...

Kamis, 27 November 2014

Feeling Safe

Kata mereka, perasaan nyaman muncul ketika kita bersama dengan orang yang sangat mengenal dan memahami kita. Kata mereka, orang yang memahami kita merupakan orang yang menghargai kita. Kata mereka, orang yang menghargai kita tidak akan membuat kita terluka dan terasing. Itu kata mereka. Bukan kata saya.

Ada hal yang sangat saya benci dalam memulai suatu hubungan. Hubungan yang saya maksud bukan hanya sekedar pacaran atau persahabatan. Hubungan yang saya maksud adalah hubungan yang mengikutsertakan ikatan emosional. Ketika memulai suatu hubungan, tak jarang terjadi pencampur-adukkan suatu hubungan dengan yang lainnya.

Contohnya, saya berhubungan dengan laki-laki yang secara sengaja maupun tidak sengaja akan ikut serta dalam hubungan-hubungan lain. Laki-laki ini bisa saja meminta saya untuk menemaninya ke suatu acara. It means, acara tersebut adalah hubungan (relasi) dia yang berada di luar saya. Why on earth I should accompany him?

Contoh lainnya, saya (dulu) memiliki teman sekolah yang kemana-mana atau apapun harus melakukannya secara bersama-sama. Karena terlalu bersama, maka teman mantan pacarnya harus diketahui juga.

Karena pencampur-adukkan hubungan inilah, saya merasa tidak nyaman dengan orang yang saya kenal. Coba bayangkan, saya berteman dengan A yang mengetahui latar belakang saya berhubungan dengan si C, D, bahkan Z. Ketika bertemu dengan A, saya tidak bisa lagi bercerita dengan nyaman tentang hal-hal yang membuat kita menjalin hubungan. Saya merasa tidak nyaman ketika orang-orang yang berhubungan dengan saya melihat saya dengan latar-belakang yang sudah mereka ketahui.

Pernah ada satu kejadian yang membuat saya menjadi tidak nyaman dengan orang yang saya kenal. Jadi suatu hari saya bertemu dengan A, teman yang sudah lama tidak berjumpa. Pertemuan, yang menurut saya menjadi menyenangkan karena bisa bernostalgia ataupun membuat nostalgia, tiba-tiba menjadi awkward ketika dia menanyakan pacar saya. Saya jelas bingung, darimana A yang bertahun-tahun tidak bertemu dengan saya mengetahui pacar saya pada saat itu. Cerita punya cerita, pacar saya dan teman mantan pacar A merupakan roomate semasa kuliah di luar negeri. Bukan, ini bukan tentang sempitnya dunia. Ini tentang kenapa mereka berusaha mengatakan kepada saya, "gw kenal dengan relasi lo yang lain".

Masalahnya adalah memangnya kenapa kalau mereka saling mengenal tanpa menyampaikan hal tersebut pada saya, seakan-akan saya harus mengetahuinya? Bukankah A dapat menghakimi saya hanya melihat gaya pacaran saya? Saya pernah dihakimi memiliki sugar daddy hanya karena berhubungan dengan pria yang umurnya jauh di atas saya. Yang ada sampai sekarang, saya kadang dianggap "nakal" oleh mereka yang menghakimi. Padahal mereka tidak mengetahui bahwa pria ini single (memutuskan tidak ingin menikah) dan menghormati saya sebagai perempuan. Menyedihkan juga sih ketika mengetahui orang-orang yang kenal malah menyakiti karena terlalu ingin mengenal.

Pada akhirnya saya merasa nyaman berhubungan dengan mereka yang tidak melihat latar-belakang saya dan berusaha untuk tidak mencampur-adukkan hubungan-hubungan yang ada. Saya lebih nyaman dan bebas di sekeliling orang-orang asing yang tidak memperdulikan siapa saya. Saya lebih memaklumi jika orang-orang asing ini menyakiti saya karena saya tau mereka tidak mengenal saya. Karena aneh rasanya ketika orang-orang yang merasa kenal malah menyakiti

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.