...


Sabtu, 21 April 2012

Italian Song

Belakangan ini saya lagi seneng banget dengerin lagu-lagu berbahasa Italia. Padahal saya gak ngerti mereka ngomong apaan. Tapi, apalah arti sebuah lagu berbahasa asing kalau pendengarnya merasa 'nyaman' dengan lagunya. So, let's say fu*k to language, I mean the grammar :p


Nah, salah satu lagu Italia yang saya sukai berjudul Vivo Per Lei yang dibawakan oleh Andrea Bocelli ft Giogia.




Vivo per lei da quando sai
La prima volta l'ho incontrata
Non mi ricordo come ma
Mi entrata dentro e c'รจ restata
Vivo per lei perche' mi fa
Vibrare forte l'anima
Vivo per lei e non un e' peso

Vivo per lei anch'io lo sai
E tu non esserne geloso
Lei e' di tutti quelli che
Hanno un bisogno sempre acceso
Come uno stereo in camera
Di chi da solo e adesso sa
Che anche per lui, per questo
Io vivo per lei
E' una musa che ci invita
A sfiorarla con le dita
Attraverso un pianoforte
La morte lontana
Io vivo per lei
Vivo per lei che spesso sa
Essere dolce e sensuale
A volte picchia in testa ma
E' un pugno che non fa mai male
Vivo per lei lo so mi fa
Girare di citta' in citta'
Soffrire un po' ma almeno io vivo
E' un dolore quando parte
Vivo per lei dentro gli hotels
Con piacere estremo cresce
Vivo per lei nel vortice
Attraverso la mia voce
Si espande e amore produce

Vivo per lei nient'altro ho
E quanti altri incontrero'
Che come me hanno scritto in viso:
Io vivo per lei

Io vivo per lei
Sopra un palco o contro a un muro...
Vivo per lei al limite
...Anche in un domani duro
Vivo per lei al margine
Ogni giorno
Una conquista
La protagonista
Sara' sempre lei

Vivo per lei perche' oramai
Io non ho altra via d'uscita
Perche' la musica lo sai
Davvero non l'ho mai tradita
Vivo per lei perche' mi da
Pause e note in liberta'
Ci fosse un'altra vita la vivo
La vivo per lei
Vivo per lei la musica
Io vivo per lei
Vivo per lei e' unica
Io vivo per lei
Io vivo per lei
Io vivo
Per lei



_________________________________________________________________


I LIVE FOR HER


I live for her, you know, since
the first time I met her.
I do not remember how, but
she entered within me and stayed there.
I live for her because she makes
my soul vibrate so strongly.
I live for her and it is not a burden.

I live for her too, you know,
and don’t be jealous:
she belongs to all those who
have a need that is always switched on
like a stereo in the bedroom,
to someone who is alone and now knows
that she is also for him; for this reason
I live for her.

She is a muse who invites us
to brush her with the fingers.
Through a piano
death remains far away;
I live for her.

I live for her who often knows
how to be sweet and sensual;
sometimes she stuns you but
it is a blow that never hurts.

I live for her. I know she makes me
travel from town to town
and suffer a little, but at least I live.

It is painful when she leaves.
I live in hotels for her.
It grows with supreme pleasure.
I live for her in the vortex.
Through my voice
it expands and produces love.

I live for her, I have nothing else,
and how many others I shall meet
who, like me, have written on their faces
"I live for her."

I live for her
on a dais or against a wall
I live for her to the limit.
…also in a harsh tomorrow.
I live for her to the very edge.
Every day
a conquest;
the protagonist
will always be her.

I live for her because now
I have no other way out,
because, you know, music
is something I have truly never betrayed.

I live for her because she gives me
rests and notes with freedom.
If there were another life I’d live it,
I’d live it for her.

I live for her, music.
I live for her.
I live for her, she is unique.
I live for her.
I live for her.
I live
for her. 






Senin, 13 Februari 2012

Feeling a Gut, huh?





