupakan orang yang menghargai kita. Kata mereka, orang yang menghargai kita tidak akan membuat kita terluka dan terasing. Itu kata mereka. Bukan kata saya.

Ada hal yang sangat saya benci dalam memulai suatu hubungan. Hubungan yang saya maksud bukan hanya sekedar pacaran atau persahabatan. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan yang mengikutsertakan ikatan emosional. Ketika memulai suatu hubungan, tak jarang terjadi pencampur-adukkan suatu hubungan dengan yang lainnya.

Contohnya, saya berhubungan dengan laki-laki yang secara sengaja maupun tidak sengaja akan ikut serta dalam hubungan-hubungan lain. Laki-laki ini bisa saja meminta saya untuk menemaninya ke suatu acara. It means, acara tersebut adalah hubungan (relasi) dia yang berada di luar saya. Why on earth I should accompany him?

Contoh lainnya, saya (dulu) memiliki teman sekolah yang kemana-mana atau apapun harus melakukannya secara bersama-sama. Karena terlalu bersama, maka teman mantan pacarnya harus diketahui juga.

Karena pencampur-adukkan hubungan inilah, saya merasa tidak nyaman dengan orang yang saya kenal. Coba bayangkan, saya berteman dengan A yang mengetahui latar belakang saya berhubungan dengan si C, D, bahkan Z. Ketika bertemu dengan A, saya tidak bisa lagi bercerita dengan nyaman tentang hal-hal yang membuat kita menjalin hubungan. Saya merasa tidak nyaman ketika orang-orang yang berhubungan dengan saya melihat saya dengan latar-belakang yang sudah mereka ketahui.

Pernah ada satu kejadian yang membuat saya menjadi tidak nyaman dengan orang yang saya kenal. Jadi suatu hari saya bertemu dengan A, teman yang sudah lama tidak berjumpa. Pertemuan, yang menurut saya menjadi menyenangkan karena bisa bernostalgia ataupun membuat nostalgia, tiba-tiba menjadi awkward ketika dia menanyakan pacar saya. Saya jelas bingung, darimana A yang bertahun-tahun tidak bertemu dengan saya mengetahui pacar saya pada saat itu. Cerita punya cerita, pacar saya dan teman mantan pacar A merupakan roomate semasa kuliah di luar negeri. Bukan, ini bukan tentang sempitnya dunia. Ini tentang kenapa mereka berusaha mengatakan kepada saya, "gw kenal dengan relasi lo yang lain".

Masalahnya adalah memangnya kenapa kalau mereka saling mengenal tanpa menyampaikan hal tersebut pada saya, seakan-akan saya harus mengetahuinya? Bukankah A dapat menghakimi saya hanya melihat gaya pacaran saya? Saya pernah dihakimi memiliki sugar daddy hanya karena berhubungan dengan pria yang umurnya jauh di atas saya. Yang ada sampai sekarang, saya kadang dianggap "nakal" oleh mereka yang menghakimi. Padahal mereka tidak mengetahui bahwa pria ini single (memutuskan tidak ingin menikah) dan menghormati saya sebagai perempuan. Menyedihkan juga sih ketika mengetahui orang-orang yang kenal malah menyakiti karena terlalu ingin mengenal.

Pada akhirnya saya merasa nyaman berhubungan dengan mereka yang tidak melihat latar-belakang saya dan berusaha untuk tidak mencampur-adukkan hubungan-hubungan yang ada. Saya lebih nyaman dan bebas di sekeliling orang-orang asing yang tidak memperdulikan siapa saya. Saya lebih memaklumi jika orang-orang asing ini menyakiti saya karena saya tau mereka tidak mengenal saya. Karena aneh rasanya ketika orang-orang yang merasa kenal malah menyakiti

Senin, 21 April 2014

Love Letter

Do you ever get a love letter in this super high tech era? I mean, someone write you a letter with his bare hands. With pen. Write, not type.

And do you ever get the letter with the sender popped up in front of you? Someone puts the letter in your pocket secretly?

Well, It happened to me 3 years ago. This guy wrote it with, let me say, cheesy words. At that time, I was so ashamed after read it. But, when I reread it today, I feel so melancholic. The words are still the same. But feeling has been changing. I feel so special in this fuckin high tech era.

To this guy, thank you for making me so special. But still, I have a same feeling like 3 years ago. As a friend. I appreciate all the things you have done to me (hey, I keep the fd, letter, and silly words that you wrote in my college book. Just like I keep my friends's "trace" there).

Thank you....

Rabu, 04 September 2013

Note to myself to reread it when I'm turning 30 years old

MIKA, POP UP XL 89 (September 2013) - AN OPEN LETTER TO MY OLDER SELF (TURNING THIRTY)

Illustration by DaWack

On the eve of my 30th birthday, I decided to write an open letter to my older self. I can not read this letter again until the eve of my 80th birthday.

