...


Rabu, 04 Mei 2011

Memorable Dancing


Okay,
I admit that I'm in love with Keanu Reeves.
Errr, I don't mean it literally, Mr. Reeves. We have distance problem, I can't stand for long distance relationship.
Lol.

Anyway, he, successfully, presented the powerful character in every movie that he played.
And the clip above is the best expression  about waiting and hopeful.
(don't compare this dance with the watcher's dance, it's totally split)

ps: i love the song too

Senin, 11 April 2011

Jika Saja Ada Cara Mencinta

Tidak ada yang salah dengan kasih
Bagaimana ia bisa disalahkan ketika suara burung
terdengar dan membangunkan sepasang kekasih
yang tertidur lelap di pelukan sang damai?

Tidak ada yang salah dengan kasih
Bukankah ia mampu menjadikan malam
terlepas dari kelam ketika kedua tangan
erat menggenggam?

Tidak ada yang salah dengan kasih
Siapa lagi yang mampu memaksa hidup
hingga esok dengan segala busuk menyerang,
beriring dengan langkah kekasih?

Tidak ada yang salah dengan kasih
Lalu kenapa kita bersembunyi?
Apakah kasih terlalu sempurna ketika
usia menunjukkan keterbatasan?

Jika tidak ada yang salah dengan kasih,
Mengapa kita bersembunyi dari keramaian yang sunyi?


(Untuk Polo Green ku, fantasi tak mampu menghalangi. Hanya ilusi yang menyendiri)

Selasa, 08 Februari 2011

Tentang Kehilangan

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis, tangan seakan kaku berbanding lurus dengan pemaknaan hidup. Entahlah, kali ini saya benar-benar menuju ketumpulan. Terbiasa saja, lalu terkutuk oleh diri sendiri. Padahal kehidupan tidak akan pernah datang untuk kedua kali. Seharusnya saya menyadari satu detik ini akan hilang sia-sia tanpa pemaknaan jika keterbiasaan mengukuhkan tahtanya.


Tentang kehilangan, ehm, sounds so sad. Eh, itu bukan terdengar menyedihkan, tapi benar-benar menyedihkan. Hidup selalu berada di kutub yang berbeda, ini atau itu, tidak pernah iti atau inu bukan? Kamu memiliki atau tidak sama sekali. Tidak ada kenyataan bahwa kamu setengah memilikinya. Dan kehilangan itu artinya kamu pernah memilikinya, baik sadar ataupun tidak. Apakah kamu akan merasa kehilangan jika kamu pernah setengah memilikinya?

Sabtu, 25 Desember 2010

Let's talk about MIKA

Mika? What's it? Actually, it's rude question. Oke, let's change it. Who's Mika?
He's the man that sing (Relax) Take it easy, Grace Kelly, Kick Ass soundtrack. No idea? Maybe, the people on Indonesia will remember the energy drink advertisement that showed the security was dancing in traffic jam. I'm pretty sure, the song is dancing around your head (everybody's gonna love today, gonna love today, gonna love today).

You've got one of his song! Yeah, I just wanna say that I'm being over super duper crazy with his taste of music, his style, his giggle. But, underline this, the one that I really care about is his work, not his pretty face. Although, i have no doubt that he is handsome. Anyway, I'm not a teenage girl fans that screaming a lot because of the cover of book. 

Why do I like his music? Everything needs a reason, for scientist. Suddenly, I feel so sad about scientist. Boring life, they can explain anything with their damn logic reason. Let me say, his voice is falsetto. And he's proud of it. By the time, I heard men singer harmonically. Phew, am I listening orchestra? And this man, Mika, he does the different way. I can't, and you too, follow his music rhyme and his voice. But, he absolutely extremely can sing. The chaos is harmonic with special way. He's Dionysious, not Apollonian. And Nietszche, the father of madness philosophy, love Dionysious.

Then, the lyrics are totally different with the music. The songs sound so happy, make you dance. But, try to stop your shaking feet for a while, watch out the lyrics. Ah, I promise, you'll shed the tears. He combines the cynicism with 'positive-think' way. Sounds so confuse with my interpretation? It's ok, that's life. Maybe, you'll get upset with the lyric because you don't understand the relation between intro and chorus. Hey, you don't write billion chapter books. The lyric is so simple, don't you wish you'll get the Shakespeare words, but hard to understand. But, you'll get the feeling. It's about feeling, dude. We do not need the logic.