I feel like walking
Do you feel like coming?
I feel like talking cause
It's been a long time

Now your hair is long
And you look so thin
You're always so pale
But something has changed
You're almost a man

Four years and I still cry sometimes
First love never die
Four years and I still cry sometimes
First love never die

Long time no see
Long time wondering
What you were doing
Who you were seeing
I wish I could go back to it

I feel like walking
Do you feel like coming?
I feel like crying cause
It's been a long time

Four years and I still cry sometimes
First love never die
Four years and I still cry sometimes
First love never die

Can you feel the same?
I will never love again
Can you feel the same?
I will never love again
Can you feel the same?
I will never love again
Can you feel the same?
I will never love again

I will never love again
Can you feel the same?
(Can you feel the same?)
I will never love again
I will never love again
Can you feel the same?
(Can you feel the same?)
I will never love again
I will never love again


(SoKo - First Love Never Die)

Sabtu, 11 Februari 2012

Lelaki itu Merindukan Daratan



Tepat 1 tahun 6 bulan yang lalu kita mulai berbagi asa, berbagi cinta, berbagi hasrat.

Tak ada yang tau ketika kita menghabiskan malam selepas hujan di senja hari. Tak ada yang bergunjing ketika sinar mentari membelai tubuh telanjang kita berdua. Tak ada yang menilai ketika kasih berkunjung dihati berbeda generasi.

“Kita berbeda”, kataku. “Tak masalah”, jawabmu sambil menggenggam jemariku. “Mereka pasti menghujat”, kesahku. “Aku hanya peduli dengan kita”, tenangmu. “Bolehkah aku melepas penat hidup di pundakmu?”, tanyaku menahan haru. “Peluk lah aku sekarang, sayang”. Kemudian aku hanya dapat merasakan wangi tubuhmu.

Di malam penghujung tahun, ada kita berdua ditempat favoritmu. Ada wangi tanah segar sehabis hujan. Ada dingin yang menghingapi permukaan kulit. Ada gemerisik dedaunan berirama mencipta lagu di tengah keheningan pegunungan. Ada kau yang terus menggenggam tanganku karena kau tau aku tak kuat akan dingin. Jangan merasa bersalah, kataku sambil menatap matamu.

Saat itu kau bercerita tentang minuman yang selalu kau minum sebelum tidurmu, anggur merah. Saat itu kau bercerita tentang lautan dan bintang utara. Katamu, ada seorang lelaki yang pergi melaut sendirian karena ia percaya manusia harus belajar dari laut. Berminggu ia berada di laut, tak ada makanan yang tersisa di kapalnya. “Sialnya ia tersesat”, ujarmu. “Tidak ada kompas apalagi GPS saat itu”, candamu sambil menatap langit. Suatu ketika ia menemukan gudang tua berisikan anggur merah yang sama tuanya dengan  gudang itu. Lelaki itu tersenyum getir karena merasa menemukan temannya. Lalu, diambilnya dua botol anggur merah untuk diminum di dek. Malam itu laut terasa lebih mencekam walaupun tak ada badai. Pertama kali diteguknya anggur merah itu, ia pun tiba-tiba menangis. Pahit, ia teringat keputusannya untuk meninggalkan daratan hingga tersesat di lautan. Didecapnya lidahnya, ada menempel rasa manis. Ia pun kembali menangis teringat betapa ia merindu akan daratan. Ia memukul kepalanya dengan kedua tangannya yang gemetar, berharap terlupa akan keegoisannya. Tentu saja ia tau hal itu akan sia-sia. Kembali diteguknya anggur merah berharap akan mabuk untuk sedikit melupakan rasa sepinya. “Anggur merah bukan seperti minuman alkohol lainnya yang cepat membuatmu mabuk, sayang”, katamu sambil menghela napas. Pada saat itulah lelaki tersebut melihat ada bintang utara dimalam yang cerah. Kembali ia teringat mitos pelaut lainnya untuk menuju bintang utara apabila tersesat di lautan. Lelaki tersebut menemukan bintang utaranya. Kau pun menutup ceritamu.

“Kau tau sayang, lelaki itu aku. Tentu saja tidak secara harafiah, karena aku tidak sedang melaut. Bintang utara itu kamu”, tanganmu semakin mengenggam erat tanganku. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa genggaman tanganmu menyakitkan, tapi tidak bisa kukatakan karena pada saat itu hatiku terasa lebih sakit. Terlintas pertanyaan dipikiranku, bagaimana kalau ia telah sampai di daratan? Ia tidak akan membutuhkan bintang utara lagi. Dan aku tau kenapa kau pergi dari daratan untuk pertama kali.