Dear Mika, I hope this finds you well. I have no idea where in the world you will be when you read this. My life so far has been made up of so many twists, turns and contradictions, that there is no way of predicting where or how you will be. For starters, I just hope you are alive! Even if the world has become a terrible or hostile place, without water and without seasons, I still hope you’re in it. Not because I want to maintain my presence for as long as possible, but just because I’m curious and you’re my only way of finding out.

You may wonder why I’m writing this, but the reason is quite simple. A lot of noise is made about someone turning 30. Yes, you can laugh, you’re about to turn 80. The only reason why I think we care is that childhood along with adolescence has been eroded. The normal transitions of life before adulthood don’t exist any more. We live a sort of ‘kidulthood’ for far too long and suddenly we hit 30 and have no more excuse. A 30 year old, a hundred years ago, was approaching the twilight era. You however, at 80, are probably not even considered old any more. I wonder how your health is and how long you might actually live? 100? 120? Perhaps you live in an augmented reality, which covers up all the destruction of the last 100 years. I hope that’s not the case. I hope things are still green and there is still winter and summer. What scares me the most, is that now as I turn 30, I don’t believe things as basic as seasons and fresh air are guaranteed in the future.

As those around me have been making a fuss about my 30th, this is my retaliation. As a boy, the only secret power I ever wanted was to freeze time. In order to relish a little longer in moments I loved and to reap vengeance on those who hurt me. This is me freezing time just for a moment. Like a capsule or a message in a bottle. Beyond that I don’t care about my age, as long as I am free.

I am writing this from the basement of my house in London’s World’s End. There’s a car engine outside making noise. My mother has just popped over to have a cup of tea and my dog is asleep in the corner. They will all be gone when you read this. I have never faced death, you have. How lucky you must think I am to have those I love around me in the flesh. Don’t romanticise too much however. They are not so perfect up close you know? So far I have seen terrible things happen to people I love dearly, but I’ve never lost any of them. You have and I’m sorry for the pain it caused you. I’m sure you’ve made some pretty amazing friends though. Not just the glamorous famous ones. Those ones I know already, come and go so fast, but real friends. I hope they are strange and keep you weird. Please stay weird.

In the world right now, the US and the UK are spying on us and no one can do anything about it. Even Obama is unable to take a hard line on the subject. The Middle East is in turmoil and the incredible city of Aleppo which you visited at 25 is pretty much destroyed. In Russia, the government is turning viciously and bizarrely anti gay, as a result of the bigotry of the powerful orthodox church, but marriage in Europe and America is looking positive. Except in Italy, God knows about that! I wonder if you have children and how you got those, as I already know for sure that you haven’t hooked up with a chick. I hope you have kids, I hope they look like me. And what about Music!? OH GOD I wish I knew what that would sound like in the future.

I could go on for ever, but I must stop. Please remember, we are not so different you and I. If you read this, and do not recognise the hand or the voice, something has gone terribly wrong. If you feel a little embarrassed, that’s OK. In the words of Doris Day, “che sera sera”. That’s true, but I can’t help but feel, that in the chaos of cause and effect that forms our future, the tiny action of writing this letter might change something further down the line. One thing, I hope your not bald, if so, wear a hat.

With all the love in the world,
You x

Jumat, 12 Juli 2013

First chapter

Semua ada awal...

Ini sudah tahun ketiga ku tanpa kamu, tanpa kita. Tahun ketiga pula yang kulewati dengan lelaki yang bergantian menemaniku dipagi hari. Tahun ketiga yang coba ku biasakan melewati lima tahun bersama mu, bersama kita.

Ingin rasanya aku menghitung jumlah napas yang terlewati tanpamu, tanpa kita. Tapi, bagaimana caranya? Dalam satu menit aku bernapas 40 kali, coba aku kalikan ke hitungan jam, ke hitungan hari, ke hitungan minggu, ke hitungan bulan, ke hitungan tahun. Hasil akhirnya akan ku kalikan tiga. Hasilnya saja berupa angka. Terlihat mudah, kan? Andai saja hitungan rindu menjadi semudah itu. Jangan kau tanyakan padaku bagaimana menghitung kenangan.

Kenangan selalu membentuk awal. Awalnya ada aku, kafe sebagai tempat awal, dan kamu yang duduk sendiri di pojok titik-buta dari tempat dudukku. Di penghujung senja hujan turun dan aku terjebak tak bisa pulang. Jujur saja aku sedikit kedinginan saat itu. Ku teruskan membaca buku The Stranger karya Albert Camus. Walaupun aku sudah hapal semua kata dalam buku tersebut, aku tetap menikmatinya.

