...

Senin, 24 Oktober 2011

This Never Happpened Before

Saya pernah bilang kalau saya, officially, in love with Keanu Reeves. Maknai saja secara harafiah ya. Dari sekian banyaknya film yang dia peranin, saya paling favorite film The Lake House. Sebenarnya sih, film ini remake dari film Korea. Yah, sendu-sendu gimana gitu. Nah, di film ini juga saya (seakan-akan) menemukan my wedding song (soon).

Saya suka banget dengan lagu This Never Happened Before yang dibawakan oleh Paul McCartney (pentolan The Beatles). Musik dan liriknya pas banget di telinga saya, catchy for my wedding song :p.
Nih, saya langsung kasih liriknya deh:


I'm very sure, this never happened to me before
I met you and now I'm sure
This never happened before

Now I see, this is the way it's supposed to be
I met you and now I see
This is the way it should be

This is the way it should be, for lovers
They shouldn't go it alone
It's not so good when your on your own

So come to me, now we can be what we want to be
I love you and now I see
This is the way it should be
This is the way it should be

This is the way it should be, for lovers
They shouldn't go it alone
It's not so good when your on your own

I'm very sure, this never happened to me before
I met you and now I'm sure
This never happened before (This never happened before)
This never happened before (This never happened before)
This never happened before (This never happened before)
This never happened before


Ps: dance scene dalam film The Lake House udah pernah saya post lho. Monggo dicek lagi

Kamis, 20 Oktober 2011

Kau inginkan kenangan? Katakan saja selamat tinggal....


"Dan aku, sayang, memilih untuk bertahan melihat itu semua. Memilih untuk mengingat wajah mu yang akan menjadi kenangan. Kenangan memang menyakitkan, karena berawal dari perpisahan. Jika tidak berpisah, kita tak akan mengenang, Sayang" (quote by me)
Sounds so tragic? Tapi ini pula yang saya pikirkan ketika mendengar kata kenangan.
Bukankah setelah tidak bersama kita menggali paksa sudut pikiran hanya demi memutar sebuah kenangan?

Jadi, selamat tinggal, Sayang. Selamat datang kenangan




Selasa, 18 Oktober 2011

Kenapa harus berkata ketika mementingkan rasa?

It's been months saya tidak menulis. Bukan, bukan karena saya sedang penat berujung muak pada kata.
I blame it on twitter. Yah, semua ide belakangan ini saya paksakan menjadi 140 karakter.
Sangking sedikitnya karakter yang disediakan, saya menuliskan sepotong-sepotong ide (yang berawal pada
rasa) yang bikin saya bingung sendiri darimana awal ide tersebut. Kebiasaan ini bikin cara ber
pikir saya tidak runut dan sistematis. Sounds so logic. Mungkin ini juga yang menyebabkan sebagian pengguna
twitter berisikan orang-orang yang galau. Galau yang entah kenapa sebabnya karena tidak bisa dirunut.


Well, kesimpulan ini saya dapat seiring dengan ketikan. Tidak direncanakan. Sepanjang aliran
kata, sepanjang itu pula ide mengalir. Tapi, haruskah kata menjadi raja untuk mendapatkan pengakuan?
Pengakuan? Kenapa pula kita menjadi orang yang gila diakui? Apakah semua harus diakui termasuk rasa?


Ada sebuah kalimat dari novel berjudul Brida karya Paulo Coelho yang saya kutip mengatakan, "Saya tidak pernah memilikimu. Bukankah dengan demikian saya tidak pernah kehilangan dirimu?". Jika ingin dihubungkan dengan kata dan pengakuan, maka saya ingin menyimpulkan bahwa ketika seseorang menyatakan perasaannya melalui kata (dengan kata lain membiarkan orang yang disukainya tau), pernyataan itu tak ubahnya menginginkan suatu pengakuan melalui jawaban dari yang dituju. Jawaban ya, tidak, bahkan diam pun merupakan respon dari pengakuan tersebut.

Lalu, jika itu tentang rasa, kenapa harus ada pengakuan? Bukankah dengan ketidak-pengakuan seseorang tidak akan pernah merasakan kehilangan? Bukankah dengan demikian ia terus mampu memiliki rasa tersebut tanpa takut kehilangan setelah memilikinya dari pengakuan kata?


It depends on you. Seperti yang saya katakan, pernyataan melalui kata pasti menginginkan pengakuan. Tak ubahnya pernyataan kata saya di atas. Bingung? Saya juga :)

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.