Selepas malam itu, aku merasa tersudut dengan masa lalumu. Kau memang tidak pernah cerita tentang masa lalumu yang sudah menjadi pergunjingan teman-teman sosialmu yang juga sampai ke telinga teman-temanku. Aku seakan tidak peduli tentang masa lalu ketika menjadi perbincangan teman-temanku. Toh, mereka tidak mengetahui tentang kita seperti teman-teman sosialmu yang juga tidak tau. Tapi, tetap saja cerita mereka menyakitkan hatiku.

Rupanya pikiran tidak dapat disembunyikan. Kau merasa aku semakin menjauh karena akhirnya kau menyadari bahwa ceritamu secara tidak langsung mengatakan bahwa kau masih merindukan pujaan hati di masa lalumu. Beberapa temanku menyadari keuringanku, walaupun mereka tidak tau tentang kita. Suatu saat salah satu dari mereka berkata, “Kau boleh bercerita tentang hubunganmu kalau itu bisa membantu melegakan hatimu”. Aku hanya tersenyum sambil berkata “Hubunganku bukan untuk diceritakan ke kalian karena aku tau itu tak akan melegakanku. Maaf”. Mereka memelukku, aku menangis. Betapa mereka memahami sifatku yang satu ini.

Lalu, tepat 4 bulan yang lalu kita memutuskan berteman dengan pedih, kecewa, lelah. Pada saat itu kita memutuskan kembali berjalan sendiri. Kisahmu tetap menjadi perbincangan di antara teman-temanku tanpa mereka tau ada yang menahan perih.




Entah, Lalu, Apa?


Entah apa yang bermain tanpa jeda di dalam pikiran. Entah apa yg bertarung sampai raga terasa lelah. Entah apa yang menikam hingga hati mati rasa.
Mereka bilang aku gelisah, kenapa kau lupa akan satu hal ketika gelisah melanda?Harapan? Kata orang harapan menjadi teman disetiap kegelapan. Mereka bilang harapan menjadi kekuatan disaat lelah mengunjungi. Kenapa kau tak berharap?
Kalian kira aku tidak pernah berharap? Kalian kira aku tidak bertegur sapa dengan harapan? Kalian kira aku tidak mencoba dengannya?
Tidak kah kalian sadar bahwa semua ini disebabkan harapan? Tapi, semuanya berlalu hingga pilu. Menusuk hingga membusuk. Aku lelah dengan harapan.
Apa kalian tau lelahnya menjadi mawar? Ditanam dan dipuji hanya untuk menjadi saksi bisu. Kenapa tak Kau biarkan saja aku menjadi kaktus di tengah kegersangan? Setidaknya ia tidak pernah berharap untuk tumbuh ditengah kesuburan. Setidaknya ia tau kegersangan menjadi tempat hidupnya

Kamis, 01 Desember 2011

Tanpa Pengharapan

Jika waktu terus mengejar, aku tak menolak untuk terus berlari jika kita saling menggenggam. Biarlah waktu yang berhenti degan sendirinya. Pada saat itulah kita juga terdiam


Kamis, 24 November 2011

Overdose

Disudut pikiran mana lagi aku sisipkan bayanganmu yang berujung melekat dengan kenangan?

Senin, 24 Oktober 2011

This Never Happpened Before

Saya pernah bilang kalau saya, officially, in love with Keanu Reeves. Maknai saja secara harafiah ya. Dari sekian banyaknya film yang dia peranin, saya paling favorite film The Lake House. Sebenarnya sih, film ini remake dari film Korea. Yah, sendu-sendu gimana gitu. Nah, di film ini juga saya (seakan-akan) menemukan my wedding song (soon).

Saya suka banget dengan lagu This Never Happened Before yang dibawakan oleh Paul McCartney (pentolan The Beatles). Musik dan liriknya pas banget di telinga saya, catchy for my wedding song :p.
Nih, saya langsung kasih liriknya deh:


I'm very sure, this never happened to me before
I met you and now I'm sure
This never happened before

Now I see, this is the way it's supposed to be
I met you and now I see
This is the way it should be

This is the way it should be, for lovers
They shouldn't go it alone
It's not so good when your on your own

So come to me, now we can be what we want to be
I love you and now I see
This is the way it should be
This is the way it should be

This is the way it should be, for lovers
They shouldn't go it alone
It's not so good when your on your own

I'm very sure, this never happened to me before
I met you and now I'm sure
This never happened before (This never happened before)
This never happened before (This never happened before)
This never happened before (This never happened before)
This never happened before


Ps: dance scene dalam film The Lake House udah pernah saya post lho. Monggo dicek lagi