Ini sudah kopi kedua ku, bukannya merasa hangat aku malah merasa sedikit mual. Sialan, seharusnya aku pesan brandy tadi. Ku letak kan buku itu di atas meja, kalau ku lanjutkan bisa-bisa aku akan muntah. Sambil bersandar disofa tempat dudukku, aku memejamkan mata. Aku ingat nasihat ibu ku untuk mengambil napas panjang dan menahannya hingga hitungan kelima jika aku merasa tak sehat. Pada hitungan ketiga kau datang menyapaku yang sedang terpejam.

"Kau tau, kau terlihat putus asa. Bisa-bisa orang-orang akan mengira kau akan bunuh diri", itu sapaan awal mu. Memang bukan sapaan yang manis. Aku yang sedikit kesal dengan kehadiranmu yang memutuskan hitungan napasku, menjawab dengan ketus "ya, orang-orang yang terlalu sibuk mencampuri urusan orang lain akan berpikir seperti itu". Kau tersenyum simpul saat itu, "maaf jika terlihat mencampuri. Kau hanya butuh segelas brandy untuk menghangatkan badanmu". Saat itu juga aku baru menyadari kau membawa dua gelas. Aku yakin sekali itu isinya brandy. "Tenang saja, brandy ini tidak kucampur dengan apa pun. Kalau kau tidak percaya, aku akan memesankan yang baru untukmu", ujarmu sambil duduk didepanku tanpa permisi. Sudahlah, meja ini terlalu besar untuk ditempati oleh dua cangkir kopi, pikirku. Akhirnya, aku mengambil segelas brandy yang kau letakkan dihadapanku. "Kau mudah percaya pada orang asing ya? Ku kira kau akan menolak tawaran minuman ini", tanyamu sambil memandangku takjub.

Sengaja kubiarkan kau menunggu jawabanku hingga brandy hampir habis. "Kau tau, dikeluargaku ada resep untuk meminum brandy jika ada yang demam. Jadi aku sudah mengenal brandy mana yang sudah dicampur atau tidak. Lagipula, pekerja kafe tidak akan membiarkanmu untuk berbuat macam-macam padaku. Aku salah satu pelanggan setia mereka", jawabku akhirnya. "Kau benar-benar penuh perhitungan seperti Camus", pujianmu membuatku terkejut karena kau mengetahui pengarang favoritku. Dari situ, pembicaraan kita mulai menghangat.

Kau bilang kau baru saja sampai di kafe itu sepuluh menit sebelum aku masuk ke dalam untuk memesan kopi. Kau bilang dari awal tampangku sangat mudah untuk terus diperhatikan oleh orang lain. Aku yang merasa penampilanku biasa saja langsung mengatakan "jangan-jangan kau yang menjadi sangat suka memperhatikan orang lain karena dirundung bosan setengah mati". Lagi-lagi kau tersenyum dan mengatakan bagaimana mungkin kau dirundung bosan ketika hanya berjeda sepuluh menit.

Kau berkata bahwa manusia itu acap kali disamakan dengan animal (binatang) bukan tanpa sebab. Lalu, kau melanjutkan bahwa binatang itu mengeluarkan bebauan khasnya jika berada di dekat binatang lainnya. Bau itu entah menandakan mengancam jangan didekati atau menarik untuk didekati. Dan aku, masih lanjutmu, berada di antara jangan didekati dan didekati. Kau pun mengaku bingung, kebingungan yang membuatmu memberanikan diri mendekatiku. Hal yang misterius memang menarik, ujarmu. Aku terkejut dengan keberanianmu. "Kalau begitu, kau ini termasuk gagal dalam membaui aku sebagai lawan jenismu. Kalau kau percaya dengan logika bau-bauan tersebut, seharusnya hanya dua hal. Didekati atau tidak didekati, tidak ada pilihan ketiga. Atau jangan-jangan insting kebinatangan yang kau percayai itu sudah tumpul". Kau terdiam dan meneguk kembali brandy mu.

"Tidak, insting ku tidak tumpul. Perkataan kau tadi sudah menjelaskan. Kau pintar dan mengatakannya dengan jujur. Kau menyampaikannya walaupun itu sedikit kasar. Kita baru saja berbincang dan kau sudah bisa berpendapat terbuka, seakan kita sudah lama saling mengenal. Hey, tentu saja kejujuran itu kasar. Mungkin itu sebabnya orang-orang takut dengan kebenaran", katamu. Di akhir kalimat itu pula brandy kedua gelas dimeja habis. Malam semakin larut, dan bartender sudah membersihkan meja bar bertanda akan tutup