He is really love about art, I think. He made and draw his cover albums with his sister. The albums showed the cartoon theme. Full of colors, so fun. I think, he never feel shy about 'children-life', some grown-up people pretend like the age. But, that kind of people is truly pathetic. Ignore what they like because of the world. And their life is becoming black or white. Some people may say the act is not 'wise thing'. They may say, life is not that easy. Hey, you think life is easy with the children? Don't use your 'grown-up' eyes to see children life. If life is that easy, like their said, why do the children cry a lot than adult?

End of the essay, this man is really out of the box. Not for sensation, but he is honest about his self. Any problem with that? 

Like I said, I'm not interesting to talk about his life. I do care about his work. In case if you need sources to gossip, you can open these links:

Selasa, 31 Agustus 2010

Terujung Fana

Untuk kamu yg berada di sana, terpisah dalam keadaan ruang dan waktu.

Aku hanya sanggup menguntai kata dan berharap menjadi makna yg mewujud di hadapanmu. Aku hanya sanggup menorehkan kisah yg terasa begitu nyata untukku. Kisah yg mungkin tdk pernah muncul di hidupmu. Dan aku hanya sanggup mengintipmu dalam dunia tak bermakna.

Aaah, kisah itu masih melekat di relung hati dan tersimpan baik di koridor pikiran. Ketika semua berawal dari tegur tak bermakna dlm dunia yg sama tak bermaknanya. Semua yg kita lakukan, menguap dan ttp tak bermakna. Tapi, aku di belahan tempat lain, menikmatinya. Menunggu semua ke-tak-bermaknaan yg kita mainkan. Mengasyikkan, menghanyutkan, dan..... Entahlah, bagiku semua perasaan yg muncul dr permainan yg melenguh ini tercantum dalam satu, ketiadaan

Bagiku, kau ini sangat indah. Terlalu sempurna untuk percikan kenyataan. Fana ini menyusuri rambutnya, begitu tak kuasa jemari ini menyentuhnya. Kejang jemari menahan gerakan. Tapi tetap aku telusuri menuju leher jenjangmu. Ah, lagi2 begitu sempurna. Ingin rasanya kedua lengan memeluk leher tersusupi rambut halusmu. Tapi, aku tau aku takkan mampu.

Ini fana, bahkan tidak mungkin nyata. Biarkanlah. Biarkan mata ini menikmati dirimu, dari sudut mata menyentuh kalbu berujung pada kebisuan

Kamis, 15 Juli 2010

Berlari

Kini aku berada di jalan, terdiam sendiri tertelan keadaan. Apakah ini jalan yang sama seperti kemarin? Entahlah, aku tiada menggeliat dalam diam. Bosan keadaan lalu berujung pada diri berlari. Menanggalkan diam dengan geliat bisu atau mencapai keramaian pada garis pengharapan, entahlah diri tetap tertelan.

Lalu lari, terus berlari, hingga bunga tiada sari. Kelelahan mengganti keadaan, tapi tetap saja tertelan. Aku boleh melepas penat sejenak, kan? Setelahnya, aku janji melanjutkan lari sendiri.

Aaaah, tapi tetap saja bosan yang meninggalkan kesan. Aku ingin dikejar lalu sejajar. Lalu menawarkan pelega sedalam telaga. Bergandengan, menguatkan jari untuk tetap mengayun. Lalu kita berlari, terus berlari. Menanggalkan entah apa atau demi mencapai garis? Aku sudah tidak perduli. Sepanjang jari bertaut menjalin, bersama....

Minggu, 13 Juni 2010

Saya Tiada dalam Hampa





Berada dalam pencarian tanpa tau apa yang dituju membuat diri kehilangan kendali atas jiwa, kosong menguasai dan menggantikan. Kebas dan helaan, kemudian, silih berganti. Menahan dan melepas sudah tak berarti. Ada yang hilang, memang, tapi kapan jiwa memiliki? Bukankah orang bijak pernah berkata, kau tidak akan pernah merasakan kehilangan jika kau tidak pernah memilikinya? Tapi, tidak demikian dengan manusia yang satu ini, Saya.

Ijinkan saya membuat prolog, walaupun nantinya akan membingungkan. Kenapa pemaknaan selalu berujung pada kata yang menghilangkan diri sebagai pemakna dengan maknaannya? Kenapa makna harus dituliskan dengan kata, bukan ditenggelamkan melalui diam yang menjadikan ekstase? Bukankah dengan demikian kita dapat berorgasme berulang kali karena kenikmatan tiada tara yang tak terungkap dalam lisan maupun tulisan?

