...

Sabtu, 28 November 2009

Dengarkan saja

Mari kita mulai cerita ini, cukup kalian dengarkan saja
Karena saya mengerti, kalian tidak akan pernah merasakan sama seperti saya.
Seperti juga saya terhadap kalian.
Sudahlah, mari kita mulai saja cerita saya ini.

Sungguh, saya tidak tahu harus memulai darimana.
Karena semua cerita saya ini hanya isyarat. Dan isyarat ini hanya untuk saya dan bagi saya.
Sungguh, saya takut kalau ia menangkap isyarat ini. Saya takut ia menangkap asa ini, lalu berlalu dengan asa yang terpendam.

Cukup, cukup saya saja yang merasakan isyarat ini.
Cukup, cukup saya saja yang merasakan asa ini.
Saya tidak ingin ia tahu, saya tidak ingin ia merasa.
Biar, biar saya saja yang sakit atas isyarat dan asa ini.
Biar saja saya sakit, ketika isyarat ini terhimpit oleh asa yang sakit.
Karena saya terlalu takut akan kekecewaan,
Karena saya terlalu takut akan penolakan.

Saya tidak berani menyampaikan asa. Saya tidak beran menyampaikan rasa.
Cukup bagi saya untuk melihat sang asa.
Tanpa diketahui, tanpa dirasakan.
Saya sakit ketika melihat ia dengan asa lainnya, saya pedih.
Saya ingin berteriak

Hei, sang asa, tahu kah kau ada saya yang mengharapkan asamu, ada saya
yang sakit akan asa?

Tapi, saya tak berani berkata bahkan berteriak

Andai saja isyarat ini cukup membuat asa sadar.
Tunggu, saya tak ingin sang asa sadar akan isyarat.
Saya hanya ingin sang asa tersimpan indah dalam ingatan.
Biarlah saya bercinta dengan ingatan akan sang asa.
Biarlah saya menimpan dan merekat sang asa,
dalam rasa, pikiran, dan asa sedih ini.
Cukup bagi saya........

Selasa, 17 November 2009

What a (love) Life!

Di tengah himpitan tugas dan UTS yang datang bertubi-tubi, saya menyempatkan menonton dvd (lagi). Film kali ini merupakan salah satu film yang direkomendasikan oleh dosen saya, jenis film Eropa. Film, yang menurutnya, lebih berkualitas daripada film-film Hollywood. Maka, saya pun latah menonton film Eropa yang berjudul L’Appartement. Setelah menyelesaikan film ini, saya Cuma bisa berkata “What a Life!”.

Ceritanya bersetting di Paris, dan tentu saja bertema cinta-cintaan. Tapi, tunggu dulu, tema cinta-cintaan kali ini tidak seperti tema cintaan alaHollywood, yang pada akhirnya jatuh pada kategori drama cengeng kacangan. Mungkin, dengan latar belakang Paris, tema cinta kali ini lebih menarik. Alasannya tentu saja dengan adanya prejudice kita,atau saya, yang menganggap Paris itu romantis. Didukung pula dengan pemeran yang membuat saya ‘meleleh’. Apakah film ini Cuma bermain di visual untuk dijual? Menurut saya tidak, tidak ada efek visual yang berlebihan di sini. Paris memang digambarkan dengan romantis, mungkin kalau di Asia kita bisa mengambil drama korea sebagai perbandingan suasana romantisnya.

Back to the theme, kenapa saya sampai mengucapkan What a life setelah menontonnya? Baiknya saya menceritakan ringkasan filmnya dulu. Film ini menceritakan tentang kisah cinta Lisa dan Max yang mendapatkan banyak rintangan yang disebabkan oleh teman Lisa, Alice. Ia cemburu dengan kedekatan Lisa dan Max, karena dia (mungkin) menyukai Max. Ada salah satu ucapannya yang sangat membuat saya tertohok, “Ketika kamu mencintai seseorang, kamu tidak tahu ada yang sakit melihatnya”. Well, saya yang pada awalnya menyalahkan Alice, karena membohongi dua orang yang saling mencintai hingga akhirnya pisah, mau tidak mau berpihak pada Alice. Mungkin karena saya juga pernah berada di posisi yang sakit itu. Akan tetapi, sikap saya hanya tertawa ketika sakit. Ya tentu saja untuk menutupi sakit yang saya rasakan.

Alice yang tidak mau sakit dan menyerah ini melakukan satu kebohongan yang diikuti dengan kebohongan lainnya demi mendapatkan Max.  Apa salahnya? Tentu saja, menurut saya, itu tidak akan pernah salah. Jika saya memilki keberanian seperti Alice saya pun akan berusaha melakukan hal-hal tersebut. ekstremnya, saya tidak akan memandang apakah lawan saya itu teman saya. Pada titik ini saya kembali merenungkan, apa makna cinta sebenarnya? Apakah memang harus diperjuangkan dengan semua cara atau menyerah dengan keadaan, tidak terlalu memaksa yang pada akhirnya pemaksaan itu saya anggap sebagai nafsu? Aah, sepertinya saya perlu merenungkan kembali cinta seperti apa yang saya harapkan dan inginkan.

Lalu, pada akhirnya, Alice mendapatkan cinta Max. Lisa yang juga berusaha mencari Max, karena mereka berpisah sekian tahun, pada akhirnya tidak menemukan Max. Ia malah tewas karena cinta lainnya (What a Life!). padahal, selalu ada adegan-adegan selisih jalan ala India yang membuat saya gemas, kenapa mereka tidak pernah ketemu lagi padahal sudah sedemikian dekatnya. Kembali ke Alice dan Max, apakah mereka bersatu? Akhir cerita, mereka tidak bersatu karena tunangan Max yang menghampiri, tepat sedetik sebelum mereka bersatu. Alice hanya bisa memandang dengan ekspresi yang tidak dapat saya deskripsikan melalui kata, hanya bisa dirasakan.

Akhirnya, saya sampai pada perenungan-perenungan yang membuat saya memantapkan bahwa kehidupan itu sangat menyakitkan. Apakah kita harus berjuang demi sesuatu yang kita harapkan? Atau apakah kita harus diam saja, tidak terlalu ngotot? Ketika semuanya tercapai, apakah itu yang kita harapkan sebenarnya? Ketika semuanya tidak seperti yang kita harapkan, apa yang dapat kita perbuat? Apakah kehidupan yang akan datang selalu sesuai dengan apa yang kita perjuangkan? Bukankan ada ppatah yang mengatakan apa yang kita tanam itulah yang kita tuai? Apakah memang demikian adanya? Aaah, sungguh hidup ini membingungkan. Satu film membuat kehidupan ini saya pertanyakan lagi. Benar-benar saya hanya dapat mengatakan WHAT A LIFE!

Mengenai Saya

Foto saya

I always asking about Who am I. What's life and what for. I never know who I am and it makes me know that I never know the other. And finally, life is all about pain. And the pain is about the process. Life is how, not what.