L'amour dans le mauvais temps - MIKA

L'amour dans le mauvais temps

Nous y voilà, toi et moi sur notre sommet
ces deux montagnes de fierté à soulever
a qui la faute, celle qu'on se rejette chaque fois
le premier qui saute sera-t-il le fou, le roi ?
après nous le déuge
se laisser tomber
dévaler jusqu'à un refuge, jusqu'à s'oublier

mon amour personne à l'horizon
plus que le temps assasin
personne ici, il n'y a plus de saisons
pourquoi écouter en vain la météo cruelle
moi j'aime autant
faire l'amour dans le mauvais temps

nous voilà bien, à guetter le premier qui glisse
et brisera le lien, assis au bord du précipice
on apprendra
y'a que le montagnes qui ne se rencontrent pas
bien trop fières pour faire un seul pas
après nous le déluge
se laisser tomber
dévaler jusqu'à un refuge, jusqu'à s'oublier

mon amour perosnne à l'horizon
plus que le temps assasin
personne ici, il n'y a plus de saisons
pourquoi écouter en vain la météo cruelle
moi j'aime autant
faire l'amour dans le mauvais temps

Everytime I listen to this song, my heart beats faster.

Kau tau rasanya kehilangan kata-kata yang sudah di ujung lidahmu? Sementara, kata-kata itu mendesak untuk keluar dan meluapkan perasaan yang membuncah di hatimu.

Sesak, kah? Tapi kau tak ingin menghentikan rasa sesak itu. Melalui sesak itu kau bernapas dengan perlahan, menghargai tiap hembusan napas tercekat mu.

Kau tidak mengerti apa yang terjadi, tapi kau candu terhadap kealpaan itu. Kau hanyut dalam suatu yang bisa saja membunuhmu. Tapi kau biarkan, karena kau menikmati perasaan tramendum itu.

Bunuh diri? Bukan. Kau menari menjelang penghujung. Indah

Kamis, 06 Juni 2013

Time flies, friends changed

Kemarin saya ketemu dengan teman-teman lama. Suasana yang sebaiknya diisi dengan melepas rindu ini, entah kenapa bagi saya, tidak sehangat pertemanan yang pernah ada. Tidak, saya tidak menyalahkan mereka. Bisa saja saya yang terlalu sensitif. Biasalah, tipe Taurus (malah nyalahin zodiak).

Saya akan menceritakan sedikit kronologisnya. Sore itu, saya dan teman-teman lainnya berjanji untuk ketemu. Kita semua sudah sekitar setahun tidak bertatap muka. Saya datang 15 menit lebih lama dari waktu yang dijanjikan. Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan karena masa depan saya menyenggol pekerjaan ini. Toh, agaknya menunda melampiaskan rindu sudah menjadi kebiasaan. Sesampainya ditempat yang ditentukan, saya hanya melihat 3 dari 15 yang berjanji hadir. Mereka terlambat juga, pikir saya.

Tak perlu menunggu lama, mereka semua hadir. Pembuka obrolan selalu menanyakan keadaan. Pertanyaan basa-basi sebenarnya, tapi entah kenapa menimbulkan efek bahagia bagi saya. Setidaknya pertanyaan basa-basi itu menciptakan delusi berbentuk keperhatian. Tetapi, delusi cepat dihancurkan ketika pertanyaan umum selanjutnya adalah masalah pekerjaan. Oke, kita semua memang berada di tahap umur untuk bekerja.

Anehnya, itu bukan pertanyaan basa-basi. Obrolan malah terus bergulir di seputar pekerjaan (perusahaan bergerak dibidang apa, kerjaannya apa saja, gajinya berapa, kelakuan boss atau teman sekantor yang seenaknya). Saya tetap menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk "menjaga" komunikasi. Padahal, saat itu juga saya berpikir "are they really my friends?". Hal-hal yang mereka bicarakan itu hal yang baru datang dalam pertemanan ini. Simplenya, masalah pekerjaan itu seharusnya diletakkan (bahkan harus dibuang) jauh-jauh ketika kita berada dalam lingkaran teman.

Lelaki saya selalu bilang, "letakkan semuanya di luar karena kita sedang ada di rumah". Maksudnya adalah mencampurkan dua situasi pada satu keadaan malah akan memperburuk keadaan. Coba bayangkan (ini masih penjelasan lelakiku), salah satu dari kita menceritakan satu hal yang tidak dialami secara bersama-sama, akankah ada pemahaman? Tentu saja, tidak ada. Jikapun ada, itu tak lain hanya satu pemaksaan agar pasangannya senang. What kind of relationship is that?

Kembali ke pertemuan saya dengan teman-teman. Kami berbincang berjam-jam. Tapi 3/4 dari jam yang terlewatkan hanya berputar pada pekerjaan. Pada saat itu, saya merasa tak mengenal mereka lagi. Pada saat itu, saya berkata dalam hati "Pertemanan kita selama bertahun-tahun, sudah tidak ada lagi kah kenangan yang ingin dibagi bersama?"