Tapi, semua harus dimulai dari awal bukan? Walaupun belum ada akhir yang pasti, awal akan menjadi kisah dari sesuatu, bahkan dari diam yang melahirkan ekstase berujung orgasme. Bukankah dalam kisah selalu ada pemeran ? kali ini pemeran utama dalam kisah ini adalah saya. Lalu, biarkan kisah ini menjadi kisah saya yang tidak sempurna melalui kata. Selanjutnya, biarkan saya menyebut diri sebagai zombie.

Zombie ? hahaha, aneh sekali. Tapi tidak demikian dengan zombie ini, ia merasa tidak ada yang aneh dengan dirinya. Ia dengan angkuhnya menyebut dirinya manusia seutuhnya. Tidak salah memang, bukankah zombie itu manusia? Sayangnya, manusia yang tidak berkesadaran, kosong, berjalan tak tentu arah. Jika kau katakan demikian padanya, pasti akan ditolaknya mentah-mentah. Bahkan ia akan balik menyerangmu dengan kata-kata yang sedemikian dahsyatnya dan acap kali benar. Kata-kata yang seakan-akan ditanamkan dan diprogram pada diri dan otaknya. Sudahlah, lebih baik kau tidak berdebat dengannya. Bukankah dari awal sudah dikatakan bahwa ia tidak berkesadaran? Rasanya sia-sia jika kau berdebat dengannya. Ia yang bahkan tidak sadar bahwa kata-kata itu ditanamkan, ia yang bahkan tidak sadar siapa yang menanamkan.

Hingga, suatu ketika yang tidak tau kapan tepatnya, zombie ini terdiam. Tiba-tiba rasanya lelah untuk berkata-kata dan bertindak seperti biasa. Lalu, diam, hening, sepi, sunyi menyelimuti. Kosong. Ada kerinduan untuk mengisi kekosongan itu. Tapi, zombie tak tau seperti apa yang dapat mengisinya. Menakutkan, tidak ada hal yang dapat dilakukan. Bingung, kalut, berujung pada tangisan tanpa sebab. Ada apa ini Tuhan?

Tuhan? Satu kata yang sudah lama membeku dan tersimpan pada ujung hati dan pikiran yang tak terjamah. Hati? Hah, sudah lama rasanya tidak menggunakannya. Lalu, zombie membongkar ujung-tak-terjamah itu. Tuhan yang telah diberikan padanya bertanda pada agama tertentu. Ia mulai mencari Tuhan pada agama itu, tapi bukannya menenangkan malah membutakan. Rasa-rasanya Tuhan menjadi sesuatu yang jauh sekali pada label itu, kalau sebegitu jauhnya kenapa zombie merasa sangat kehilangan? Bukankah semakin jauh sesuatu semakin tipis keberadaannya dalam diri?

Ah, pasti agama yang membuatnya jauh. Baiklah, mulai saat itu zombie memiliki sendiri konsep akan Tuhan. Tapi, itu terasa kurang lengkap karena zombie baru ingin mengenalnya. Sama seperti kalau kau baru mengenal kekasihmu, yang benar-benar mengenalnya adalah keluarganya bukan ? jadi, kalau kau ingin mengenal Tuhan, setidaknya carilah agama yang benar-benar mendekati citra Tuhan dari konsepmu itu.

Zombie ini terus mencari. Hingga, ia merasa salah satu agama sangat dekat dengan konsep spiritualitasnya. Cukup tertarik, tapi hanya sebatas itu dan kekosongan masih melanda. Ada sesuatu yang terasa sangat menentang dalam agama yang satu ini, terlalu banyak Tuhan yang akan mengisi kekosongan ini. Baginya, itu akan menjadi air yang meluber pada wadah kosong dan pada akhirnya menenggelamkan wadah itu. Cuma itu yang dipermasalahkan, lainnya? Sudah sangat sesuai dengan ketenangan dan perasaan sublime akibat ekstase. Memang, zombie belum orgasme, tapi ia sudah berada di wilayah ekstase. Menyadari hal itu, ia masih mempelajari agama itu dan alam mendukungnya. Seketika itu juga, seakan-akan ada buku yang terlempar.

Buku tebal itu selesai dalam 2 hari 1 malam. Ada yang menyusup ketika mata lelah dan ingin menghentikan bacaan, semacam godaan. Jika kau percaya ada malaikat di kanan dan setan di kirimu, seperti itulah yang kurasakan. Kadang godaan menang dan menidurkan zombie, kemudian malaikat meniupkan kesadaran ketika mata terbuka dari tidurnya. Tak perlu lagi ada istilah nyawa belum terkumpul dari tidur. Dan selesailah sudah buku tersebut.