Senin, 20 Mei 2013

MIKA live in Jakarta review

I know it's too late to review MIKA live in Jakarta concert. It was on May 10th. I need time to calm myself down after the concert. I felt shock in positive and negative. Feeling two contradiction in yourself is enough to fuck you up. Okay, let's review it.

As you know, I'm addicted to MIKA. I've never been so over addicted intellectually (not like fangirling) to any singer man. I had waited his concert in my country for years. That's why, when I heard he would come, I bought the ticket without any considering about the price. There was two kind of prices, Rp.900k (closest to stage) and Rp.750k (not too close to stage). Of course you know which ticket I bought ;) . I bought it 2 months before his concert. Yeah, I was super excited.

At first plan, it would be held on Saturday 11st May. One month before the concert, suddenly the date had changed to May 10th. I don't know why it had changed, some rumours said it was because at May 11st there would be Aerosmith concert (later, Aerosmith cancelled their concert, 5 days before the concert!). I was still  excited, for me it was good because it meant I would see his concert faster.

MIKA arrived in Jakarta on May 8th at 4 PM. None of his fans could reach airport at that time, because promoters didn't tell us earlier. They told us 2 hours before he arrived. Yeah, if they acted profesionally, they would tell us not 2 hours earlier (they live in Jakarta, they KNOW how crazy the traffic jam is). Or if they really not wanted to tell us about the arrival, they could shut their mouth up. On same date, at night (about 8-9 PM), there was press conference about the concert with MIKA himself. My prediction, he was just arrived from airport but he already looked so fresh (jet lag isn't his problem, I think). The promoters said he would perform on X Factor Indonesia, right after the concert. He looked shock enough. He said he didn't know it, but with smile he said "it means I will be in hurry after the concert". Somehow I felt sarcasm in his voice. Promoters said the performance on X Factor wouldn't disturb the duration of the concert. Too late, at that time I knew they lied.

Jump to May 10th,  it was  9AM
and I was already on train to Skeeno Hall (Gandaria City). The concert itself, based on schedule, will started at 8 PM. I met some of friends who like MIKA, all of us were be in same section (closest to stage). After changed the ticket, I had to find Jassmin. She's from Malaysia and we had contacted before to see MIKA together. I found her on Skeeno Hall. So I went upstair with Sherly to pick her up. There, I saw her was questioning the bodyguards, the promoters about the check sound, where MIKA would come and out, and about the backstage. It was normal for me, because based on my knowledge about MIKA concert, the promoters even his management were so nice to the fans. So I and Sherly started to ask too. But, this time we didn't have a clue. Plus, they answered unfriendly and bad intonation. Fucking seriously, I've been to many concert, and this time it's really bad. From outside, I know Skeeno Hall isnt too big but the securities, the promoters were everywhere. It was overrated.

So, I, Sherly, and Jassmin went down and waited in the line. There were only 8 fans. So, Jassmin started to think that we have to find where Mika would come and out. With over-security, he and his band were impossible to across the usual way. Jassmin, kak Ocha, Hans and his friend, went away to find the way. The rest of us, waited in the line to keep our position. In case, it would be more fans will come and we will lose our line. But we made a mistake.

The queue wasn't decrease much even it already 4.30 PM. The Jassmin team was still find a way, and I started to feel sad, "seriously, is it just us who show the enthusiasm? What if Mika see the line?". At that time, Asti asked sign from people (who already in the line) on banner that she made a night before the concert. While waiting in the line, we discussed how come the promoters giveaway tickets that much. They made quizzes, the winners could come with a friend. We also discussed how "meet up with Mika" contest was just a lie. I was almost in tears knowing MIKA with the unprofessional promoters.

About 5.30 PM, the gate was open. Jassmin and team were back, and they said the might found that way. they weren't sure, but we had to try it. Thirty mins before the gate was open, some people in the line maybe saw policies with gun went upstair to clean area. I said "fucking seriously, gun for concert? They might hide in hall to make it works. Who knows there will be snipers too?".

About 7.45 PM, we all were in hall. The stage was not sooo MIKA. There were 2 big screens, on left and right of stage. At 8 PM, MIKA wasn't on the stage yet. Just mechanistic checked the instruments. At 8.15, still was no MIKA. The big screens kept repeating the promoter ads. So far, I know MIKA is perfectionist. He couldnt be late. Bit bored and worried, we started calling MIKA. And 8.25 he came out. Frankly, no smile. Oh God, people started yelling, clapping, etc. And I was just there, shivering. Finally, I saw him. I didn't cry, I couldn't.

I started dancing and singing all along. I forgot to take a pic. He knows how to perform. He knows we've waited him. Just one word: perfect.

At 9.50 PM, he and his band showed appreciate to us. It meant, it'll over. We did encore, not because he was great but cmon less than 2 hours concert, seriously? They came out, and just sang Lollipop. And it was really over.

So, we went to rooftop. Jassmin and team thought its the way for MIKA. At rooftop, we saw more.securities saw us curiously. They acted normally, pretended no one would coming from there. Logically, if nothing will happen why they (tried) to act normally? They didn't know the power of fans.

We waited about 30 mins, finally the promoters asked securities to block our way! Each of us had 2 securities! That's, my friends, I called it moron. Finally, MIKA out and realized us. He came to us!!

****what happened to us and MIKA, I wont tell it. That's our memorable moment****

And finally, he popped in to car. He looked tired but he must perform on X Factor. Somehow, I feel MIKA regretted he left the concert for this singing stupid competition.

We're just lucky people who met him at rooftop.

I hope, next time MIKA will come again and have a good time here. I hope at that time, he won't with these shitty promoters.

P.s: one of X Factor contestant ruined his song. TWICE!

Sabtu, 06 April 2013

He was bored...

Graham Coxon said it.
You have my intention, now.
Well done, Sir, well done.

Minggu, 31 Maret 2013

Taman Impian

Gelap, lelap, terhisap
Sesak, desak, terinjak
Ragu, sedu, termangu
Diam....

Gelap, lelap, menghisap
Sesak, desak, menjejak
Ragu, laju, melagu
Hidup....

Kita semua bertemu dipersimpangan terbiasa yang berbisa.
Mencari taman bernama nyaman

Rabu, 20 Maret 2013

Tentang Diam yang Berdetak Rindu

+ Kau bertanya pada ku seperti apa rasanya rindu.
- Aku tak tau, jawabku, yang aku tau setiap kali aku merasakannya hatiku bertalu gebu.
+ Sesak kah? tanyamu lagi.
- Benar, tapi hanya ini cara yang aku tau untuk berdetak.
+ Tak ingin kah kau menyepi sejenak?, tanyamu perlahan.
- Menyepi? Coba kau sebutkan tempat yang benar-benar sepi tanpa suara yang bersemi, tanya ku sambil senyum tertahan.
+ Kau terdiam.
- Aku menghitung jeda hingga ke bilangan enam.
+ Tak ada, jawabmu dengan mata terpejam.


+ Bahkan sejak manusia berselimutkan rahim, suara sudah bertandang tanpa henti.
- Ibu mengelus perut menenangkan bayi yang menendang. Bayi diam menurut seiring gesekan kulit terdengar di kuping.
+ Ketika meluncur menghirup udara, bayi dipaksa untuk menangis hingga airmata tercucur dan suara terdengar melacur.
- Ingin ini-itu tanpa mengenal kata tertata, bayi yang kini balita, harus menjeritkan bunyian melalui suara.
+ Pada masa sederhana, suara selalu terdengar berharga tanpa merana.
- Maksud mu? tanyaku seakan pembicaraan hilang arah
+ Tak sadar kah kau semakin berusia manusia semakin mengeluarkan suara yang penuh amarah? Mereka marah karena hidup tak sesederhana dan semengerti ketika diri diselimuti rahim yang bersemayam. Hidup semakin gerah.
- Ya, sekarang dunia terlalu bising hingga berujung pening. Semua berlomba bersuara, hingga suara membuat pekak. Lalu, siapa yang akan tersentak?


- Lalu, haruskah rindu menjadi ruang diam?
+ Bukan kah kau sendiri yang mengatakan bahwa tak ada yang benar-benar sepi walaupun kita cari hingga ke tepi?
- Ya, aku tetap pada kalimat ku. Toh rindu ini juga yang menandakan aku berdetak



Kamis, 31 Januari 2013

Love Letter

This is what I wrote
Wrote it just for you 
It's not only about words
I'm sending the message to you.
It is created of sand
Wind, wave, and shiny sun
I hope it is done
And sail the message away to you
This is where the sand
Never been a time
And this is where the love I painted
It's only about you
It's the shiny sun that I kept from summer love
With every breath you took
I want to see it flows
It wishes it was in the sea tonight
And I blew it with every words
Just to make it sure it sails
I hope you will read
And keep it in your life box



 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Rabu, 12 Desember 2012

Tentang Bahagia (tak) Berevolusi


Hampir semua orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Bahkan beberapa teori muncul dari pencarian kebahagiaan tersebut. Tak heran banyak pula buku-buku fiksi maupun non-fiksi menuliskan tentang kebahagiaan tersebut.