Hati berdegup kencang mengalirkan panas pada tubuh. Kulit meremang dan mata tergenang. Ada tangisan lagi saat itu, ada sepi saat itu, ada diam. Tapi kali ini, keadaan menjadi tenang, bukan bergolak dalam diam. Ada kesadaran yang mengisi relung jiwa, ketika egoisme akan air yang menenggelamkan wadah terbantahkan.

Kalian bisa membaca sendiri buku itu, karena pemahaman selalu berbeda. Kali ini pemahaman itu berujung pada makna bilangan. Agama yang sangat dekat dengan konsep zombie ini mengatakan bahwa 1=0, 0=1. Dulu, zombie memahami bahwa ini merupakan konsep alam pada agama itu. Dan ia setuju. Zombie selalu mengalami sublime ketika berhadapan dengan alam yang luas, perasaan yang tidak dapat dijelaskan sampai sekarang. Ketika perasaan itu muncul, manusia (1) menjadi tak bernilai (0) di hadapan alam, tetapi dari alam lah (0) manusia menjadi ada (1).

Kemudian buku ini memainkan konsep itu terhadap Tuhan bagi agama tersebut. rumusan itu buatan manusia yang menjadikan 0 selalu tidak memiliki arti. Kemudian 1 menjadi bilangan yang keliatannya angkuh, karena Cuma dengan 1 jugalah ia dapat dibagi. Sementara bilangan lain selalu dapat dibagi oleh 1. kemudian pemahaman ini menunjukkan Tuhan sebagai yang 1, yang berkuasa atas yang lainnya. Tuhan yang Esa menjadi terpisah dan jauh karena kekuasannya. Manusia terkadang lupa ada bilangan 0 yang dilupakan. Bahkan jika 0 dimasukkan dalam deretan bilangan (0,1,2,3,4,5,6,7,8,9), jumlah dalam deretan itu tidak sesuai dengan deretan terakhir. Inilah, kenapa 0 dibuang jauh setelah pemahamannya berujung pada kekeliruan. Dan konsep menjadi 1≠0, 0≠1.

Titik (●) yang selalu bermakna pada akhir menggambarkan 0, yang kemudian kita simpulkan karena bentuk mereka sama yaitu lingkaran. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah apakah dalam lingkaran ada akhir? Apakah ia memiliki ujung seperti layaknya 1? Tentu saja tidak, 1 memiliki ujung yang bisa bermakna pada awal dan akhir. Lalu, dapatkah Tuhan berakhir? Dapatkah 1 menjadi simbol Tuhan? Bukankah Tuhan lebih baik disimbolkan 0?

Baiklah, mari kita ganti Tuhan sebagai yang 0. Tuhan tetap terasa jauh, karena Ia tidak dapat dimasuki oleh ciptaannya. Ia tertutup. Konsep tetap menjadi 1≠0, 0≠1.  Belum 1=0, 0=1. Hanya saja, tambahannya menjadi 1=manusia, 0=Tuhan. Nah, dalam agama yang membuat zombie tertarik, ketika dikatakan bahwa manusia yang memiliki kesadaran akan Pencipta akan menyatu. Karena sebenarnya Ia dan kita menyatu dalam kesadaran murni manusia. Indah ya, ketika Ia benar-benar dekat, tidak jauh dan angkuh dengan segala ke-Ia-annya.

Masih inginkah kau menyimbolkan Tuhan dengan 1 ataupun 0? Ada baiknya jika kita membuat angka yang khusus buat Tuhan. Menurut zombie, bilangan itu menggabungkan 1(manusia) dengan 0(Tuhan). Jadinya, seperti ini:


(Maaf, gambarnya jelek. Saya tidak ahli dalam menggambar)

Hei, lihat tidak bagaimana bilangan ini tidak berakhir tapi memiliki awal. Bilangan ini terus membesar, becoming. Pemahaman selanjutnya adalah spiritualitas manusia selalu ‘menjadi’, tidak pernah selesai. Ada proses dalam spiritualitas itu yang menghubungkan manusia dengan alam agar mencapai Pencipta. Heidegger juga memakai konsep ini dalam penjelasan Das Sein. Bukankah keyakinan ini begitu indah?

Berawal dari buku, proses spiritualitas zombie akan berlangsung. Terima kasih, Bilangan Fu. Sang zombie tetap mempelajari spiritualitas itu. Terima kasih, Hindu