Salah satu buku yang menulis tentang kebahagiaan tersebut merupakan buku karangan Eric Weiner yang berjudul The Geography of Bliss. Weiner menghubungkan kebahagiaan dengan keadaan geografi. Ia mengatakan bahwa di mana kita adalah sangat penting bagi siapa kita (hlm. 18). Agaknya Weiner ingin mengatakan bahwa pencarian terhadap eksistensi diri berhubungan erat dengan kebahagiaan. Tak heran para eksistensialis acap kali dianggap sebagai orang-orang pemurung yang berlawanan dengan masyarakat. Buku ini sendiri berusaha merangkum kebahagiaan 10 negara. Tentu saja pemaknaan kebahagiaan tiap-tiap negara berbeda.

Adapun yang saya tuliskan berikut ini bukan merupakan resensi terhadap buku terebut. Tulisan saya lebih merupakan tanggapan terhadap pertanyaan yang diajukan Weiner secara lalu. Ada bagian yang cukup menggelitik saya ketika Weiner berusaha menghubungkan evolusi dengan kebahagiaan:

“…Ketika mereka (ilmuwan saraf) menunjukkan gambar yang menyenangkan kepada subyek, bagian dauntelinga menjadi aktif. Ketika mereka menunjukkan gambar yang tidak menyenangkan kepada subyek, bagian otak yang lebih primitive menjadi hidup. Perasaan bahagia, dengan kata lain, tercatat di wilayah otak yang berkembang belakangan.  Hal ini menimbulakn pertanyaan menarik apakah kita secara evolusioner, jika bukan istilah pribadi, malas berjalan menuju kebahagiaan?” (hlm. 31-32)

Berdasarkan hokum evolusi (survival of the fittest), yang mengalami evolusi adalah makhluk yang tahan terhadap perubahan alam. Kita dapat lihat melalui punahnya Dinosaurus yang dianggap sebagai makhluk non-evolusioner. Jika dikaitkan dengan kemajuan IPTEK dewasa ini, perubahan alam bukanlah sesuatu yang cukup ditakutkan lagi. Berbagai penemuan, jika tidak ingin dikatakan menanggulangi bencana alam,  dapat meminimalisir korban jiwa. Maka yang dikatakan evolusi pada jaman sekarang merupakan evolusi mental (psiklogis).

Kemajuan IPTEK yang berbanding lurus dengan taraf ekonomi, menyebabkan manusia teralienasi (menggunakan istilah Marx) dengan dirinya sendiri dan masyarakat. Salah satu kekhawatiran Marx terhadap masyarakat industry-kapitalis adalah manusia yang menyamakan kebahagiaan dengan materi. Selama ini Marx dianggap oleh orang awam merupakan pemikir materialis, saya mebaca Marx sebagai pemikir yang prihatin terhadap kebohongan pemilik tanah yang menawarkan mimpi-mimpi kepada para pekerja agar terus berbakti kepadanya. Kebohongan ini menurut Marx dapat dilawan jika para pekerja sejahtera dalam ekonomi. Artinya, para pekerja harus siap melakukan revolusi terhadap kaum kapitalis. Dapat disimpulkan, kebahagiaan menurut Marx adalah tidak tertindas secara materi yang jika tidak dapat dicapai akan menciptakan perbudakan.

Jadi, masyarakat yang bahagia adalah masyarakat yang kuat secara ekonomi. Jika saya kaitkan dengan pertanyaan Weiner di atas, ada empat kemungkinan dalam masyarakat dan evolusi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut, ialah:
1. Masyarakat bahagia dengan ekonomi cukup, malas berjalan menuju kebahagiaan tidak akan mengalami evolusi karena ‘kebercukupan’ membuat mereka tidak bersiap secara mental terhadap perubahan.
2. Masyarakat bahagia dengan ekonomi cukup, merupakan masyarakat yang evolusioner karena dua aspek (bahagia dan ekonomi) membuat mereka terus mengikuti IPTEK
3. Masyarakat tidak bahagia dengan ekonomi yang tidak cukup, merupakan masyarakat evolusioner karena mereka terbiasa dengan represi perubahan. Dapat dikatakan masyarakat jenis ini merupakan masyarakat yang kuat secara mental
4. Masyarakat tidak bahagia dengan ekonomi   yang tidak cukup, merupakan masyarakat yang tidak evolusioner karena meraka tidak mempunya persiapan IPTEK yang didukung oleh ekonomi.

Pembicaraan dari awal berada di sekitar evolusi secara psikologis, kemungkinan pada nomor 3 merupakan hal yang ideal terhadap penelitian yang disebutkan Weiner di atas. Kemungkinan yang hadir pada masyarakat nomor 3 ialah mereka kuat secara mental terhadap represi perubahan. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah biasanya masyarakat yang seperti ini akan dianggap oleh psikolog/psikiater sebagai masyarakat yang sakit.

Menurut para psikolog, ada baiknya seseorang menunjukkan sedikit emosi terhadap apa yang yang merepresi mereka. Ada baiknya menangis jika merasa sedih. Ada baiknya merasa iri terhadap teman yang selalu mampu membeli gadget terbaru. Kuat terhadap represi perubahan IPTEK yang seperti ini dianggap sebagai hal negative yang perlu diobati. Sementara masyarakat nomor 3 lah yang merupakan masyarakat yang dianggap evolusioner. Jika demikian, mengapa masyarakat yang dikatakan depresi memerlukan pengobatan agar bahagia? Sementara, jika berdasarkan penelitian di atas, orang yang bahagia cenderung malas berjalan ke pintu evolusi. Apakah kita memerlukan bahagia lantas punah?





Senin, 03 Desember 2012

Tentang Waktu

Salah satu akun twitter yang saya ikuti adalah @rockygerung . Kenapa saya mengikuti akun ini? Dulu sekali, alasan satu-satunya adalah karena dia dosen saya. Lalu, kenapa saya masih mengikuti akun beliau setelah lulus kuliah? Karena kicauan beliau (menurut saya) sangat puitis ketika membicarakan suatu wacana.

Bertanggal 24 November 2012 kemarin, beliau menuliskan beberapa hal tentang Waktu. Berikut akan saya tuliskan kembali apa yang disampaikan beliau.

1. Waktu bukan garis panjang yang berlari sendiri. Tetapi himpunan titik yang berbalas nafas. Seperti cinta. #waktu
2. Waktu tidak memusuhi mereka yang menunggu. Yang terjadi adalah sebaliknya. Seperti cinta. #waktu
3. Kamar adalah waktu. Bukan ruang. Seperti cinta. #waktu
4. Waktu tidak memerlukan keyakinan. Karena ia telah menyediakan semua keinginan. Seperti cinta. #waktu
5. Waktu tidak menyembuhkan. Karena ia tidak melukai. Tetapi waktu selalu memuliihkan. Seperti cinta. #waktu
6. Waktu tidak mengalir. Ia tidak menghanyutkan apa-apa. Ia hanya menyimpan. Seperti cinta. #waktu.
7. Waktu mempertentangkan segala hal. Karena ia bersedia menjadi saksi. Seperti cinta. #waktu
8. 'Sudah waktunya' adalah hal yang tidak pernah terjadi. Waktu tidak pernah 'sudah'. Seperti cinta. #waktu
9. 'Belum waktunya' adalah pemalsuan waktu. Waktu tidak pernah menunggu 'sekarang'. Seperti cinta. #waktu
10. Waktu bukan sumber hipotesa. Ia tidak perlu membuktikan apa-apa. Waktu bukan "bila-maka". Tetapi "Nah!". Seperti cinta #waktu
11. Sewaktu-waktu, waktu dapat berhenti menjadi waktu. Seperti cinta #waktu
12. "Waktu itu"' adalah jazad-nya waktu. Seperti cinta #waktu

 
 
 
 
 
 
 

Pandora Ini Bernama Rindu

Aku tidak meragukan ingatanmu akan pertemuan hasrat kita saat hujan pertama bulan kedua-belas dua tahun lalu. Tapi, mari ku ajak kau menyelusuri lorong dan membuka laci ingatanku. Di sana ada kunci menuju pandora melankolia yang menyisakan rindu.

Mungkin kau akan bertanya kenapa pandora itu penuh akan rindu. Mari, ku ajak kau memutar gulungan mimpi-mimpi ku di malam hari. Jangan khawatir mimpi ini berujung getir, toh ini memang berawal dari brandy yang menghangatkan kata yang diiringi kerlingan mata.

Rasa-rasanya, ke-tidak-sadaran lebih memahami kita berdua saat itu. Karena setelah itu aku mulai membalas dekapan tanganmu. Kalau kita sadar, mungkin kita tak akan saling memangut seakan lapar. Kita harus berterima kasih kepada yang alpa, kalau saja dia hadir dalam bentuk ingat, kita tak akan bersemangat sampai berkeringat. Itu kan kata-katamu dulu ketika kita akhirnya menatap malu?

Tenang saja, bukan bagian itu yang paling berkesan. Pertemuan tidak segera berakhir, kita masih bersama dari malam sampai malam kembali menghampir. Tapi, waktu tak selamanya tak kejam. Kalau itu terjadi jarak yang ada tak akan mencekam. Ayo kita habiskan brandy ini lagi agar tidak ada kata yang terucap berakhir pedih, kataku.

Gulungan mimpi-mimpiku sudah hampir abis. Apa pendapatmu? Jangan kau bilang aku ini perempuan sakit yang dengan sadis menguras perasaannya sendiri. Aku rasa itu tidak jadi masalah buatku. Karena rindu ini selalu mewujud kamu.